Kabupaten Aceh Tamiang | Banjir kembali menggenangi permukiman warga di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, sejak Minggu, 11 Oktober 2026, sekitar pukul 19.00 WIB. Genangan meluas setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut, sehingga sejumlah desa terdampak dan sebagian warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Kondisi ini menambah kewaspadaan masyarakat karena banjir terjadi di beberapa wilayah secara bersamaan.
Berdasarkan laporan awal, banjir melanda sembilan kecamatan, yaitu Tenggulun, Kejuruan Muda, Karang Baru, Bendahara, Bandar Pusaka, Tamiang Hulu, Seruway, Rantau, dan Kota Kualasimpang. Di sejumlah lokasi, air menggenangi jalan, halaman, serta rumah warga. Meluasnya genangan juga berpotensi mengganggu aktivitas harian, mobilitas masyarakat, dan pelayanan publik apabila ketinggian air terus bertambah.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Bahron Bakti, menyampaikan bahwa banjir tersebut berkaitan dengan hujan deras yang mengguyur Aceh Tamiang. Curah hujan yang tinggi menyebabkan air meningkat dan menggenangi permukiman di berbagai desa. Pernyataan itu menegaskan bahwa intensitas hujan menjadi pemicu utama meluasnya banjir sejak Minggu malam, meskipun perkembangan kondisi di lapangan tetap perlu dipantau.
Petugas dan unsur terkait terus melakukan pemantauan terhadap wilayah terdampak, sekaligus mendata kebutuhan warga yang mengungsi. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan kenaikan debit air, terutama mereka yang tinggal di sekitar aliran sungai dan kawasan rendah. Warga juga diharapkan mengikuti informasi resmi mengenai evakuasi, kondisi cuaca, serta akses menuju lokasi pengungsian. Penanganan darurat diprioritaskan untuk keselamatan penduduk dan pemenuhan kebutuhan dasar selama banjir masih berlangsung.
Di Kecamatan Tenggulun, banjir merendam lima desa, yaitu Simpang Kiri, Tenggulun, Rimba Sawang, Sumber Makmur, dan Tebing Tinggi. Desa Simpang Kiri mencatat 50 kepala keluarga terdampak, dengan ketinggian air sekitar 60 sentimeter. Di Desa Tenggulun, sebanyak 30 kepala keluarga dilaporkan mengungsi. Sementara itu, Desa Sumber Makmur mencatat 10 kepala keluarga terdampak, dengan genangan mencapai sekitar satu meter. Data untuk Rimba Sawang dan Tebing Tinggi masih menjadi bagian dari pendataan lapangan.
Di Kecamatan Kejuruan Muda, banjir terjadi di Desa Alur Selebu dan Tanjung Genteng. Sebanyak 25 kepala keluarga dari Alur Selebu dilaporkan mengungsi. Kondisi di Tanjung Genteng masih dipantau untuk memastikan jumlah warga terdampak serta kebutuhan penanganan. Pendataan tersebut diperlukan agar bantuan dan evakuasi dapat diarahkan kepada masyarakat yang paling membutuhkan.
Genangan juga melanda Desa Sukajadi dan Tanjung Karang di Kecamatan Karang Baru. Ketinggian air di Sukajadi diperkirakan sekitar 30 sentimeter, sedangkan jumlah warga terdampak masih dalam proses pendataan. Hingga informasi terakhir, belum ada laporan warga Tanjung Karang yang mengungsi. Di Kecamatan Bendahara, banjir menggenangi Desa Marlempang dan Balai. Desa Balai mencatat 55 kepala keluarga terdampak dengan tinggi air sekitar 30 sentimeter, sementara tidak terdapat laporan pengungsian di Marlempang.
Di Kecamatan Tamiang Hulu, banjir berdampak pada Desa Rongoh dan Bandar Khalifah. Air di Rongoh mencapai sekitar 1,5 meter sehingga 30 kepala keluarga harus mengungsi. Adapun di Bandar Khalifah, sebanyak 150 kepala keluarga terdampak. Perbedaan ketinggian genangan dan jumlah warga terdampak menunjukkan perlunya pemantauan berkelanjutan, terutama di wilayah dengan air yang terus meningkat atau akses evakuasinya terbatas.
Dampak banjir di Aceh Tamiang tidak hanya dirasakan oleh wilayah yang sebelumnya telah dilaporkan mengalami pengungsian. Di Kecamatan Bandar Pusaka, banjir melanda Desa Babo, Desa Batu Badulang, dan Desa Pengidam. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa genangan telah menjangkau sejumlah permukiman di kecamatan itu, meskipun informasi mengenai jumlah warga terdampak di masing-masing desa masih terus dihimpun.
Untuk Desa Babo, hingga data yang tersedia belum terdapat laporan mengenai warga yang mengungsi. Ketiadaan laporan tersebut tidak serta-merta berarti seluruh warga berada dalam kondisi aman, karena pemantauan dan pendataan lapangan masih berlangsung. Sementara itu, informasi mengenai kemungkinan pengungsian maupun kebutuhan warga di Desa Batu Badulang dan Desa Pengidam juga belum disertai angka yang dapat dijadikan acuan pasti.
Genangan turut dilaporkan terjadi di Desa Gelung, Kecamatan Seruway. Di Kecamatan Rantau, banjir berdampak pada Desa Alur Manis, sedangkan di Kecamatan Kota Kualasimpang, genangan tercatat di Desa Sriwijaya. Perkembangan di wilayah-wilayah tersebut perlu dipantau secara berkala, terutama untuk mengetahui kondisi akses, rumah warga, fasilitas umum, serta kebutuhan penanganan darurat.
Sejumlah warga di wilayah terdampak telah mengungsi sebagai upaya menyelamatkan diri dari risiko banjir yang meluas. Namun, jumlah keseluruhan warga terdampak dan total pengungsi dari seluruh desa belum dapat dipastikan karena proses pendataan masih berjalan. Oleh sebab itu, angka untuk desa yang belum memiliki laporan resmi tidak sepatutnya disimpulkan atau ditambahkan. Pemerintah daerah dan petugas terkait masih perlu memperbarui data berdasarkan laporan lapangan agar informasi mengenai cakupan banjir, kebutuhan bantuan, serta lokasi pengungsian dapat disampaikan secara akurat.
BPBD Kabupaten Aceh Tamiang terus melakukan penanganan dan pemantauan terhadap perkembangan banjir yang melanda sejumlah wilayah. Kegiatan koordinasi dan persiapan penanganan dilakukan di bengkel kerja BPBD, sembari petugas memantau kondisi lapangan secara berkala. Pemantauan tersebut mencakup perubahan ketinggian air, keadaan lingkungan terdampak, serta kebutuhan warga di lokasi yang masih menghadapi genangan.
Petugas juga melaksanakan pendataan dan observasi untuk memperoleh gambaran terbaru mengenai dampak banjir. Data warga terdampak, kondisi permukiman, serta perkembangan situasi di setiap wilayah dihimpun sebagai bahan penyusunan laporan rutin. Pembaruan informasi dilakukan secara berkelanjutan karena kondisi air tidak seragam di seluruh kawasan Aceh Tamiang.
Di sebagian wilayah, air mulai berangsur surut sehingga kondisi genangan perlahan mengalami perbaikan. Namun, debit air di lokasi lain masih bertambah dan memerlukan perhatian serta pemantauan lebih lanjut. Perbedaan kondisi tersebut membuat pengamatan lapangan tetap dilakukan untuk mengikuti perubahan situasi dari waktu ke waktu.
Hingga laporan terakhir, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan akibat banjir. BPBD Kabupaten Aceh Tamiang masih melanjutkan pemantauan terhadap kondisi lapangan dan pendataan warga yang terdampak. Informasi dari petugas di lapangan terus dihimpun untuk memperbarui laporan rutin mengenai perkembangan air dan kondisi masyarakat di wilayah banjir.

