Jakarta | Vokalis Avenged Sevenfold, Matt Shadows, menyatakan akan memeriksa persoalan perubahan tata letak panggung konser bandnya di Jakarta International Stadium (JIS). Respons tersebut disampaikan setelah muncul polemik mengenai denah konser yang berlangsung pada 10 Oktober 2026. Matt menanggapi pembahasan itu melalui kolom komentar Reddit di komunitas penggemar Avenged Sevenfold pada Selasa, 13 Oktober.
Dalam komentarnya, Matt mengatakan pihak band akan mengecek persoalan tersebut kepada promotor. Pernyataan itu menjadi respons langsung terhadap kekhawatiran penggemar terkait perubahan pengaturan area konser. Ia tidak memberikan rincian lebih jauh mengenai penyebab perubahan, proses pengambilan keputusan, ataupun dampak yang mungkin dirasakan penonton. Karena itu, komentarnya sejauh ini menunjukkan bahwa persoalan tersebut akan ditanyakan kepada pihak promotor, bukan bahwa solusi atau penjelasan resmi telah ditetapkan.
Matt juga menyebut bahwa band sebelumnya memiliki pengalaman baik bekerja dengan promotor tersebut dan Midas. Penyebutan pengalaman terdahulu itu memberi konteks pada tanggapannya, sekaligus memperlihatkan bahwa pemeriksaan yang dijanjikan akan dilakukan dalam hubungan kerja yang sebelumnya dinilai positif. Namun, ia tidak menguraikan lebih lanjut bagaimana pengalaman itu berkaitan dengan perubahan denah kali ini. Matt juga belum menyampaikan hasil komunikasi dengan promotor atau menyebut langkah lanjutan yang telah disepakati.
Respons tersebut muncul beberapa hari setelah konser digelar di JIS dan percakapan mengenai tata letak beredar di kalangan penggemar. Komentar Matt memberi tanda bahwa ia mengetahui isu yang dibicarakan dan bersedia meminta klarifikasi dari promotor. Bagi penonton yang mempertanyakan perubahan, tindak lanjut dari pihak terkait dapat membantu menjelaskan bagaimana pengaturan acara berlangsung. Meski demikian, sampai respons itu disampaikan, Matt hanya menyatakan rencana untuk memeriksa persoalan tersebut. Belum ada keterangan tambahan dalam komentarnya tentang kapan pemeriksaan akan dilakukan, apa yang akan ditanyakan, atau apakah band akan menyampaikan pembaruan setelah memperoleh jawaban. Dengan demikian, perhatian saat ini tertuju pada klarifikasi yang mungkin diperoleh dari promotor mengenai perubahan tata letak konser Avenged Sevenfold di Jakarta.
Menjawab pertanyaan pengguna tentang jumlah penonton konser Avenged Sevenfold di Jakarta, Matt Shadows menjelaskan bahwa kapasitas yang mereka daftarkan pada awalnya berada di kisaran 40 ribu orang. Angka tersebut merupakan rencana awal, bukan jumlah akhir yang sudah dipastikan sebelum acara berlangsung. Karena itu, kapasitas yang tercantum dalam perencanaan tidak sepenuhnya menggambarkan berapa banyak orang yang pada akhirnya hadir. Matt juga mengaitkan perubahan jumlah penonton dengan pengaturan panggung dan ketersediaan tiket menjelang hari konser.
Menurut Matt, ketika hari acara semakin dekat, masih ada tiket Cat 1 yang belum terjual. Kategori tersebut memiliki harga lebih tinggi dibandingkan pilihan tiket yang kemudian dibuka, sehingga sebagian tiketnya belum terserap. Ia menjelaskan bahwa panitia sebenarnya dapat menggeser panggung sedikit ke belakang. Penyesuaian posisi itu memungkinkan area tambahan dibuka dan tiket baru ditawarkan kepada penonton. Namun, tempat duduk atau area tambahan tersebut memiliki pandangan dari samping terhadap panggung, bukan sudut pandang yang sama dengan kategori utama. Sebagai konsekuensinya, tiket tambahan itu dijual dengan harga lebih murah.
Setelah penghitungan akhir, jumlah penonton tercatat sekitar 43 ribu hingga 44 ribu orang. Matt menyebut kisaran tersebut sebagai angka akhir, sehingga tidak tepat mengubahnya menjadi satu jumlah pasti. Perbedaan dari rencana awal terjadi karena kapasitas yang mula-mula disiapkan sekitar 40 ribu orang kemudian bertambah melalui pembukaan tiket tambahan. Penjelasannya juga menunjukkan bahwa penyesuaian tata letak bukan sekadar perubahan denah: posisi panggung dapat memengaruhi bagian yang bisa dijual serta pengalaman pandang penonton. Dengan demikian, jumlah akhir yang lebih besar tetap berkaitan dengan pengaturan ruang dan jenis tiket yang tersedia, bukan semata-mata kapasitas awal yang telah didaftarkan. Kisaran 43 ribu sampai 44 ribu itu menjelaskan hasil setelah tiket dan susunan area diperhitungkan, sementara angka 40 ribu menggambarkan rencana sebelumnya. Kedua angka tersebut merujuk pada tahap yang berbeda dalam persiapan dan pelaksanaan konser di Jakarta.
Polemik mengenai perubahan denah konser Avenged Sevenfold di Jakarta bermula ketika penonton membandingkan gambar tata letak yang ditampilkan saat penjualan tiket dengan susunan area yang terlihat setelah transaksi berlangsung. Perbedaan itu segera menarik perhatian, terutama karena denah awal menjadi rujukan calon pembeli dalam memilih kategori dan memperkirakan posisi mereka terhadap panggung. Sejumlah pemegang tiket Cat 1 Center menyampaikan keluhan setelah mengetahui posisi yang mereka peroleh tidak lagi tampak berada di bagian tengah seperti yang mereka pahami dari gambar penjualan. Dalam tampilan yang kemudian beredar, kursi atau area mereka terlihat berada di tribun kiri maupun kanan. Situasi ini memunculkan pertanyaan mengenai kesesuaian informasi visual dengan penempatan aktual penonton.
Bagi pemegang tiket, label “Center” dapat membentuk ekspektasi bahwa posisi yang dibeli berada di tengah, sehingga perubahan tampilan denah menimbulkan kebingungan dan kekecewaan. Penonton pun membandingkan informasi yang tersedia pada waktu pembelian dengan susunan yang muncul kemudian, lalu mempertanyakan apakah kategori yang sama masih menempati area sebagaimana tergambar semula. Keluhan tersebut menjadi pokok perbincangan di media sosial dan mengundang perhatian terhadap kejelasan informasi sebelum konser. Namun, gambar denah yang beredar tidak dengan sendirinya menjelaskan alasan perubahan ataupun memastikan bagaimana setiap tiket akan ditempatkan pada hari acara. Karena itu, persoalan utamanya adalah perbedaan gambaran awal yang menjadi acuan pembelian dan tata letak yang ditampilkan setelah penjualan.
Dalam unggahan penjualan, Ravel Entertainment telah mencantumkan keterangan bahwa tata letak tempat duduk dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya. Penyelenggara juga menjelaskan bahwa denah yang disajikan hanya berfungsi sebagai acuan visual, sehingga ukuran area dan konfigurasi aktual dapat berbeda dari ilustrasi. Selain itu, pandangan penonton ke arah panggung mungkin terhalang sebagian oleh FOH (front of house) atau struktur teknis lain. Keterangan tersebut menjadi bagian dari informasi yang perlu diperhatikan saat membeli tiket, tetapi kemunculan perbedaan denah tetap mendorong penonton meminta kejelasan lebih lanjut. Polemik pun berpusat pada bagaimana ekspektasi yang dibentuk oleh kategori dan gambar awal bertemu dengan penataan ruang konser yang dapat mengalami penyesuaian.
Penjualan tiket konser Avenged Sevenfold di Jakarta dijadwalkan berlangsung dalam dua tahap yang dibuka oleh Ravel Entertainment. Tahap pertama adalah Deathbat Pre-sale pada 6 April 2026, sedangkan penjualan umum atau general sale menyusul pada 8 April 2026. Informasi jadwal tersebut memberi konteks mengenai proses pembelian tiket sebelum perhatian kemudian tertuju pada perubahan denah konser dan perbincangan seputar penghitungan jumlah penonton. Promotor mengumumkan total 11 kategori tiket untuk acara tersebut. Di kategori yang tersedia, Festival A menjadi pilihan dengan harga tertinggi, yakni Rp2,55 juta. Rincian mengenai tahap penjualan dan kategori itu menggambarkan skema tiket yang disampaikan promotor kepada calon penonton.
Perubahan tata letak konser belakangan menjadi topik yang dibicarakan, termasuk dalam kaitannya dengan perkiraan atau penghitungan penonton. Namun, pembicaraan mengenai denah dan jumlah pengunjung tidak menjadi satu-satunya hal yang disoroti setelah acara berlangsung. Matt Shadows turut memberikan tanggapan tentang pengalaman band di Jakarta. Ia menggambarkan konser tersebut sebagai pengalaman yang menyenangkan. Pernyataan itu menempatkan pengalaman tampil di hadapan penonton sebagai bagian lain dari percakapan, di samping polemik mengenai susunan area konser dan cara jumlah penonton dihitung.
Baca juga: Perubahan Rangkaian KRL Melayani Penumpang Jakarta-Tanjung Priok | Pembatalan Konser Mamamoo di Jakarta: Alasan dan Implikasi | Program Beasiswa Jakarta Unggul untuk S-2 dan S-3







