Kabut Asap Menekan Pariwisata Sumatera Selatan, Diversifikasi Jadi Respons Pemprov

Kabut Asap Menekan Pariwisata Sumatera Selatan, Diversifikasi Jadi Respons Pemprov

PALEMBANG, SUMATERA SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 2 Oktober 2026, Kabut asap yang melanda Sumatera Selatan mulai memberikan tekanan terhadap sektor pariwisata daerah. Kondisi tersebut terlihat dari menurunnya jumlah kunjungan wisatawan sebesar 1,11 persen. Penurunan ini menjadi indikator bahwa aktivitas wisata mengalami pelemahan ketika kabut asap berada di sejumlah wilayah Sumatera Selatan.

Dampak tersebut berkaitan langsung dengan berlangsungnya kegiatan wisata. Kabut asap dapat mengurangi kenyamanan selama perjalanan maupun saat wisatawan berada di destinasi, sehingga aktivitas kunjungan tidak berlangsung sekuat sebelumnya. Dalam situasi seperti ini, pergerakan wisatawan menuju berbagai objek wisata menjadi lebih terbatas. Dampaknya turut dirasakan oleh kegiatan pariwisata yang bergantung pada arus kunjungan, termasuk aktivitas di kawasan tujuan wisata dan layanan yang melayani wisatawan.

Angka penurunan sebesar 1,11 persen menunjukkan bahwa tekanan terhadap pariwisata bukan sekadar persoalan kondisi udara, melainkan telah tercermin dalam jumlah kunjungan. Meskipun persentasenya relatif terbatas, perubahan tersebut tetap penting karena memperlihatkan hubungan kabut asap dan melemahnya aktivitas wisata di daerah. Setiap penurunan kunjungan berpotensi mengurangi intensitas kegiatan ekonomi yang bergerak mengikuti aktivitas wisatawan.

Perkembangan ini menempatkan sektor pariwisata Sumatera Selatan dalam kondisi yang perlu mendapat perhatian. Kabut asap menjadi faktor yang memengaruhi keberlangsungan kunjungan dan menciptakan tekanan terhadap aktivitas wisata secara keseluruhan. Pemerintah daerah perlu membaca perubahan tersebut sebagai sinyal bahwa pariwisata membutuhkan respons yang sesuai dengan kondisi di lapangan. Data penurunan kunjungan itu menjadi dasar penting untuk menilai dampak kabut asap sekaligus memantau perkembangan sektor pariwisata Sumatera Selatan.

Dampak kabut asap terhadap pariwisata Sumatera Selatan turut terlihat pada sektor akomodasi, khususnya di Palembang. Sejumlah hotel di kota ini mengalami penurunan tingkat keterisian hingga 50 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa gangguan pada aktivitas pariwisata tidak berhenti pada berkurangnya kunjungan ke destinasi, tetapi juga merambat pada kebutuhan wisatawan untuk menggunakan layanan penginapan.

Penurunan okupansi tersebut berkaitan dengan minimnya kegiatan wisata luar ruang. Ketika aktivitas di ruang terbuka terganggu, rencana perjalanan wisatawan ikut terbatas. Kegiatan yang biasanya mendorong pergerakan pengunjung dari satu tempat ke tempat lain menjadi lebih sedikit, sehingga arus kunjungan ke Palembang turut melemah. Dalam kondisi demikian, kebutuhan untuk menginap juga menurun karena wisatawan tidak memiliki banyak agenda luar ruang yang memerlukan waktu kunjungan lebih panjang.

Situasi ini memperlihatkan keterkaitan erat kegiatan wisata luar ruang dan kinerja akomodasi. Hotel tidak hanya bergantung pada keberadaan pengunjung, tetapi juga pada pergerakan wisatawan yang menjalankan rangkaian aktivitas selama berada di suatu daerah. Apabila aktivitas tersebut berkurang, keputusan untuk melakukan perjalanan dan bermalam dapat ikut tertunda atau dibatalkan. Karena itu, penurunan keterisian hingga 50 persen menjadi gambaran lanjutan dari tekanan yang dialami sektor pariwisata akibat kabut asap.

Gangguan terhadap aktivitas luar ruang dengan demikian memengaruhi dua aspek sekaligus, yaitu mobilitas kunjungan dan kebutuhan menginap. Pelemahan pada kedua aspek tersebut membuat sektor akomodasi ikut merasakan dampak langsung dari menurunnya aktivitas wisata. Kondisi ini menegaskan bahwa pemulihan pariwisata tidak hanya berkaitan dengan peningkatan jumlah pengunjung, tetapi juga dengan kembalinya kegiatan wisata luar ruang yang dapat menggerakkan perjalanan serta mendukung keterisian hotel di Palembang.

Tekanan kabut asap yang mengganggu kualitas udara memberi tantangan bagi keberlangsungan aktivitas pariwisata di Sumatera Selatan. Dalam situasi ketika kegiatan luar ruang menjadi terbatas, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumatera Selatan mendorong penyesuaian strategi agar sektor wisata tetap memiliki ruang untuk bergerak. Respons tersebut diarahkan melalui diversifikasi pilihan wisata, dengan memperkuat perhatian terhadap destinasi dalam ruangan atau indoor sebagai alternatif bagi masyarakat dan wisatawan.

Pendekatan ini berangkat dari kebutuhan untuk menyesuaikan aktivitas pariwisata dengan kondisi lingkungan yang sedang dihadapi. Ketika kabut asap menekan kenyamanan dan keamanan kegiatan di ruang terbuka, pilihan wisata indoor dipandang dapat membantu menjaga kesinambungan pergerakan sektor pariwisata. Dengan demikian, kegiatan wisata tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi luar ruang yang sewaktu-waktu dapat membatasi mobilitas serta mengurangi minat kunjungan.

Diversifikasi yang didorong oleh pemerintah provinsi tidak semata-mata bermakna menambah pilihan, tetapi juga mengarahkan pola pengelolaan pariwisata agar lebih adaptif. Dinas terkait berupaya mendorong pelaku dan pemangku kepentingan pariwisata untuk melihat ruang dalam ruangan sebagai bagian dari strategi menghadapi tekanan kabut asap. Langkah tersebut menempatkan fleksibilitas sebagai unsur penting dalam mempertahankan aktivitas wisata di tengah keadaan yang tidak mendukung kegiatan luar ruang.

Melalui dorongan tersebut, Sumatera Selatan berupaya menjaga agar aktivitas pariwisata tetap berjalan dengan menyesuaikan pilihan kegiatan terhadap situasi yang ada. Wisata indoor menjadi salah satu arah respons yang dapat digunakan ketika kondisi udara membatasi aktivitas terbuka. Strategi ini sekaligus menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata perlu mempertimbangkan faktor lingkungan, sehingga sektor tersebut memiliki pilihan yang lebih beragam dan tetap dapat beroperasi secara adaptif selama tekanan kabut asap berlangsung.

Di tengah tekanan kabut asap terhadap aktivitas pariwisata, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumatera Selatan mengupayakan kembali program staycation. Skema ini diarahkan sebagai salah satu langkah untuk mempertahankan geliat kunjungan wisatawan di dalam daerah, terutama ketika perjalanan menuju sejumlah destinasi menghadapi tantangan akibat kualitas udara. Staycation menawarkan pilihan berwisata dengan jarak yang lebih dekat, sehingga masyarakat tetap dapat menikmati waktu luang tanpa harus melakukan perjalanan panjang.

Program tersebut juga berkaitan dengan upaya menjaga aktivitas usaha akomodasi. Kabut asap yang menekan pariwisata turut berdampak pada tingkat okupansi hotel, sehingga promosi pengalaman menginap menjadi bagian dari respons yang dipertimbangkan pemerintah daerah. Melalui konsep staycation, hotel dapat menawarkan paket menginap yang dipadukan dengan fasilitas rekreasi, kuliner, atau kegiatan santai di lingkungan penginapan. Pilihan itu diharapkan menjadi alternatif bagi warga maupun pengunjung yang masih ingin memperoleh pengalaman liburan dalam situasi yang kurang mendukung perjalanan wisata.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumatera Selatan menempatkan pengaktifan kembali staycation sebagai bagian dari diversifikasi produk pariwisata. Pendekatan ini tidak hanya mengandalkan kunjungan ke objek wisata terbuka, tetapi juga memanfaatkan fasilitas hotel dan ruang rekreasi dalam kota. Dengan demikian, promosi pariwisata dapat diarahkan pada pengalaman yang lebih fleksibel, menyesuaikan kondisi yang sedang dihadapi sektor perjalanan dan perhotelan.

Upaya menghidupkan kembali program staycation menjadi pilihan untuk mempertahankan pergerakan ekonomi pariwisata serta menjaga minat masyarakat terhadap kegiatan rekreasi di Sumatera Selatan. Fokusnya adalah menyediakan alternatif kunjungan yang tetap relevan ketika kabut asap menekan mobilitas wisatawan dan okupansi hotel. Program ini ditempatkan sebagai bagian dari respons Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumatera Selatan dalam menjaga geliat sektor pariwisata melalui pilihan pengalaman menginap dan berwisata yang lebih dekat.