Makassar | Manajemen Bandara Internasional Sultan Hasanuddin mencatat pembatalan tujuh penerbangan pada Senin, 12 Oktober 2026. Pembatalan tersebut berdampak langsung pada operasional bandara karena penerbangan yang semestinya dilayani pada hari itu tidak dapat berjalan sesuai rencana. Peristiwa ini berkaitan dengan kondisi cuaca buruk yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Informasi itu disampaikan General Manager Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Ruly Artha, melalui keterangan tertulis pada Selasa, 13 Oktober 2026. Keterangan tersebut menjadi dasar informasi mengenai gangguan penerbangan yang tercatat sehari sebelumnya. Dalam keterangannya, Ruly menyebutkan adanya tujuh penerbangan yang dibatalkan pada Senin, sehingga aktivitas pelayanan penerbangan di bandara mengalami dampak dari keadaan cuaca tersebut.
Pembatalan itu menunjukkan bahwa kondisi cuaca memiliki pengaruh terhadap kelancaran operasional penerbangan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Sejumlah jadwal penerbangan yang telah direncanakan tidak dapat direalisasikan pada waktu yang ditetapkan. Dengan demikian, gangguan cuaca yang berkaitan dengan karhutla menjadi bagian dari situasi yang memengaruhi layanan penerbangan pada hari tersebut.
Pihak manajemen bandara menyampaikan catatan pembatalan itu sebagai informasi mengenai kondisi operasional pada 12 Oktober 2026. Keterangan Ruly Artha juga menegaskan bahwa gangguan tersebut tercermin dari jumlah penerbangan yang batal dilayani. Data mengenai tujuh penerbangan itu menjadi inti laporan terkait dampak cuaca buruk terhadap aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.
Peristiwa tersebut memperlihatkan adanya gangguan terhadap layanan penerbangan ketika kondisi cuaca tidak mendukung kegiatan operasional. Pembatalan tujuh penerbangan menjadi dampak langsung yang dicatat oleh pengelola bandara. Informasi ini disampaikan sehari setelah kejadian melalui keterangan tertulis manajemen Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.
Pembatalan penerbangan di Bandara Sultan Hasanuddin berdampak langsung pada 1.070 penumpang yang batal berangkat. Mereka harus menunda perjalanan akibat kondisi cuaca yang terganggu oleh dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Asap dari karhutla dapat menurunkan jarak pandang serta memengaruhi keselamatan operasional penerbangan, sehingga keputusan pembatalan diambil sebagai langkah pencegahan. Situasi tersebut membuat rencana perjalanan penumpang berubah, termasuk kebutuhan untuk menjadwalkan ulang penerbangan atau menunggu informasi lanjutan dari pihak terkait.
Berdasarkan rincian rute yang tersedia, pembatalan mencakup satu penerbangan dari Makassar menuju Sorong dan dua penerbangan dari Makassar menuju Ambon. Selain itu, terdapat satu penerbangan pada rute Makassar–Ternate serta satu penerbangan pada rute Makassar–Mamuju. Rute-rute tersebut menjadi bagian dari penerbangan yang terdampak gangguan cuaca dalam konteks karhutla. Rincian yang tercantum hanya menyebutkan lima penerbangan berdasarkan tujuan tersebut, sehingga tidak terdapat informasi tujuan untuk dua penerbangan lainnya.
Bagi penumpang, pembatalan berarti perjalanan tidak dapat dilanjutkan sesuai jadwal semula. Sebagian penumpang kemungkinan perlu berkoordinasi dengan maskapai mengenai pengembalian biaya, pengalihan jadwal, atau pilihan penerbangan berikutnya, sesuai ketentuan yang berlaku. Namun, penanganan setiap penumpang tetap bergantung pada kebijakan maskapai dan perkembangan kondisi cuaca. Gangguan ini menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya dirasakan di wilayah sekitar sumber asap, tetapi juga dapat meluas ke layanan transportasi udara. Selama jarak pandang dan aspek keselamatan belum memungkinkan, keberangkatan dari Makassar menuju sejumlah kota tujuan harus ditunda untuk mengurangi risiko bagi penumpang serta awak pesawat.
Manajemen Bandara Sultan Hasanuddin menyiapkan langkah pelayanan bagi penumpang yang terdampak gangguan penerbangan akibat asap kebakaran hutan dan lahan. Penanganan tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan maskapai penerbangan, dengan mempertimbangkan kondisi operasional, keselamatan penerbangan, serta ketentuan yang berlaku pada masing-masing perusahaan penerbangan.
Koordinasi pihak bandara dan maskapai diperlukan agar informasi mengenai perubahan jadwal, penundaan, pengalihan, atau pembatalan penerbangan dapat disampaikan secara jelas kepada penumpang. Setiap keputusan operasional tetap mengikuti hasil pemantauan kondisi cuaca, jarak pandang, dan aspek keselamatan lain yang menjadi dasar bagi pengelola penerbangan dalam menentukan kelanjutan layanan.
Salah satu bentuk penanganan yang dapat disiapkan adalah pengembalian dana tiket atau refund, sesuai kebijakan maskapai dan persyaratan yang ditetapkan. Penumpang yang terdampak juga dapat memperoleh pilihan penjadwalan ulang penerbangan atau reschedule apabila layanan penerbangan tidak dapat berjalan sesuai rencana. Mekanisme pengajuan, ketersediaan kursi, serta kemungkinan biaya tambahan akan mengikuti ketentuan dari maskapai terkait.
Selain pengaturan tiket, bandara dapat menyediakan area istirahat bagi penumpang yang perlu menunggu perkembangan situasi. Fasilitas ini diharapkan membantu penumpang tetap nyaman selama proses koordinasi dan memperoleh informasi terbaru. Penyediaan area tersebut menjadi bagian dari dukungan pelayanan, terutama bagi penumpang yang mengalami waktu tunggu lebih panjang akibat gangguan operasional.
Manajemen bandara mengimbau penumpang untuk memantau informasi resmi dari bandara dan maskapai, serta menghubungi saluran layanan pelanggan sebelum menuju terminal. Dengan demikian, penumpang dapat mengetahui status penerbangan dan opsi penanganan yang tersedia sesuai kondisi masing-masing. Pilihan refund, reschedule, maupun penggunaan area istirahat disiapkan sebagai alternatif pelayanan, tanpa berarti seluruh penumpang harus memilih atau menerima opsi yang sama.
Bandara Internasional Sultan Hasanuddin terus melakukan koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk memantau dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap operasional penerbangan. Koordinasi tersebut melibatkan AirNav Indonesia sebagai penyelenggara pelayanan navigasi penerbangan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), maskapai, serta pihak terkait lainnya. Pertukaran informasi dilakukan secara berkala guna memperoleh pembaruan mengenai kondisi cuaca, jarak pandang, arah dan kecepatan angin, serta potensi sebaran asap di sekitar wilayah bandara.
Informasi dari BMKG dan AirNav menjadi salah satu dasar dalam pemantauan situasi serta pengambilan langkah operasional sesuai kondisi yang berkembang. Setiap keputusan terkait pergerakan pesawat, termasuk keberangkatan, kedatangan, atau penyesuaian jadwal, tetap mempertimbangkan aspek keselamatan dan keamanan penerbangan. Pengelola bandara juga memastikan komunikasi antarpihak berjalan efektif sehingga setiap perkembangan dapat segera disampaikan kepada pihak yang berkepentingan.
Ruly Artha mengimbau calon penumpang untuk memantau status penerbangan melalui kanal resmi maskapai masing-masing. Penumpang juga diminta memastikan kembali jadwal keberangkatan sebelum menuju bandara, terutama selama kondisi cuaca dan kualitas udara masih berpotensi berubah. Langkah tersebut diperlukan agar calon penumpang memperoleh informasi yang akurat sekaligus dapat menyesuaikan rencana perjalanan apabila terdapat perubahan operasional.
Manajemen Bandara Internasional Sultan Hasanuddin berkomitmen mengikuti perkembangan situasi secara berkelanjutan, menjaga koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan, dan menyampaikan informasi sesuai kewenangan yang dimiliki. Pelayanan kepada pengguna jasa akan tetap dijalankan berdasarkan prosedur yang berlaku dengan mengutamakan keselamatan, keamanan, dan kelancaran operasional. Evaluasi terhadap kondisi lapangan juga dilakukan secara berkala untuk memastikan setiap langkah penanganan dapat diterapkan secara tepat dan bertanggung jawab.
Baca juga: Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Kesiap Siagaan Babinsa Bersama Tim Gabungan Padamkan Karhutla Di Buluqsen | Pengurangan Hotspot Karhutla di Indonesia: Kalimantan Tengah Terus Memimpin

