Jakarta | Endra S. Atmawidjaja, Ketua Umum Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia sekaligus salah satu juri Benyamin S Award (BSA), menilai ajang penghargaan ini memiliki arti lebih luas daripada sekadar memberikan apresiasi kepada wilayah atau pihak yang dinilai berhasil. Menurutnya, BSA dapat menjadi momentum untuk mengembalikan sekaligus menghidupkan kebiasaan gotong royong di tengah kehidupan masyarakat Jakarta. Nilai tersebut penting karena pembangunan kota tidak hanya bergantung pada kebijakan dan program pemerintah, tetapi juga pada keterlibatan warga dalam menjaga lingkungan serta memperbaiki kualitas hidup bersama.
Pandangan itu disampaikan Endra saat penjurian finalis BSA di Jakarta pada Kamis, 15 Oktober. Ia melihat proses penilaian sebagai ruang untuk mengenali berbagai inisiatif dan upaya yang tumbuh di tengah masyarakat. Praktik baik yang muncul dari lingkungan warga dapat menjadi inspirasi, sekaligus memperlihatkan bahwa kolaborasi tidak harus dimulai melalui proyek besar. Kepedulian terhadap ruang bersama, partisipasi dalam menyelesaikan persoalan setempat, dan komunikasi dengan pemerintah merupakan bagian dari gotong royong yang dapat dibangun kembali secara nyata.
Bagi Endra, semangat kerja bersama juga relevan dengan cita-cita Jakarta untuk berkembang sebagai kota global. Kemajuan dan daya saing, menurutnya, tidak perlu membuat kota meninggalkan karakter yang telah tumbuh dari kehidupan warganya. Jakarta berpotensi menjadi kota global tanpa kehilangan identitas lokal yang kuat, termasuk tradisi saling membantu dan rasa memiliki terhadap lingkungan. Karena itu, penghargaan seperti BSA dapat mendorong pemerintah dan warga untuk menjadikan kolaborasi sebagai kebiasaan, bukan sekadar respons sesaat terhadap persoalan. Dengan merawat praktik gotong royong, pembangunan kota dapat berjalan seiring dengan penguatan ikatan sosial dan identitas Jakarta.
Endra menilai penguatan identitas lokal Jakarta tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah. Identitas sebuah kota tumbuh dari pengalaman, kebiasaan, nilai, dan ingatan warganya, sehingga masyarakat perlu terlibat dalam mengenali serta merawat kekhasan lingkungan masing-masing. Pemerintah tetap memiliki peran penting, lain menyediakan ruang, dukungan, dan kebijakan yang memungkinkan inisiatif warga berkembang. Namun, tanpa partisipasi masyarakat, upaya tersebut berisiko berhenti sebagai program administratif yang kurang berakar pada kehidupan sehari-hari. Kolaborasi membuat identitas lokal terasa lebih dekat, karena warga turut menentukan hal yang dianggap bermakna dan cara menjaganya. Pandangan ini menempatkan warga bukan sekadar penerima layanan, melainkan bagian dari proses pembangunan kota.
Gagasan tersebut sejalan dengan collaborative urban governance, yakni tata kelola perkotaan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan dalam pengambilan keputusan sekaligus pelaksanaan kebijakan publik. Pemerintah, komunitas, organisasi masyarakat, dan pihak lain dapat berbagi pengetahuan serta tanggung jawab untuk merumuskan solusi yang sesuai dengan kebutuhan setempat. Pendekatan ini membuka ruang bagi aspirasi warga untuk dipertimbangkan sejak tahap perencanaan, bukan hanya setelah program ditetapkan. Kerja bersama juga membantu membangun kepercayaan dan memperjelas peran setiap pihak. Endra mengaitkan prinsip kolaboratif itu dengan gotong royong, nilai yang telah lama dikenal dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam konteks kota, gotong royong dapat diterapkan melalui dialog, kontribusi tenaga maupun gagasan, serta komitmen bersama untuk menjalankan keputusan.
Menurut Endra, inisiatif Benyamin S Award (BSA) layak menjadi contoh yang direplikasi di kota-kota lain di Indonesia. Replikasi tidak berarti menyalin program secara seragam, melainkan menyesuaikan semangat kolaborasinya dengan karakter dan kebutuhan tiap wilayah. Kerja bersama dapat dibangun secara bertahap, mulai dari tingkat RW dan kelurahan, kemudian diperkuat melalui koordinasi kecamatan hingga wali kota. Susunan tersebut memungkinkan gagasan warga diteruskan ke tingkat pengambil kebijakan, sementara dukungan pemerintah dapat kembali menjangkau lingkungan. Dengan keterlibatan lintas tingkatan, penguatan identitas lokal berpeluang menjadi proses yang berkelanjutan, bukan kegiatan sesaat. BSA, dalam pandangan ini, menunjukkan bahwa kemajuan kota dapat didorong melalui kemitraan yang memberi ruang bagi masyarakat dan pemerintah untuk saling melengkapi.
Sepuluh lurah yang menjadi finalis Benyamin S Award (BSA) mempresentasikan program dan inovasi unggulan di hadapan dewan juri. Paparan tersebut menjadi kesempatan bagi setiap peserta untuk menjelaskan cara mereka merespons kebutuhan wilayah, merancang kegiatan, serta melibatkan warga dan pemangku kepentingan setempat. Melalui presentasi, juri dapat melihat bukan hanya gagasan yang diajukan, tetapi juga bagaimana gagasan itu diterapkan dalam kerja pemerintahan di tingkat kelurahan. Para finalis menyampaikan pendekatan yang mereka kembangkan sesuai kondisi dan tantangan di masing-masing wilayah.
Penilaian dalam ajang ini berfokus pada empat kategori, yakni bersih, nyaman, indah, dan sejahtera. Keempatnya menggambarkan beragam aspek kehidupan warga dan kualitas lingkungan perkotaan yang ingin diperkuat. Kategori bersih berkaitan dengan upaya menjaga kebersihan lingkungan, sementara nyaman menyoroti kondisi kawasan yang mendukung aktivitas masyarakat. Aspek indah memberi perhatian pada penataan dan estetika wilayah, sedangkan sejahtera mencakup inisiatif yang mendukung kehidupan sosial dan ekonomi warga. Dengan kerangka tersebut, program yang dipresentasikan dapat ditinjau melalui fokus yang jelas, sekaligus memperlihatkan bagaimana kebutuhan lokal diterjemahkan menjadi langkah konkret.
Endra menilai para lurah finalis menunjukkan kemampuan kepemimpinan dan orkestrasi kolaborasi yang baik. Menurutnya, peran lurah tidak berhenti pada penyusunan program atau pelaksanaan tugas administratif. Mereka perlu menyatukan berbagai pihak, mengarahkan kontribusi, dan menjaga agar upaya bersama bergerak menuju tujuan yang disepakati. Kemampuan menghubungkan pemerintah dengan warga serta unsur lain di lingkungan kelurahan menjadi bagian penting dari proses tersebut. Endra menggambarkan pendekatan ini sebagai collaborative urban governance pada skala mikro. Istilah itu merujuk pada tata kelola perkotaan kolaboratif yang berlangsung dekat dengan kehidupan sehari-hari warga. Dalam konteks BSA, penilaian terhadap para finalis dengan demikian turut menyoroti kapasitas mereka membangun kerja bersama, selain kualitas program unggulan yang dipresentasikan. Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan lokal dan kolaborasi menjadi unsur penting dalam menghadapi kebutuhan perkotaan secara lebih responsif.
Praktik gotong royong terlihat dalam rangkaian Benyamin S Award (BSA), ketika festival diselenggarakan di sepuluh kelurahan finalis tanpa menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Pelaksanaan kegiatan mengandalkan kerja bersama pemerintah setempat, masyarakat, dan pihak swasta. Setiap unsur berkontribusi sesuai peran dan sumber daya yang dimiliki, sehingga festival dapat berlangsung melalui dukungan yang dihimpun secara kolaboratif. Pola ini menunjukkan bahwa kegiatan publik dapat menjadi ruang bagi warga dan mitra untuk terlibat langsung dalam kehidupan kelurahan, bukan hanya sebagai penonton atau penerima manfaat.
Tona Hutauruk, Kepala Biro Kerja Sama Daerah Sekretariat Daerah Provinsi DKI Jakarta, menilai kekompakan dan partisipasi warga sebagai nilai tambah dalam pelaksanaan festival. Keterlibatan masyarakat membantu membangun rasa memiliki terhadap kegiatan sekaligus memperkuat hubungan warga, pemerintah, dan sektor swasta. Pendekatan tersebut juga diterapkan melalui creative financing, yakni upaya mengajak warga serta mitra untuk ikut mendukung dan melaksanakan festival. Dengan demikian, pembiayaan kreatif tidak semata-mata berbicara tentang sumber dana, tetapi juga tentang cara menggerakkan berbagai pihak agar berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan bersama.
Kolaborasi dalam BSA memperlihatkan bagaimana kepemimpinan di tingkat kelurahan dapat membuka ruang bagi inisiatif lokal dan partisipasi aktif warga. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendorong pendekatan ini sebagai bagian dari upaya memperkuat pembangunan kota menjelang lima abad Jakarta. Peran lurah, inovasi yang tumbuh dari kebutuhan setempat, serta keterlibatan masyarakat diharapkan saling mendukung dalam membangun lingkungan yang lebih baik.
Baca juga: Jakarta Hadapi Kualitas Udara Tidak Sehat, Warga Diminta Waspada | Program Beasiswa Jakarta Unggul untuk S-2 dan S-3 | Persija Jakarta Berhomebase di Bali Saat Hadapi Java United







