Jakarta | Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha mendorong agar keunikan musik Indonesia lebih diunggulkan sebagai bagian penting dari diplomasi budaya. Pernyataan tersebut disampaikan di Jakarta pada Selasa. Menurutnya, kekayaan musikal Nusantara memiliki karakter yang beragam, mulai dari penggunaan alat musik tradisional, corak ritme, hingga warna vokal dan cerita yang lahir dari berbagai daerah. Keunikan itu perlu diperkenalkan secara lebih terarah agar dapat menjangkau masyarakat dunia dan membuat musik Indonesia semakin dikenal di tingkat internasional.
Giring menilai, musik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan identitas, sejarah, serta nilai-nilai masyarakat Indonesia. Melalui pertunjukan, kolaborasi, dan distribusi karya ke berbagai platform, musik Nusantara berpeluang membangun pemahaman yang lebih luas mengenai Indonesia. Pendekatan tersebut memungkinkan diplomasi budaya berlangsung secara lebih dekat dengan publik, terutama generasi muda global yang banyak menemukan karya musik melalui layanan digital dan media sosial.
Berdasarkan data yang disampaikan Giring, musik lokal Indonesia kini lebih banyak dinikmati dibandingkan lagu-lagu Barat serta musik dari luar Indonesia. Kondisi itu menunjukkan adanya minat kuat dari masyarakat terhadap karya yang dekat dengan bahasa, pengalaman, dan kebudayaan mereka sendiri. Perkembangan internet dipandang sebagai peluang besar untuk memperluas jangkauan tersebut. Dengan dukungan ekosistem digital, musisi daerah dan nasional dapat memperkenalkan karya tanpa sepenuhnya bergantung pada saluran distribusi konvensional. Musik Indonesia pun dinilai mampu tumbuh sebagai kekuatan budaya sendiri, sekaligus menjadi medium yang memperkuat posisi Indonesia dalam hubungan antarbangsa.
Giring berpandangan bahwa masyarakat Indonesia perlu lebih percaya diri dalam menampilkan identitas budaya Nusantara. Keberagaman tradisi, bahasa, seni, cerita, dan nilai yang tumbuh di berbagai daerah tidak semestinya dianggap sebagai sesuatu yang harus disamarkan agar mudah diterima oleh masyarakat global. Sebaliknya, kekayaan tersebut dapat menjadi ciri pembeda yang menunjukkan karakter Indonesia secara jelas. Kepercayaan diri ini berarti berani memperkenalkan unsur-unsur kebudayaan sendiri dengan cara yang wajar, kuat, dan tidak kehilangan akar. Ketika identitas Nusantara ditampilkan secara terbuka, masyarakat dunia memiliki kesempatan untuk mengenali Indonesia melalui keunikan yang tidak dimiliki budaya lain.
Pandangan tersebut berkaitan erat dengan diplomasi budaya. Diplomasi budaya tidak hanya berlangsung melalui penyampaian pesan secara formal, tetapi juga melalui karya dan ekspresi yang mampu menarik perhatian lintas negara. Identitas yang kuat membuat kebudayaan Indonesia lebih mudah dikenali, dibicarakan, dan diingat. Dalam konteks ini, keunikan bukan sekadar hiasan, melainkan bagian penting dari daya tarik Indonesia ketika berinteraksi dengan dunia. Semakin jelas karakter keindonesiaan yang hadir dalam sebuah karya, semakin besar pula peluang karya itu menjadi pintu bagi masyarakat internasional untuk memahami kebudayaan Nusantara.
Giring mencontohkan film-film berbasis kebudayaan Indonesia yang tetap diminati di layanan streaming digital. Film semacam itu dapat menemukan penonton karena menawarkan keunikan yang berbeda dari film lainnya. Ketertarikan tersebut menunjukkan bahwa karya dengan unsur lokal yang kuat tidak otomatis terbatas pada penonton Indonesia. Justru, kekhasan cerita, latar, dan budaya dapat menjadi alasan bagi masyarakat dunia untuk menontonnya. Dari contoh itu terlihat bahwa penguatan identitas tidak harus mengurangi daya jangkau sebuah karya. Semakin kuat unsur Indonesia yang ditampilkan secara bermakna, semakin besar peluang budaya Indonesia diperhatikan dan dikenal oleh masyarakat dunia.
Giring menilai musik Indonesia tidak dapat dibatasi hanya pada karya yang menggunakan bahasa Indonesia. Kekayaan musikal Nusantara juga tercermin dalam lagu-lagu berbahasa daerah, termasuk musik yang tumbuh dari wilayah timur Indonesia. Menurutnya, keberagaman bahasa, melodi, ritme, dan cara penyampaian tersebut merupakan bagian penting dari identitas budaya nasional. Musik daerah tidak seharusnya dipandang sebagai produk yang hanya relevan bagi masyarakat asalnya, karena perkembangan teknologi dan perubahan perilaku pendengar telah membuka ruang perjumpaan yang jauh lebih luas.
Ia mencontohkan koplo dan campursari sebagai genre yang mampu menjangkau berbagai kelompok usia serta latar belakang. Musik tersebut dapat dinikmati anak-anak, remaja, hingga orang dewasa, baik di daerah asalnya maupun di wilayah lain. Di Jakarta Selatan, misalnya, anak-anak mulai mendengarkan beragam jenis musik, termasuk koplo, di tengah paparan budaya populer yang sangat beragam. Fenomena ini menunjukkan bahwa selera musik generasi muda semakin terbuka. Mereka tidak selalu memilih lagu berdasarkan bahasa atau asal daerah, melainkan juga mempertimbangkan irama, energi, lirik, dan pengalaman yang ditawarkan sebuah karya.
Dalam pandangan Giring, internet turut mengubah posisi berbagai genre dalam ekosistem musik. Platform digital membuat musik dari daerah, kota besar, maupun wilayah timur Nusantara dapat hadir di ruang yang sama dan ditemukan oleh pendengar yang sebelumnya mungkin tidak mengenalnya. Batas geografis menjadi lebih lentur, sementara karya-karya dengan karakter lokal memperoleh kesempatan untuk berkompetisi secara lebih setara. Perbedaan dan kekhasan budaya Indonesia, karena itu, bukan hambatan untuk diterima secara global. Keunikan tersebut justru dapat menjadi daya tarik bagi negara lain, sekaligus memperkuat diplomasi budaya melalui pengalaman musik yang autentik dan beragam.
Perkembangan platform digital telah mengubah cara musik Indonesia dikenal dan dikonsumsi oleh pendengar di berbagai negara. Melalui layanan streaming, karya musisi Nusantara dapat menjangkau audiens global tanpa harus bergantung sepenuhnya pada jalur distribusi konvensional. Giring menilai kondisi ini menunjukkan bahwa internet bukan sekadar sarana penyebaran informasi, melainkan juga ruang penting bagi penguatan diplomasi budaya. Setiap lagu yang didengar oleh pengguna mancanegara membuka peluang untuk memperkenalkan identitas, pengalaman, dan keragaman Indonesia.
Ia menyampaikan bahwa lagu-lagu Indonesia yang diputar pada salah satu platform streaming musik ternama dunia mencapai 6,3 miliar kali dalam rentang pertengahan 2025 hingga 2026. Angka tersebut dipandang sebagai bukti besarnya pengaruh internet dalam membawa musik Indonesia melampaui batas geografis. Menurutnya, daya tarik karya-karya tersebut tidak hanya terletak pada produksi musik modern, tetapi juga pada hentakan musik, keunikan bahasa, serta karakter suara yang membedakannya dari karya negara lain. Capaian itu sekaligus menjadi alasan untuk semakin mengunggulkan dan mengembangkan musik Indonesia.
Penguatan identitas tidak harus hadir melalui musik saja. Giring juga memandang penggunaan simbol budaya, seperti batik dan kebaya, sebagai bagian dari strategi untuk membuat dunia lebih memperhatikan Indonesia. Ketika simbol-simbol tersebut tampil dalam ruang digital, jangkauannya dapat meluas kepada masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki pengetahuan tentang kebudayaan Indonesia. Internet memungkinkan sebuah penampilan, karya, atau narasi budaya bergaung lebih lama dan menjangkau publik yang lebih beragam.
Dengan demikian, musik dan simbol budaya dapat saling melengkapi dalam membangun citra Indonesia di tingkat internasional. Keunikan bunyi, bahasa, busana, dan ekspresi tradisi yang dikemas secara relevan berpotensi menciptakan rasa ingin tahu sekaligus penghargaan terhadap budaya Nusantara. Bagi Giring, besarnya jumlah pemutaran lagu tersebut perlu diterjemahkan menjadi dorongan untuk terus memperkuat ekosistem kreatif, menjaga keaslian identitas, dan memanfaatkan teknologi digital sebagai jembatan diplomasi budaya.
Baca juga: Penguatan Diplomasi Budaya melalui Pembelajaran Seni di Universitas Terbuka
