SURABAYA, JAWA TIMUR — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 2 Oktober 2026, Di tengah penggunaan teknologi yang terus meningkat, pengelolaan akhir masa pakai perangkat menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari pembicaraan tentang masa depan digital. (UNITAR) Indonesia menghasilkan sekitar 1,9 juta ton sampah elektronik atau electronic waste (e-waste) pada 2022.
Keterangan yang tercatat menyebut Dengan pengelolaan yang tepat kita dapat memperpanjang nilai teknologi, sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk berkontribusi dalam ekonomi sirkular,” ujar Billy Nikolas Simanjuntak, Head Corporate Secretary, Legal, and Regulatory Lintasarta di Jakarta baru-baru ini. Founder EwasteRJ Rafa Jafar mengatakan pengelolaan sampah elektronik perlu dilihat sebagai bagian dari siklus hidup teknologi. Lita ingin memastikan perangkat tersebut masuk ke ekosistem yang tepat—untuk digunakan kembali ketika masih memungkinkan, dipulihkan materialnya, dan dikembalikan ke dalam siklus yang produktif,” ujar Rafa.
Data lain dalam laporan menunjukkan Aroma Sedap, Ini 7 Rekomendasi Kuliner Sate Kambing Enak di Surabaya yang Wajib Dicoba Persoalan itu pula yang coba disorot melalui program AksiCintaBumi bertema 'Transforming E-Waste, Empowering Our Future' yang digelar Lintasarta bersama EwasteRJ pada Agustus-November 2026. Program tersebut menargetkan pengumpulan 380 kilogram e-waste dengan melibatkan karyawan, mahasiswa, pelajar, komunitas, dan masyarakat di Jakarta, Tangerang Selatan, serta Depok. Dengan volume e-waste Indonesia yang mencapai sekitar 1,9 juta ton dalam data 2022, pengelolaan perangkat elektronik bekas membutuhkan keterlibatan lebih luas dari industri, pemerintah, komunitas, institusi pendidikan, hingga masyarakat. Jangan sampai ketinggalan berita hari ini! Prediksi Skor Skor Lithuania vs Andorra, Laga Persahabatan: Tuan Rumah Berpeluang Menang Prediksi Skor Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Dardanet Berpeluang Menang Tipis Prediksi Skor Irlandia vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Curi Poin Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat Prediksi Susunan Pemain Denmark vs Portugal: Ruben Dias Siap Bawa Pulang Kemenangan Alyssa Daguise Sedih Wajah Baby Soso Terekspos ke Publik Fakta Sebenarnya Soal Hubungan Ashanty dengan Azriel Hermansyah Prediksi Skor Azerbaijan vs Liechtenstein di Liga Nations UEFA: Milli Menang Tipis Kejar Promosi Prediksi Skor Wales vs Norwegia di Liga Nations UEFA: The Vikings Menang Tipis Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022
Informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencakup Volume tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu penghasil e-waste terbesar di dunia sekaligus yang tertinggi di Asia Tenggara, sehingga persoalan pengelolaan perangkat elektronik bekas semakin mendesak di tengah pesatnya pertumbuhan teknologi. Data tersebut tercatat dalam Global E-Waste Monitor yang diterbitkan International Telecommunication Union (ITU) dan United Nations Institute for Training and Research (UNITAR). Besarnya timbulan e-waste menunjukkan bahwa persoalan sampah elektronik tidak lagi sebatas urusan perangkat yang menumpuk setelah masa pakainya berakhir. Di dalam perangkat elektronik terdapat berbagai komponen dan material yang masih memiliki nilai. Namun, jika tidak dikelola melalui jalur yang tepat, perangkat yang sudah tidak digunakan dapat berakhir sebagai limbah dan menambah beban lingkungan.
Limbah Elektronik Bukan Sekadar Barang Bekas Pertumbuhan penggunaan perangkat digital membuat siklus hidup teknologi semakin cepat. Ponsel, komputer, perangkat jaringan, server, penyimpanan data hingga berbagai perangkat pendukung pada akhirnya akan mencapai masa ketika tidak lagi digunakan. Masalahnya, perangkat tersebut tidak selalu berakhir dengan cara yang sama seperti sampah rumah tangga biasa. Sebagian masih bisa digunakan kembali atau diperbaiki, sementara perangkat yang sudah mencapai akhir masa pakai dapat dipilah untuk mengambil kembali komponen dan material yang bernilai. Karena itu, pengelolaan e-waste menjadi bagian penting dari upaya membangun ekonomi sirkular. Alih-alih langsung membuang perangkat, material yang masih bernilai dapat dikembalikan ke dalam siklus produksi atau digunakan kembali untuk memperpanjang masa manfaatnya. Lintasarta mendorong kesadaran bahwa perangkat elektronik yang sudah tidak digunakan bukan berarti kehilangan seluruh nilainya. Pengelolaan E-Waste Tak Berhenti di Tempat Pengumpulan Dalam program tersebut, Lintasarta dan EwasteRJ tidak hanya menempatkan pengumpulan sebagai tahap akhir. E-waste yang terkumpul akan diarahkan ke jalur pengelolaan berdasarkan kondisi masing-masing perangkat. Perangkat yang masih memungkinkan untuk digunakan kembali akan diidentifikasi untuk mendapatkan second life, baik melalui penggunaan kembali maupun proses refurbishment. Sementara perangkat yang sudah tidak layak pakai akan melalui pemilahan serta proses pemulihan komponen dan material yang masih mempunyai nilai. Pendekatan tersebut penting karena persoalan e-waste bukan semata-mata seberapa banyak perangkat yang berhasil dikumpulkan. Yang tidak kalah penting adalah ke mana perangkat tersebut berakhir dan bagaimana material di dalamnya dikelola setelah dikumpulkan. Di dalam perangkat yang sudah tidak digunakan masih terdapat komponen dan material yang memiliki nilai. Sebagian material hasil pengelolaan e-waste dalam program tersebut juga akan ditransformasikan menjadi karya edukatif berbentuk Garuda dan Peta Indonesia. Karya itu digunakan sebagai simbol Unity in Action sekaligus medium untuk memperkenalkan konsep ekonomi sirkular kepada masyarakat. Siklus Hidup Teknologi Ikut Menjadi Persoalan Lingkungan Isu e-waste semakin relevan bagi industri teknologi karena pertumbuhan infrastruktur digital juga berarti bertambahnya perangkat fisik yang digunakan untuk menopang layanan digital. Server, GPU, storage, perangkat jaringan, hingga perangkat pendukung lainnya memiliki masa penggunaan dan pada akhirnya harus dikelola ketika tidak lagi digunakan. Artinya, pembicaraan mengenai transformasi digital tidak hanya menyangkut manfaat teknologi, tetapi juga konsekuensi lingkungan dari perangkat yang membuat teknologi tersebut berjalan. Keterlibatan Universitas Indonesia dan SMA Labschool Cirendeu, bersama komunitas Trash Ranger Indonesia, mahasiswa, pelajar, dan environmental creators, menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman tersebut. Melalui edukasi dan partisipasi, masyarakat diperkenalkan pada tahapan yang dapat dilakukan terhadap perangkat elektronik yang sudah tidak digunakan, mulai dari memilah, menggunakan kembali ketika masih memungkinkan, hingga memastikan perangkat masuk ke jalur pemulihan material yang sesuai. Tantangannya bukan hanya mengurangi perangkat yang berakhir sebagai limbah, tetapi juga memastikan material yang masih bernilai tidak kehilangan kesempatan untuk kembali masuk ke dalam siklus ekonomi. Semakin banyak perangkat digunakan, semakin penting pula memastikan siklus hidupnya tidak berakhir sebagai beban lingkungan.



