KABUPATEN TANGERANG, BANTEN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 2 Oktober 2026, Harga sejumlah komoditas cabai di Pasar Gudang Tigaraksa, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, mengalami kenaikan tajam. Perubahan harga tersebut dirasakan pedagang dan konsumen dalam beberapa waktu terakhir, ketika pasokan cabai mulai berkurang di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat. Kondisi ini menjadi salah satu dampak kemarau panjang yang disebut dipicu oleh fenomena El Nino Godzilla. Cuaca kering berkepanjangan membuat sektor pangan menghadapi tekanan, terutama komoditas hortikultura yang sangat bergantung pada ketersediaan air.
Cabai rawit merah tercatat sebagai komoditas dengan kenaikan harga paling tinggi di pasar tersebut. Berdasarkan keterangan Norman, salah seorang pedagang sayur, harga cabai rawit merah sebelumnya berada di kisaran Rp65.000 per kilogram. Kini, harga jualnya meningkat menjadi sekitar Rp85.000 per kilogram. Kenaikan sebesar Rp20.000 itu membuat cabai rawit merah semakin mahal bagi pembeli, khususnya rumah tangga dan pelaku usaha makanan yang menggunakannya sebagai bahan utama.
Norman menjelaskan, perubahan harga berkaitan dengan pasokan dari daerah penghasil yang tidak sebaik biasanya. Kemarau panjang dapat menghambat pertumbuhan tanaman, menurunkan hasil panen, serta meningkatkan risiko tanaman mengalami kekeringan. Ketika jumlah cabai yang masuk ke pasar menurun, pedagang harus menyesuaikan harga untuk mengikuti biaya pengadaan dan persediaan yang terbatas. Situasi tersebut menunjukkan bahwa pengaruh El Nino Godzilla tidak hanya terasa pada kondisi cuaca, tetapi juga mulai berdampak langsung terhadap harga pangan di tingkat pasar. Jika kemarau terus berlangsung, harga cabai berpotensi tetap tinggi hingga pasokan kembali normal.
Selain cabai yang menjadi perhatian utama, cabai merah keriting juga mengalami kenaikan harga di Tigaraksa. Komoditas tersebut kini dijual dengan harga Rp60.000 per kilogram, setelah sebelumnya berada pada kisaran Rp40.000 per kilogram. Perubahan harga ini membuat cabai merah keriting menjadi salah satu komoditas lain yang turut mengalami peningkatan dalam perkembangan harga di lapangan.
Kenaikan itu disampaikan oleh Norman ketika ditemui di lapaknya pada Selasa, 29 September 2026. Menurut keterangannya, harga cabai merah keriting tidak baru berubah pada hari tersebut. Kenaikan telah berlangsung sejak beberapa minggu sebelumnya, sehingga harga komoditas itu bergerak dari Rp40.000 menjadi Rp60.000 per kilogram.
Norman juga menyebutkan bahwa kenaikan harga tersebut sudah terjadi sejak tingkat pasar induk. Dengan demikian, perubahan harga yang terlihat di lapaknya merupakan bagian dari perkembangan harga yang telah berlangsung pada rantai perdagangan sebelumnya. Keterangan mengenai asal mula pergerakan harga itu disampaikan Norman secara langsung saat memberikan informasi di tempatnya berjualan.
Perkembangan harga cabai merah keriting menjadi catatan tersendiri dalam kondisi perdagangan cabai di Tigaraksa. Dari harga Rp40.000 per kilogram, komoditas tersebut kini mencapai Rp60.000 per kilogram. Informasi ini menunjukkan bahwa kenaikan tidak hanya tercatat pada satu jenis cabai, melainkan juga dialami cabai merah keriting. Pernyataan Norman menjadi dasar keterangan mengenai perubahan harga tersebut, termasuk waktu penyampaian informasi dan riwayat kenaikan yang telah berlangsung beberapa minggu. Hingga Selasa, 29 September 2026, harga cabai merah keriting di lapak Norman tercatat Rp60.000 per kilogram, sedangkan harga sebelumnya berada di angka Rp40.000 per kilogram. Kenaikan yang telah muncul sejak tingkat pasar induk itu menjadi bagian dari perkembangan harga komoditas yang perlu diperhatikan di Tigaraksa.
Kenaikan harga cabai di Tigaraksa berkaitan dengan terganggunya pasokan dari tingkat petani. Norman menjelaskan bahwa cuaca ekstrem dan kemarau panjang membuat produksi cabai menurun, sehingga jumlah komoditas yang dapat dikirim ke pasar menjadi lebih terbatas. Ketika pasokan berkurang, kebutuhan pasar tidak mudah dipenuhi dan harga cabai mengalami kenaikan.
Kondisi kekeringan memberikan tekanan besar terhadap tanaman cabai. Ketersediaan air yang terbatas dapat menghambat pertumbuhan tanaman, sementara suhu dan cuaca yang tidak mendukung meningkatkan risiko kerusakan di lahan pertanian. Tanaman yang semestinya berkembang hingga menghasilkan buah menjadi lebih rentan mengalami gangguan sebelum masa panen. Dampaknya, hasil yang diperoleh petani tidak sebanyak dalam kondisi cuaca yang lebih mendukung.
Menurut Norman, proses tanam juga menjadi sulit selama kemarau panjang. Petani menghadapi kendala dalam menyiapkan dan mempertahankan kondisi lahan agar tetap sesuai untuk pertumbuhan cabai. Keterbatasan air membuat perawatan tanaman memerlukan perhatian lebih, tetapi tidak semua tanaman mampu bertahan. Banyak tanaman cabai bahkan mati sebelum memasuki masa panen, sehingga potensi hasil panen semakin berkurang.
Selain tanaman yang mati, sebagian petani juga mengalami gagal panen. Situasi tersebut memperkecil jumlah cabai yang dapat dikumpulkan dan disalurkan kepada pedagang maupun pasar di Tigaraksa. Pasokan yang menurun kemudian berpengaruh terhadap ketersediaan cabai di tingkat konsumen. Dengan demikian, cuaca ekstrem dan kemarau panjang menjadi faktor yang disebut Norman dalam menjelaskan berkurangnya pasokan cabai dari petani serta kenaikan harga yang terjadi.
Kenaikan harga cabai di Tigaraksa mulai dirasakan langsung oleh konsumen, terutama rumah tangga yang menjadikan cabai sebagai kebutuhan pelengkap sehari-hari. Harga yang melambung membuat sebagian masyarakat harus menyesuaikan pengeluaran untuk membeli bahan pangan lain. Cabai tetap dibutuhkan, tetapi jumlah yang dibeli tidak lagi sama seperti ketika harganya masih terjangkau.
Sejumlah konsumen memilih mengurangi takaran pembelian, dari yang sebelumnya membeli dalam jumlah cukup untuk beberapa hari menjadi sekadar memenuhi kebutuhan memasak hari itu. Ada pula yang menunda pembelian atau mengganti cabai dengan bahan lain, meskipun pilihan tersebut tidak sepenuhnya memenuhi kebutuhan rasa dalam masakan. Situasi ini menunjukkan bahwa kenaikan harga cabai turut menekan daya beli masyarakat di tingkat pasar.
Dampak serupa dirasakan para pedagang yang berjualan cabai. Ketika harga dari pemasok meningkat, pedagang perlu menjual dengan harga lebih tinggi agar tidak mengalami kerugian. Namun, harga tersebut membuat pembeli mengurangi jumlah belanja, sehingga perputaran barang menjadi lebih lambat. Pedagang menghadapi pilihan sulit mempertahankan harga jual dan kehilangan sebagian pembeli, atau menekan margin keuntungan agar dagangan tetap terserap.
Norman, salah satu pedagang, mengakui bahwa kenaikan harga cabai berpengaruh terhadap pendapatannya. Ia menyebut omzet yang diperoleh kini turun hingga sepertiga dibandingkan pendapatan normal sebelum harga cabai meningkat. Penurunan tersebut terjadi karena jumlah pembelian pelanggan berkurang, sementara harga jual yang lebih tinggi belum mampu mengimbangi penurunan volume transaksi.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa lonjakan harga cabai tidak hanya membebani konsumen, tetapi juga berdampak pada aktivitas perdagangan di pasar. Konsumen harus mengatur ulang belanja, sedangkan pedagang mengalami penurunan omzet karena berkurangnya daya beli dan jumlah transaksi.



