SERANG, BANTEN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Anggota DPR Provinsi Papua Barat Daya, Wilem Assem, menyerukan penghentian seluruh bentuk pembakaran hutan dan lahan di Papua. Seruan tersebut disampaikan karena kebakaran hutan dan lahan atau karhutla dapat menimbulkan dampak luas, baik terhadap masyarakat maupun lingkungan. Menurut perhatian yang disampaikannya, pembakaran tidak boleh dipandang sebagai persoalan biasa karena asap dan kerusakan yang ditimbulkan dapat berlangsung lebih lama daripada peristiwa api itu sendiri.
Asap karhutla berpotensi menurunkan kualitas udara di sekitar titik api dan wilayah yang terdampak sebarannya. Kondisi tersebut dapat mengganggu aktivitas masyarakat serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lanjut usia, dan warga yang memiliki masalah pernapasan. Paparan asap juga dapat menyebabkan iritasi mata, batuk, dan sesak napas. Karena itu, pencegahan pembakaran hutan dan lahan dinilai penting untuk melindungi kesehatan publik, bukan hanya ketika kebakaran telah meluas, tetapi sejak munculnya potensi api.
Wilem juga menaruh perhatian pada ancaman karhutla terhadap keberlanjutan ekosistem Papua. Kebakaran dapat merusak vegetasi, menghilangkan habitat satwa, dan mengganggu keseimbangan lingkungan yang menopang kehidupan masyarakat. Kerusakan lahan akibat api berpotensi mengurangi kemampuan alam dalam menyerap air serta meningkatkan tekanan terhadap kawasan hutan. Dampaknya tidak selalu terlihat secara langsung, tetapi dapat memengaruhi kualitas lingkungan dalam jangka panjang. Oleh sebab itu, penghentian pembakaran perlu menjadi perhatian bersama, disertai pengawasan dan kepatuhan terhadap upaya perlindungan hutan serta lahan di Papua.
Wilem Assem mengingatkan bahwa dampak kebakaran hutan dan lahan di Papua tidak berhenti pada area yang terbakar. Asap yang muncul dapat bergerak mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga wilayah yang berada jauh dari titik kebakaran pun berpotensi terdampak. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembakaran di satu lokasi dapat menimbulkan persoalan lingkungan yang meluas, bukan hanya bagi kawasan yang mengalami kebakaran secara langsung.
Di dalam asap terdapat partikel-partikel halus yang dapat terbawa angin ke wilayah lain. Ketika partikel tersebut menyebar, kualitas udara di daerah yang semula tidak mengalami kebakaran dapat ikut menurun. Perubahan kualitas udara itu menjadikan dampak kebakaran lebih luas daripada batas lahan yang terbakar. Karena itu, kebakaran tidak sepatutnya dipandang sebagai kejadian setempat semata. Penyebaran asap memperlihatkan bahwa pembakaran memiliki konsekuensi lintas wilayah dan dapat memengaruhi lingkungan di sekitarnya.
Peringatan tersebut menegaskan pentingnya pencegahan sejak awal. Menghentikan pembakaran merupakan langkah utama untuk mencegah asap dan partikel halus menyebar ke wilayah lain. Upaya membuka atau membersihkan lahan sebaiknya tidak dilakukan dengan metode pembakaran, karena api yang digunakan dapat menghasilkan asap dan berisiko meluas dari lokasi semula. Dengan menghindari pembakaran sejak tahap awal, potensi penurunan kualitas udara akibat penyebaran asap dapat dicegah. Seruan untuk menghentikan pembakaran hutan dan lahan menjadi penting agar dampak kebakaran tidak semakin meluas serta tidak membebani wilayah lain yang berada di luar area kejadian.
Asap akibat pembakaran hutan dan lahan perlu menjadi perhatian serius karena dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan ancaman kesehatan masyarakat. Risiko tersebut tidak dirasakan secara sama oleh semua orang. Anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan dan penyakit kronis termasuk kelompok yang memerlukan perlindungan khusus ketika paparan asap terjadi.
Anak-anak masih mengalami perkembangan sistem pernapasan, sehingga paparan udara tercemar dapat mengganggu kenyamanan dan kesehatan mereka. Ibu hamil juga perlu menghindari lingkungan dengan konsentrasi asap tinggi demi menjaga kondisi kesehatan selama kehamilan. Sementara itu, lanjut usia serta penderita asma, penyakit paru, penyakit jantung, atau gangguan kronis lainnya dapat menghadapi risiko yang lebih besar ketika kualitas udara memburuk.
Salah satu komponen berbahaya dalam asap adalah partikel halus PM2.5. Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel ini masuk jauh ke saluran pernapasan. Ketika konsentrasi polutan berada pada tingkat tinggi, paparan PM2.5 dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan. Karena itu, pencegahan pembakaran dan pengendalian sumber asap menjadi langkah penting untuk mengurangi dampaknya terhadap masyarakat.
Dalam keterangannya pada Kamis, 8 Oktober 2026, Wilem menyampaikan, “Jangan membakar hutan dan lahan. Asap adalah racun yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat dan merusak lingkungan. Kita harus menjaga hutan Papua agar tetap menjadi sumber kehidupan bagi generasi mendatang.” Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penghentian pembakaran bukan hanya berkaitan dengan perlindungan hutan, tetapi juga dengan upaya menjaga kesehatan masyarakat, khususnya mereka yang paling rentan terhadap paparan polusi udara.
Perhatian terhadap kelompok rentan perlu berjalan bersama dengan komitmen untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan. Dengan mengurangi sumber asap, masyarakat dapat membantu menciptakan udara yang lebih aman sekaligus mempertahankan fungsi hutan Papua bagi kehidupan.
Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya menghasilkan asap yang mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga merusak lingkungan yang menjadi penopang kehidupan. Api dapat membakar vegetasi secara luas, mulai dari tumbuhan bawah hingga pohon yang membutuhkan waktu panjang untuk tumbuh kembali. Hilangnya tutupan vegetasi mengurangi fungsi kawasan hutan dalam menjaga kondisi mikroklimat, melindungi permukaan tanah, dan menyediakan sumber pangan maupun tempat berlindung bagi berbagai makhluk hidup.
Kerusakan tersebut turut mengancam habitat satwa. Ketika kawasan tempat mencari makan, berkembang biak, dan berlindung terbakar, satwa dapat kehilangan ruang hidupnya atau terdorong berpindah ke wilayah lain. Perubahan ini berpotensi mengganggu hubungan antarspesies dan rantai makanan. Berkurangnya keanekaragaman hayati juga dapat melemahkan keseimbangan ekosistem, karena setiap unsur di dalamnya memiliki peran dalam menjaga keberlangsungan proses alam.
Karhutla juga memengaruhi struktur tanah. Panas dari pembakaran dapat menghilangkan bahan organik di permukaan, mengurangi kesuburan, serta membuat tanah lebih mudah mengalami erosi. Tanah yang rusak tidak mampu menyerap air secara optimal. Akibatnya, kemampuan lingkungan untuk menyimpan air berkurang, sementara limpasan permukaan dan risiko genangan dapat meningkat ketika hujan turun. Kondisi ini pada akhirnya dapat memengaruhi ketersediaan air yang dibutuhkan masyarakat dan ekosistem.
Dampak tersebut menunjukkan bahwa pembakaran hutan dan lahan membawa kerugian yang melampaui batas lokasi kebakaran. Lingkungan yang kehilangan vegetasi dan habitat akan lebih sulit memulihkan fungsi alaminya, termasuk menyerap karbon, menjaga kualitas udara, dan mengatur tata air. Karena itu, seruan Wilem Assem agar pembakaran hutan dan lahan di Papua dihentikan menjadi penting untuk melindungi kesehatan masyarakat sekaligus mempertahankan keberlanjutan ekosistem yang menopang kehidupan.

