Produksi Padi Nasional Diklaim Tetap Terjaga di Tengah Dampak El Nino

Produksi Padi Nasional Diklaim Tetap Terjaga di Tengah Dampak El Nino

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan produksi padi nasional tetap aman meskipun fenomena El Nino memberikan dampak terhadap sejumlah lahan pertanian. Menurut dia, area pertanaman padi yang terdampak diperkirakan masih berada dalam batas terbatas, sehingga belum mengganggu keseluruhan produksi nasional.

Amran memperkirakan luas lahan yang terkena dampak El Nino maksimal sekitar 50 ribu hektare. Angka tersebut meningkat dibandingkan perkiraan sekitar 30 ribu hektare yang disampaikan tiga bulan sebelumnya. Kenaikan luas terdampak itu menunjukkan adanya pengaruh El Nino terhadap lahan pertanian, tetapi pemerintah menilai skalanya masih dapat dikendalikan.

Perkiraan tersebut dibandingkan dengan proyeksi total luas pertanaman padi nasional yang mencapai sekitar 11 juta hektare hingga akhir tahun. Dengan perbandingan itu, lahan yang terdampak hanya menjadi bagian kecil dari keseluruhan area pertanaman padi. Pemerintah pun menilai kondisi tersebut belum mengubah gambaran umum mengenai keamanan produksi padi nasional.

Pernyataan mengenai kondisi lahan dan produksi padi itu disampaikan Amran setelah melakukan inspeksi mendadak di lingkungan kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Kamis (8/10). Dalam kesempatan tersebut, ia menyebut dampak El Nino terhadap area pertanaman memang mengalami peningkatan dari perkiraan sebelumnya, namun masih berada dalam skala terkendali jika dibandingkan dengan total luas pertanaman padi yang diproyeksikan sampai penghujung tahun.

Dengan demikian, pemerintah mempertahankan penilaian bahwa produksi padi nasional tetap aman di tengah pengaruh El Nino. Perkiraan dampak maksimal sekitar 50 ribu hektare menjadi dasar perbandingan dengan proyeksi area pertanaman sekitar 11 juta hektare, sementara angka tersebut terus dipantau berdasarkan perkembangan kondisi lahan.

Pemerintah menjalankan sejumlah langkah untuk mempertahankan produksi padi nasional selama musim kering yang dipengaruhi El Nino. Penguatan jaringan irigasi menjadi salah satu prioritas agar pasokan air ke area persawahan tetap tersedia, terutama di wilayah yang berisiko mengalami penurunan debit. Perbaikan saluran, pengaturan distribusi air, serta pemanfaatan sumber air alternatif dilakukan secara bertahap untuk membantu petani mempertahankan jadwal tanam dan mengurangi dampak kekeringan.

Selain memperkuat irigasi, pemerintah memperluas pompanisasi dan irigasi perpompaan atau irpom. Program ini memungkinkan air dari sungai, embung, dan sumber lainnya dialirkan ke lahan yang tidak sepenuhnya terlayani jaringan irigasi. Optimalisasi lahan atau oplah juga terus didorong untuk meningkatkan pemanfaatan area pertanian yang tersedia. Melalui langkah tersebut, lahan yang sebelumnya kurang produktif atau tidak dapat ditanami secara optimal diharapkan kembali mendukung kesinambungan produksi.

Upaya lain dilakukan melalui penggunaan benih yang memiliki toleransi lebih baik terhadap kekeringan. Pemerintah mendorong petani menggunakan varietas berproduktivitas tinggi dan sesuai dengan kondisi setempat, termasuk melalui metode PM-AAS atau pertanian modern, yang dikenal sebagai advanced agricultural system. Pendekatan ini menggabungkan pemilihan benih unggul, pengelolaan air, teknologi budidaya, dan pemantauan pertanaman agar hasil dapat ditingkatkan dengan penggunaan sumber daya yang lebih efisien.

Berbagai intervensi tersebut bukan sekadar rencana, melainkan sedang berjalan di lapangan melalui koordinasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh, dan kelompok tani. Pelaksanaannya diarahkan untuk menjaga tanaman tetap tumbuh, mempertahankan produktivitas, serta memastikan ketersediaan beras ketika musim kering berlangsung. Dengan kombinasi irigasi, pompanisasi, oplah, dan benih adaptif, pemerintah berupaya menjaga kesinambungan produksi padi sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah perubahan kondisi iklim.

Pemerintah berupaya menjaga keseimbangan kepentingan petani dan kebutuhan masyarakat dalam situasi harga pangan yang dinamis. Di satu sisi, harga gabah perlu berada pada tingkat yang memberikan keuntungan sehingga petani memperoleh penghargaan yang layak atas hasil produksinya. Di sisi lain, harga beras sebagai bahan pangan utama harus tetap terjangkau agar tidak menambah beban rumah tangga. Kebijakan tersebut ditempuh dengan mempertimbangkan kondisi produksi, perkembangan harga, serta kebutuhan masyarakat secara menyeluruh.

Menteri Pertanian Amran menyebut tingginya harga gabah saat ini memberikan keuntungan bagi petani. Kondisi itu dinilai penting untuk menjaga kesejahteraan produsen sekaligus mendorong keberlanjutan usaha tani. Pendapatan yang lebih baik dapat menjadi salah satu faktor yang memperkuat semangat petani untuk terus berproduksi. Pemerintah pun berupaya memastikan kepentingan petani tetap diperhatikan, tanpa mengabaikan akses masyarakat terhadap beras.

Untuk menjaga harga di tingkat konsumen, pemerintah menyiapkan operasi pasar yang dilakukan oleh Bulog. Langkah tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas pasokan dan harga beras ketika diperlukan. Selain operasi pasar, pemerintah juga menyalurkan beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta bantuan pangan. Berbagai kebijakan itu diarahkan untuk membantu masyarakat memperoleh beras dengan harga yang tetap terjangkau.

Pemerintah meyakini ketersediaan beras nasional masih mencukupi kebutuhan masyarakat. Keyakinan tersebut menjadi dasar bagi pelaksanaan kebijakan yang berusaha melindungi dua pihak sekaligus, yakni petani sebagai produsen dan masyarakat sebagai konsumen. Dengan menjaga keuntungan petani serta menyiapkan langkah stabilisasi di tingkat konsumen, pemerintah berharap kondisi perberasan nasional tetap terkendali. Pendekatan ini juga menunjukkan bahwa pengelolaan pangan tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi turut memperhatikan keterjangkauan dan ketahanan pasokan.

Peningkatan produksi tidak hanya diarahkan untuk menjaga ketersediaan beras, tetapi juga untuk memperkuat pendapatan petani. Menteri Pertanian Amran menyampaikan bahwa penggunaan benih unggul, metode budidaya baru, serta teknologi pertanian dengan tingkat penerapan yang lebih tinggi dapat meningkatkan produktivitas lahan. Pendekatan tersebut diharapkan membuat kegiatan usaha tani lebih efisien, terukur, dan mampu memberikan hasil ekonomi yang lebih baik bagi petani.

Salah satu metode yang disebutkan adalah PM-AAS. Menurut Amran, penerapan metode PM-AAS yang dipadukan dengan benih unggul dan teknologi tinggi berpotensi menghasilkan pendapatan sekitar Rp15–16 juta per bulan untuk setiap hektare lahan. Sementara itu, pada lahan seluas setengah hektare, perhitungannya diperkirakan mencapai sekitar Rp8 juta per bulan. Besaran tersebut merupakan proyeksi yang bergantung pada produktivitas, biaya usaha tani, harga jual, serta konsistensi penerapan teknologi di lapangan.

Pemerintah ingin menggerakkan metode tersebut di seluruh Indonesia agar manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh petani di wilayah tertentu. Perluasan penerapan akan membutuhkan pendampingan, ketersediaan benih berkualitas, akses terhadap alat dan teknologi, serta dukungan pembiayaan. Dengan demikian, inovasi budidaya dapat disesuaikan dengan karakteristik lahan dan kondisi petani di masing-masing daerah, sekaligus mendorong peningkatan produksi secara berkelanjutan.

Ketika kondisi produksi dinilai tetap aman di tengah dampak El Nino, pemerintah mulai menjajaki peluang pasar luar negeri. Setelah Malaysia, negara yang dibidik berikutnya adalah Filipina, Papua Nugini, dan Timor-Leste. Langkah ini masih berada pada tahap penjajakan dan belum berarti ekspor telah terealisasi. Pemerintah perlu memastikan terlebih dahulu bahwa kebutuhan dalam negeri tetap terpenuhi, sebelum peluang perdagangan beras dengan negara-negara tersebut dikembangkan lebih lanjut.