JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Kelurahan Srengseng, Sukabumi Utara, dan Taman Sari, Jakarta Barat, berhasil masuk dalam daftar 10 besar finalis Benyamin S Award yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pencapaian tersebut menjadi kesempatan bagi ketiga kelurahan untuk memperkenalkan keunggulan wilayah sekaligus menunjukkan hasil berbagai program yang telah dijalankan bersama masyarakat.
Dalam penilaian yang berlangsung pada Kamis, 8 Oktober, masing-masing kelurahan menampilkan program unggulan dan karakter kawasan di hadapan tim juri. Presentasi tersebut tidak hanya menggambarkan kondisi wilayah, tetapi juga memperlihatkan strategi pengelolaan lingkungan, pemberdayaan warga, pelestarian budaya, serta kolaborasi yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Kelurahan Srengseng mengandalkan potensi wisata ekologi dan pembagian zona kawasan sebagai kekuatan utama. Penataan tersebut menunjukkan upaya untuk mengembangkan lingkungan secara terarah dengan tetap memperhatikan fungsi ruang dan keberlanjutan. Pendekatan ini menjadi salah satu identitas yang ditonjolkan dalam tahapan penilaian finalis.
Sementara itu, Kelurahan Sukabumi Utara menampilkan program pemberdayaan masyarakat yang dipadukan dengan kekayaan budaya lokal. Keterlibatan warga menjadi unsur penting dalam pelaksanaan berbagai kegiatan, sehingga potensi sosial dan budaya dapat terus dikembangkan. Adapun Kelurahan Taman Sari menonjolkan kehidupan masyarakat yang multietnis, rukun, dan kolaboratif. Keragaman tersebut dipandang sebagai modal sosial untuk membangun kebersamaan di tengah kawasan perkotaan.
Ketiga kelurahan kini menyiapkan strategi terbaik untuk menghadapi tahapan akhir Benyamin S Award. Perbedaan karakter dan program unggulan menjadi kekuatan masing-masing dalam memperebutkan posisi terbaik, sekaligus mencerminkan beragam potensi yang dimiliki wilayah Jakarta Barat.
Kelurahan Srengseng menampilkan potensi wilayah melalui Festival Hutan Kota Srengseng yang mengusung tema “Hutan, Kota, dan Kita”. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi untuk memperlihatkan kesiapan wilayah menuju babak final Benyamin S Award. Festival tersebut menitikberatkan pada wisata ekologi, upaya konservasi, serta keterpaduan berbagai aktivitas masyarakat lokal. Dengan pendekatan itu, hutan kota tidak hanya dipandang sebagai ruang terbuka hijau, tetapi juga sebagai tempat edukasi, rekreasi, dan pengembangan potensi warga.
Dalam rangkaian penilaian, tim diajak berkeliling menyusuri kawasan hutan kota yang terbagi ke dalam empat zona utama. Zona hijau memperlihatkan fungsi lingkungan dan upaya menjaga kelestarian vegetasi. Zona komunitas menampilkan kegiatan warga serta kolaborasi yang berlangsung di lingkungan sekitar. Selanjutnya, zona UMKM memperkenalkan produk dan kreativitas pelaku usaha lokal, sedangkan zona budaya mengangkat identitas, tradisi, dan ekspresi seni masyarakat Srengseng. Pembagian tersebut dirancang untuk menunjukkan keterhubungan pelestarian alam dan kehidupan sosial ekonomi warga.
Lurah Srengseng Tariswan menjelaskan bahwa festival itu merupakan pengemasan kembali berbagai kegiatan yang sebelumnya telah berjalan di wilayahnya. Beragam program tersebut disusun menjadi satu rangkaian yang utuh, mulai dari pembukaan hingga penutupan, sehingga dapat disaksikan secara lebih terarah oleh tim penilai maupun masyarakat. Menurutnya, konsep ini sekaligus memperkuat pesan bahwa pengelolaan lingkungan harus berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat.
Tariswan menyatakan optimisme Srengseng dapat meraih penghargaan. Ia menilai prinsip wilayah yang bersih, nyaman, indah, dan sejahtera telah diterapkan dalam berbagai kegiatan serta penataan kawasan. Optimisme itu diperkuat oleh keterlibatan warga, komunitas, pelaku UMKM, dan unsur kelurahan dalam menjaga kesinambungan program. Melalui festival tersebut, Srengseng berupaya membuktikan bahwa hutan kota dapat menjadi pusat konservasi sekaligus ruang bersama yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Kelurahan Sukabumi Utara, Jakarta Barat, menonjolkan kearifan lokal yang terpadu dalam upaya memperkuat kesiapan menuju final Benyamin S Award. Wilayah ini memiliki karakter warga yang baik, guyub, dan aktif menjaga hubungan sosial. Kekuatan tersebut berpadu dengan budaya Betawi yang masih terasa dalam kehidupan masyarakat, sehingga menjadi modal penting dalam pengelolaan lingkungan sekaligus pengembangan potensi wilayah.
Lurah Sukabumi Utara, Ali Syahidin, menyampaikan bahwa sejumlah aspek telah ditingkatkan setelah kunjungan tim Benyamin S Award sebelumnya. Evaluasi dari kunjungan tersebut menjadi dasar untuk memperbaiki berbagai hal yang masih dinilai kurang, baik dari sisi penataan lingkungan, kebersihan, kenyamanan, maupun keterlibatan warga. Menurutnya, partisipasi dan pemberdayaan masyarakat merupakan unsur penting agar pengelolaan wilayah tidak hanya bergantung pada aparatur kelurahan, tetapi menjadi tanggung jawab bersama.
Empat kategori penghargaan juga telah diterapkan sebagai arah pembenahan di Sukabumi Utara. Keempatnya meliputi lingkungan yang bersih, suasana yang nyaman, pemandangan yang indah, dan warga yang sejahtera. Penerapan kategori tersebut tidak sekadar ditujukan untuk memenuhi penilaian kompetisi, melainkan menjadi bagian dari upaya membangun kualitas kehidupan masyarakat secara berkelanjutan. Warga didorong untuk menjaga hasil pembangunan serta terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan lingkungan.
Ali berharap pembangunan di Sukabumi Utara tidak berhenti setelah kompetisi berakhir. Ia ingin berbagai perbaikan terus dilanjutkan agar wilayah tersebut berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Salah satu potensi yang dikembangkan ialah destinasi wisata budaya Kampung Silat Rawa Belong. Kawasan ini telah ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Dinas Kebudayaan. Hingga laporan dibuat, Kampung Silat Rawa Belong juga telah mendapat kunjungan Indonesian Heritage Society pada Selasa. Pengembangan destinasi tersebut diharapkan memperkuat identitas Betawi sekaligus membuka peluang bagi pemberdayaan ekonomi warga.
Kelurahan Taman Sari ditetapkan sebagai finalis ketiga dari Jakarta Barat dalam ajang Benyamin S Award. Menjelang babak final, wilayah ini menampilkan identitas budaya multietnis yang tumbuh berdampingan dengan perkembangan modern tanpa meninggalkan kearifan lokal. Kehidupan masyarakat Taman Sari memperlihatkan bahwa kemajuan kawasan dapat berjalan seiring dengan pelestarian nilai, tradisi, dan karakter lingkungan yang diwariskan antargenerasi.
Lurah Taman Sari, Abdul Malik Raharusun, menyampaikan bahwa rasa kekeluargaan dan keguyuban menjadi fondasi utama kehidupan warga. Identitas Betawi di Taman Sari terbentuk melalui perjalanan panjang kawasan tersebut, sejak masa Sunda Kelapa hingga Batavia. Dalam prosesnya, masyarakat setempat berinteraksi dengan komunitas Arab, Tionghoa, dan Hindustan yang turut membentuk warna sosial serta kebudayaan wilayah. Perjumpaan berbagai latar belakang itu melahirkan tradisi dan pola kehidupan yang khas, sekaligus memperkaya identitas masyarakat Taman Sari.
Keberagaman tersebut tidak menjadi penghalang bagi persatuan. Sebaliknya, perbedaan mendorong warga untuk membangun kolaborasi dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Semangat kebersamaan terlihat dalam upaya menjaga lingkungan, merawat budaya, serta mendukung program pembangunan yang melibatkan berbagai unsur masyarakat. Bagi Taman Sari, keberagaman merupakan modal sosial untuk mempertahankan kerukunan sekaligus menghadapi perubahan zaman.
Keikutsertaan dalam Benyamin S Award menjadi motivasi bagi lurah dan masyarakat Taman Sari untuk menunjukkan penerapan empat kategori penilaian secara nyata di wilayahnya. Setelah masuk sebagai finalis, rangkaian persiapan terus dilakukan dengan menata data, kegiatan, dan praktik pelayanan yang telah dijalankan bersama warga. Ketiga lurah finalis dari Jakarta Barat selanjutnya akan mengikuti penilaian tatap muka pada 15 Oktober. Mereka akan mempresentasikan rangkaian kegiatan di wilayah masing-masing di hadapan dewan juri. Adapun puncak Benyamin S Award dijadwalkan berlangsung pada akhir Oktober.

