Perlindungan Motif Tenun NTT Didorong untuk Perkuat Ekonomi Lokal

Perlindungan Motif Tenun NTT Didorong untuk Perkuat Ekonomi Lokal

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 Oktober 2026, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mendorong penguatan perlindungan hak kekayaan intelektual terhadap motif dan karya tenun Nusa Tenggara Timur. Dorongan tersebut disampaikan dalam kegiatan Flobamorata Creative Expo (FCE) 2026 di Kupang, NTT, pada Sabtu (3/10/2026). Menurut Destry, perlindungan itu penting agar motif serta karya tenun yang dihasilkan masyarakat tidak kehilangan pengakuan atas asal-usul dan nilai kreativitasnya.

Penguatan hak kekayaan intelektual ditujukan untuk melindungi para penenun sebagai penghasil karya lokal. Dengan perlindungan yang lebih kuat, motif dan produk tenun NTT dapat tetap dipandang sebagai bagian dari kekayaan budaya yang memiliki identitas serta nilai tersendiri. Langkah tersebut juga menjadi upaya untuk menjaga keberlanjutan karya yang dibuat melalui pengetahuan, keterampilan, dan proses kreatif masyarakat penenun.

Selain menjaga karya lokal, perlindungan terhadap motif dan tenun diharapkan dapat meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang menghasilkan produk tersebut. Pengakuan atas hak kekayaan intelektual dapat memperkuat posisi penenun dalam memperoleh manfaat dari karya mereka, sehingga nilai budaya yang terkandung dalam tenun berjalan seiring dengan nilai ekonominya. Dengan demikian, produk tenun tidak hanya dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi juga dapat memberi dampak yang lebih besar bagi kehidupan masyarakat penghasilnya.

Pernyataan Destry dalam FCE 2026 menegaskan pentingnya perhatian terhadap perlindungan karya tenun NTT. Dorongan ini menempatkan penenun dan karya lokal sebagai bagian penting dalam upaya memperkuat ekonomi masyarakat, sekaligus menjaga kekayaan budaya Nusa Tenggara Timur agar tetap terlindungi.

FCE 2026 hadir sebagai pameran yang menempatkan produk unggulan daerah sebagai bagian penting dari pembahasan mengenai penguatan ekonomi lokal. Pameran ini berfokus pada tiga kekuatan utama Nusa Tenggara Timur, yaitu produk tenun, kuliner, dan kopi. Ketiganya mencerminkan kekayaan sumber daya, keterampilan, serta identitas budaya masyarakat di berbagai wilayah NTT. Dengan menampilkan ragam produk tersebut dalam satu ruang, FCE 2026 memperlihatkan luasnya potensi yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

Destry memandang pengembangan produk unggulan daerah sebagai unsur penting dalam membangun perekonomian NTT. Menurut pandangan tersebut, kemajuan ekonomi tidak hanya bergantung pada sektor berskala besar, tetapi juga pada kemampuan daerah mengolah kekuatan lokal menjadi produk yang bernilai. Tenun, misalnya, tidak sekadar memiliki fungsi sebagai kain, melainkan mengandung motif, teknik, dan pengetahuan budaya yang diwariskan antargenerasi. Demikian pula kopi dan kuliner dapat menjadi representasi karakter wilayah apabila dikembangkan dengan memperhatikan mutu, keaslian, serta kebutuhan konsumen.

Keberagaman produk lokal itu perlu dikelola secara optimal agar peluang ekonominya dapat terbuka lebih luas. Pengembangan dapat mencakup peningkatan kualitas, pengemasan, pencantuman informasi asal produk, serta penguatan promosi kepada calon konsumen. Langkah-langkah tersebut membantu pelaku usaha memperkenalkan produk secara lebih konsisten tanpa menghilangkan ciri khas yang menjadi pembeda. Dalam konteks ini, pameran berperan sebagai ruang untuk mempertemukan karya dan produk daerah dengan perhatian publik yang lebih beragam.

Perlindungan terhadap karya lokal juga berkaitan erat dengan peluang peningkatan nilai produk. Motif tenun yang terlindungi dapat tetap terhubung dengan komunitas dan tradisi yang melahirkannya, sementara produk kopi dan kuliner membutuhkan pengakuan atas asal, karakter, serta kualitasnya. Perlindungan tersebut dapat mendukung upaya memperkuat identitas produk dan mengurangi risiko penggunaan tanpa penghargaan yang layak kepada penciptanya. Dengan fondasi itu, produk-produk unggulan NTT berpeluang menjangkau pasar yang lebih luas, sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi pelaku dan masyarakat setempat.

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian UMKM Reghi Perdana menilai penguatan kapasitas produksi perlu berjalan beriringan dengan kemampuan pelaku usaha dalam membaca kebutuhan konsumen. Peningkatan jumlah produksi tanpa pemahaman terhadap selera, daya beli, dan perubahan tren pasar berisiko membuat produk tidak terserap secara optimal. Karena itu, pengembangan UMKM, termasuk pengrajin tenun NTT, perlu didukung perencanaan usaha yang menghubungkan proses produksi dengan permintaan nyata.

Menurut Reghi, pelaku UMKM juga harus memperhatikan standar kualitas secara konsisten. Kualitas mencakup pemilihan bahan, ketepatan proses pengerjaan, ketahanan produk, kerapian, serta kemasan yang mampu meningkatkan kepercayaan pembeli. Pemenuhan standar tersebut penting agar produk tidak hanya menarik bagi konsumen lokal, tetapi juga memiliki peluang masuk ke pasar yang lebih luas, termasuk jaringan ritel, pengadaan korporasi, dan perdagangan antardaerah.

Akses pasar menjadi bagian penting dalam pengembangan UMKM karena menentukan keberlanjutan kegiatan usaha. Pelaku usaha membutuhkan saluran penjualan yang beragam, promosi yang tepat, serta jejaring distribusi yang dapat mempertemukan produk dengan konsumen potensial. Pendampingan pemerintah dan mitra terkait dapat diarahkan untuk memperkuat pemasaran, memperluas koneksi rantai pasok, dan meningkatkan kemampuan negosiasi. Dengan demikian, peningkatan produksi, mutu, dan pemahaman pasar dapat membentuk fondasi usaha yang lebih tangguh sekaligus memperbesar kontribusi UMKM terhadap ekonomi lokal.

Menurut Reghi, peningkatan kualitas produk UMKM tidak akan memberikan dampak maksimal apabila tidak diikuti akses yang memadai kepada pembeli. Pelaku usaha perlu mengetahui siapa konsumennya, kebutuhan pasar, serta standar produk yang harus dipenuhi agar proses produksi dapat diarahkan secara tepat. Dengan demikian, perbaikan desain, mutu bahan, kemasan, hingga kapasitas produksi tidak berhenti sebagai pencapaian teknis, tetapi dapat berujung pada transaksi yang berkelanjutan dan pertumbuhan usaha.

Akses terhadap pembiayaan juga menjadi unsur penting dalam memperkuat daya saing UMKM. Modal diperlukan untuk membeli bahan baku, memperbarui peralatan, meningkatkan kapasitas, memenuhi sertifikasi, dan menjaga kesinambungan produksi ketika permintaan meningkat. Selain pasar domestik, pelaku usaha perlu memperoleh peluang memasuki pasar ekspor dengan pendampingan mengenai regulasi, kualitas, dokumentasi, dan karakter konsumen di negara tujuan. Keterhubungan dengan rantai pasok yang lebih luas akan membantu UMKM memperoleh kepastian permintaan sekaligus membuka kesempatan menjadi pemasok bagi perusahaan, ritel, maupun lembaga lainnya.

Karena itu, penguatan UMKM tidak cukup hanya dilakukan melalui pelatihan produksi. Dukungan harus mencakup kepastian jalur menuju pasar dan kemampuan memenuhi kebutuhan konsumen secara konsisten, baik dari segi jumlah, mutu, waktu pengiriman, maupun keberlanjutan pasokan. Kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, Bank Indonesia, perbankan, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya akan didorong untuk memperluas dukungan tersebut. Kerja sama ini diharapkan membuat lebih banyak produk UMKM NTT memenuhi standar, terhubung dengan rantai pasok nasional dan internasional, serta memiliki posisi yang lebih kuat dalam persaingan pasar global.