Jakarta | NCS, perusahaan teknologi yang berbasis di Singapura, mengalami kerugian besar setelah seorang mantan pegawainya menghapus 180 server virtual dari sistem pengujian perusahaan. Penghapusan itu mengganggu lingkungan teknologi yang digunakan untuk menguji perangkat lunak dan program sebelum diluncurkan. Nilai kerugian yang disebut dalam perkara mencapai S7.832, atau sekitar Rp12,9 miliar. Jumlah tersebut menjadi ukuran dampak insiden terhadap perusahaan, meskipun server-server yang dihapus bukan bagian dari sistem produksi yang digunakan langsung untuk menjalankan layanan kepada pelanggan.
Server virtual tersebut berada di lingkungan pengujian mandiri milik NCS. Sistem semacam ini membantu tim teknologi mencoba, memeriksa, dan menyempurnakan perangkat lunak maupun program sebelum produk atau pembaruan diperkenalkan secara resmi. Karena berfungsi untuk pengujian, lingkungan itu berbeda dari sistem operasional utama. Informasi yang tersimpan di dalamnya juga tidak tergolong data sensitif. Namun, penghapusan dalam jumlah besar tetap menimbulkan konsekuensi: sumber daya pengujian harus dipulihkan, pekerjaan pengembangan dapat terganggu, dan perusahaan perlu mengeluarkan biaya untuk menangani dampaknya.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa infrastruktur pengujian tetap memiliki nilai penting, sekalipun tidak menyimpan informasi sensitif atau melayani pengguna secara langsung. Server virtual menyediakan kapasitas komputasi dan konfigurasi yang diperlukan agar berbagai uji coba dapat berlangsung. Hilangnya banyak server sekaligus dapat menghambat proses kerja yang bergantung pada lingkungan tersebut serta memerlukan upaya untuk membangun kembali kapasitas yang hilang. Dalam perkara ini, nilai kerugian yang dilaporkan mencerminkan dampak penghapusan terhadap NCS, bukan semata-mata nilai informasi yang tersimpan pada server. Setelah proses hukum atas tindakan mantan pegawai itu berjalan, perkara tersebut berujung pada hukuman penjara selama dua tahun delapan bulan bagi pelaku.
Kandula Nagaraju, warga India berusia 39 tahun, pernah menjadi bagian dari tim beranggotakan 20 orang yang bertanggung jawab mengelola sistem komputer untuk keperluan jaminan kualitas atau quality assurance (QA) di NCS. Perannya berada dalam lingkungan kerja yang menangani sistem virtual perusahaan. Berdasarkan dokumen pengadilan, Nagaraju bekerja di NCS sejak sekitar November 2021. Hubungan kerjanya berakhir setelah kontraknya dihentikan pada Oktober 2022, dengan hari terakhir bekerja tercatat pada 16 November 2022.
Penghentian kontrak itu disebut berkaitan dengan kinerja yang dinilai buruk. Namun, Nagaraju memiliki pandangan berbeda mengenai hasil kerjanya. Dokumen pengadilan menyebut ia merasa bingung sekaligus kesal setelah mengetahui kontraknya dihentikan. Ia menilai telah menjalankan tugas dengan baik dan memberikan kontribusi kepada perusahaan selama bekerja di tim QA tersebut. Perbedaan penilaian perusahaan dan keyakinan pribadi itu menjadi latar belakang kekecewaannya setelah masa kerjanya di NCS berakhir.
Setelah meninggalkan perusahaan, Nagaraju tidak mendapatkan pekerjaan lain di Singapura. Situasi tersebut membuatnya harus kembali ke India, menurut keterangan yang tercantum dalam dokumen pengadilan. Perubahan keadaan ini menandai berakhirnya masa kerjanya di Singapura dan menambah beban yang ia hadapi setelah pemutusan kontrak. Informasi tentang pekerjaan, penilaian kinerja, serta kepulangannya disampaikan sebagai bagian dari uraian perkara. Fakta-fakta tersebut memberikan konteks mengenai posisi Nagaraju sebelum peristiwa penghapusan server virtual yang menjadi pokok perkara, tanpa dengan sendirinya menjelaskan atau membenarkan tindakan apa pun yang kemudian dituduhkan kepadanya.
Setelah kontraknya dengan NCS berakhir, Kandula masih dapat masuk ke sistem perusahaan dengan menggunakan kredensial administrator yang dimilikinya. Akses tersebut tidak lagi berkaitan dengan tugas resmi, tetapi memberinya kemampuan untuk menjangkau lingkungan teknologi informasi NCS. Ia kembali mengakses sistem pada 6 dan 17 Januari 2023, sebanyak enam kali secara keseluruhan. Rangkaian login itu menjadi awal dari aktivitas yang kemudian melibatkan pengujian skrip dan sistem QA. Penggunaan kredensial lama menunjukkan pentingnya mencabut akses administrator segera setelah hubungan kerja berakhir.
Pada Februari 2023, Kandula kembali ke Singapura setelah mencari pekerjaan baru di tempat lain. Meski sudah tidak bekerja untuk NCS, pada 23 Februari ia sekali lagi masuk ke sistem perusahaan. Kali ini, ia menggunakan jaringan Wi-Fi milik seorang mantan rekan kerja di NCS untuk mengaksesnya. Penggunaan jaringan tersebut tidak mengubah status akses menjadi sah; ia tetap memasuki sistem tanpa kewenangan. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa koneksi melalui jaringan yang dikenal perusahaan dapat menjadi jalur masuk apabila pemeriksaan identitas pengguna tidak memadai.
Dalam rentang akses itu, Kandula menulis sejumlah skrip untuk menguji apakah server dapat dihapus. Skrip-skrip tersebut bukan sekadar alat untuk memeriksa fungsi sistem secara umum. Rancangannya berhubungan dengan penghapusan server virtual, sehingga pengujiannya membawa risiko terhadap layanan dan data yang bergantung pada infrastruktur NCS. Aktivitas berulang memberi kesempatan untuk mengembangkan serta memeriksa perilaku skrip sebelum digunakan lebih luas. Perusahaan perlu memantau perubahan, perintah administratif, dan pola akses yang menyimpang, terutama dari akun berhak istimewa.
Pada Maret 2023, Kandula mengakses sistem QA NCS sebanyak 13 kali. Di lingkungan itu, skrip yang telah dibuatnya dirancang untuk menghapus server virtual satu demi satu. Penghapusan bertahap dapat membuat dampaknya berkembang seiring eksekusi, alih-alih muncul sebagai satu tindakan besar yang langsung terlihat. Rangkaian kejadian tersebut menghubungkan akses tanpa izin, uji coba skrip, dan penggunaan sistem QA dalam beberapa tahap. Pengendalian akses yang cepat, pencatatan aktivitas, serta pemisahan lingkungan pengujian menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko serupa.
Pada 18 dan 19 Maret 2023, Kandula menjalankan skrip yang menghapus seluruh 180 server virtual milik NCS. Penghapusan tersebut membuat layanan dan sistem yang bergantung pada server-server itu tidak dapat diakses. Sehari setelah rangkaian tindakan tersebut, tim NCS mendapati sistem perusahaan mengalami gangguan dan tidak bisa dibuka seperti biasa. Pada tahap awal, tim berupaya mencari penyebab masalah melalui proses pemecahan masalah. Namun, berbagai upaya itu tidak berhasil memulihkan akses maupun menjelaskan gangguan yang terjadi. Pemeriksaan kemudian mengungkap bahwa server virtual yang menopang sistem telah dihapus, bukan sekadar mengalami kendala operasional sementara. Temuan ini mendorong perusahaan melakukan penyelidikan internal dan mengumpulkan informasi yang dapat membantu mengidentifikasi sumber tindakan tersebut.
NCS membuat laporan polisi pada 11 April 2023. Dalam laporan dan tindak lanjut penyelidikan, perusahaan menyerahkan sejumlah alamat IP yang ditemukan melalui pemeriksaan internal. Informasi itu menjadi bagian dari bahan yang disampaikan kepada polisi untuk membantu penelusuran. Polisi kemudian menyita laptop Kandula sebagai bagian dari penyelidikan. Dari pemeriksaan perangkat tersebut, penyidik menemukan skrip yang digunakan untuk menghapus server virtual. Penemuan itu menghubungkan perangkat yang disita dengan tindakan penghapusan yang sebelumnya menyebabkan sistem NCS tidak dapat diakses. Skrip tersebut menjadi salah satu bukti penting dalam rangkaian penyelidikan, sementara alamat IP dan hasil pemeriksaan internal perusahaan turut memberikan konteks mengenai bagaimana insiden itu ditelusuri.
Penyelidikan juga mengungkap bahwa sebelum menyusun skripnya, Kandula mencari informasi melalui Google mengenai skrip untuk menghapus server virtual. Temuan tersebut menunjukkan adanya pencarian terkait tindakan yang kemudian dilakukan terhadap infrastruktur NCS, sebelum skrip penghapusan ditemukan di laptopnya. Setelah menelusuri insiden dan bukti yang tersedia, kerugian yang dicatat mencapai S$917.832, atau sekitar Rp12,9 miliar. Besaran itu menggambarkan dampak finansial dari penghapusan 180 server virtual dan gangguan yang dihadapi perusahaan. Kandula dijatuhi hukuman penjara selama dua tahun delapan bulan.





