Jakarta | Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membatasi penyelenggaraan konser di Jakarta International Stadium (JIS) agar fungsi utama stadion sebagai tempat pertandingan Persija Jakarta tetap terjaga. Kebijakan ini menempatkan kebutuhan klub dan agenda kompetisi sepak bola sebagai prioritas dalam pemanfaatan fasilitas tersebut. JIS merupakan stadion yang dapat digunakan untuk beragam kegiatan, tetapi pengaturan jadwal diperlukan supaya kegiatan nonolahraga tidak mengganggu perannya sebagai kandang utama Persija. Dengan demikian, pembatasan konser dimaksudkan sebagai upaya menyeimbangkan penggunaan stadion, bukan menghapus kemungkinan penyelenggaraan acara hiburan.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa JIS tetap menjadi kandang utama Persija. Penegasan itu disampaikannya di Balai Kota Jakarta pada Senin, 2 November 2026. Pernyataan tersebut memperjelas arah kebijakan Pemprov DKI: keberadaan konser di JIS perlu disesuaikan dengan kepentingan klub, termasuk kebutuhan stadion untuk pertandingan dan kegiatan terkait Persija. Prioritas ini juga memberi kepastian mengenai fungsi JIS di tengah meningkatnya minat terhadap stadion tersebut sebagai lokasi acara berskala besar. Pemerintah daerah, pengelola stadion, penyelenggara acara, dan klub perlu mempertimbangkan kepentingan tersebut ketika agenda penggunaan dibahas.
Pembatasan jadwal tidak berarti konser dilarang sepenuhnya. Acara musik masih dapat dipertimbangkan, tetapi pelaksanaannya perlu memperhatikan agenda Persija dan kesiapan stadion untuk kembali digunakan bagi pertandingan. Pengaturan yang cermat membantu mengurangi potensi benturan jadwal serta memastikan kebutuhan olahraga tidak tersisih oleh kegiatan lain. Pada saat yang sama, pemanfaatan JIS untuk acara hiburan tetap dapat memberi ruang bagi kegiatan publik dan ekonomi, selama sejalan dengan prioritas yang telah ditegaskan. Bagi penonton, klub, dan promotor, kejelasan prinsip ini penting agar perencanaan dapat dilakukan lebih awal. Dengan menempatkan Persija sebagai pengguna utama, Pemprov DKI berupaya menjaga identitas JIS sebagai kandang klub tanpa menutup fungsi stadion sebagai ruang kegiatan yang lebih luas.
Gubernur DKI Jakarta Pramono meminta PT Jakarta Propertindo (Jakpro), sebagai pengelola Jakarta International Stadium (JIS), untuk mengatur penyelenggaraan konser di stadion tersebut. Arahan ini menempatkan Jakpro sebagai pihak yang perlu mempertimbangkan penggunaan JIS secara cermat, termasuk ketika stadion dimanfaatkan untuk kegiatan hiburan. Pramono menyampaikan permintaan itu dalam kaitannya dengan peran JIS bagi Persija Jakarta.
Menurut arahan gubernur, JIS perlu dipertahankan sebagai kandang utama Persija. Karena itu, pengelolaan konser tidak dapat dipandang terpisah dari fungsi stadion sebagai tempat tim tersebut bermain. JIS bukan hanya ruang untuk menggelar acara, tetapi juga memiliki arti penting bagi kegiatan sepak bola Persija dan para pendukungnya. Menjaga fungsi tersebut menjadi pertimbangan yang mendasari permintaan kepada Jakpro.
Permintaan agar Jakpro mengatur pelaksanaan konser menunjukkan perlunya pengelola memperhatikan beragam fungsi JIS. Stadion dapat digunakan untuk kegiatan selain pertandingan, namun pemanfaatannya tetap perlu sejalan dengan tujuan mempertahankan JIS sebagai kandang Persija. Dengan menugaskan Jakpro untuk mengatur penyelenggaraan, Pramono menegaskan bahwa keputusan terkait kegiatan di stadion perlu memperhitungkan kepentingan tersebut.
Arahan itu tidak dengan sendirinya menjelaskan bentuk pengaturan yang akan diterapkan ataupun rincian jadwal konser. Pokok pernyataan Pramono adalah bahwa Jakpro perlu mengatur penyelenggaraan konser dengan memperhatikan posisi JIS sebagai kandang utama Persija. Dengan demikian, fokusnya terletak pada tanggung jawab pengelola untuk menjaga fungsi stadion, bukan pada rincian kebijakan teknis yang belum disampaikan. Hal ini menegaskan bahwa pemanfaatan JIS untuk konser perlu dikelola dengan mempertimbangkan keberlanjutan perannya bagi Persija, sebagaimana diminta gubernur kepada Jakpro.Kondisi rumput Jakarta International Stadium (JIS) kembali menjadi perhatian setelah Persija Jakarta menghadapi Persik Kediri pada Senin, 26 Oktober 2026. Seusai pertandingan, pelatih Persija, Shin Tae-yong, dan pemain Rizky Ridho menyoroti permukaan lapangan yang dinilai menyulitkan aliran bola. Kritik tersebut menambah pembahasan mengenai kesiapan fasilitas stadion untuk berbagai kegiatan, termasuk pertandingan sepak bola dan konser.
Dalam permainan, kualitas rumput dapat memengaruhi laju serta pantulan bola, kenyamanan pemain, dan kelancaran strategi tim. Ketika permukaan lapangan dianggap kurang mendukung, umpan cepat dan penguasaan bola bisa menjadi lebih sulit dilakukan. Karena itu, penilaian dari pelatih maupun pemain setelah pertandingan menjadi salah satu masukan yang patut dicermati dalam upaya menjaga mutu lapangan JIS.
Sorotan tersebut relevan dengan pembicaraan mengenai pengaturan pemakaian stadion. Konser dan kegiatan berskala besar berpotensi memerlukan persiapan serta pemulihan lapangan, sehingga jadwal penggunaannya perlu direncanakan dengan mempertimbangkan kebutuhan berbagai pihak. Pengelolaan yang cermat dapat membantu memastikan stadion tetap berfungsi sebagai tempat kegiatan publik sekaligus fasilitas olahraga yang siap digunakan.
Meski demikian, kritik Shin Tae-yong dan Rizky Ridho tidak serta-merta menjelaskan seluruh pertimbangan Pemprov DKI dalam mengatur jadwal konser di JIS. Keputusan mengenai penggunaan stadion dapat melibatkan banyak aspek, seperti kalender pertandingan, kebutuhan perawatan, kesiapan teknis, dan dampak kegiatan terhadap kondisi fasilitas. Komentar setelah laga Persija melawan Persik lebih tepat dipahami sebagai konteks yang memperkuat perhatian terhadap pemeliharaan lapangan, bukan sebagai satu-satunya penyebab kebijakan pembatasan.
Bagi pengelola, masukan dari pengguna lapangan dapat menjadi bahan evaluasi, mulai dari pemeriksaan kondisi rumput hingga penjadwalan pemulihan setelah kegiatan. Transparansi mengenai prosedur perawatan dan koordinasi dengan klub juga berpotensi membantu publik memahami alasan di balik pengaturan agenda. Dengan demikian, pembahasan jadwal konser tidak hanya berkisar pada ketersediaan tanggal, tetapi juga pada upaya menjaga standar lapangan dan memastikan JIS dapat digunakan secara berkelanjutan oleh penyelenggara acara maupun tim sepak bola.
Sebelum pertandingan Persija Jakarta melawan Persik Kediri di Jakarta International Stadium (JIS), stadion tersebut dijadwalkan menjadi lokasi dua konser berskala besar. Rangkaian acara itu dimulai dengan konser The Weeknd pada 26–27 September 2026, kemudian dilanjutkan konser Avenged Sevenfold pada 10 Oktober 2026. Kedua konser tersebut berlangsung di JIS dan mendahului laga Persija kontra Persik dalam urutan waktu.
Pencantuman jadwal konser penting untuk menjelaskan konteks penggunaan stadion menjelang pertandingan, terutama ketika perhatian publik kemudian tertuju pada kondisi rumput. Konser The Weeknd berlangsung pada akhir September, sedangkan penampilan Avenged Sevenfold digelar pada awal Oktober. Setelah rangkaian kegiatan itu, JIS digunakan untuk pertandingan sepak bola yang mempertemukan Persija dan Persik Kediri. Urutan ini menjadi bagian dari pembahasan mengenai pengaturan jadwal di stadion yang dipakai untuk berbagai jenis acara.
Seusai pertandingan, muncul kritik terkait kondisi rumput lapangan. Kritik tersebut berkembang dalam percakapan mengenai kesiapan JIS sebagai kandang Persija dan pengelolaan kalender kegiatan di stadion. Dalam konteks itu, jadwal konser disebut sebagai informasi yang relevan karena dua acara musik berlangsung sebelum laga. Namun, urutan waktu saja tidak membuktikan hubungan sebab-akibat konser dan kondisi rumput. Informasi yang tersedia menyebutkan jadwal serta lokasi konser, tetapi tidak menyatakan bahwa salah satu atau kedua konser menyebabkan kerusakan lapangan.
Karena itu, pembahasan mengenai konser dan kritik rumput perlu dipisahkan secara cermat. Fakta yang dapat dicatat adalah The Weeknd tampil di JIS pada 26–27 September 2026, disusul Avenged Sevenfold pada 10 Oktober 2026, sebelum pertandingan Persija melawan Persik Kediri. Sementara itu, kritik mengenai rumput merupakan respons yang muncul sehubungan dengan kondisi lapangan setelah pertandingan. Untuk menilai kaitan di agenda tersebut, diperlukan keterangan teknis dan bukti yang secara langsung menjelaskan keadaan rumput, proses pemeliharaan, serta dampak penggunaan stadion. Tanpa informasi semacam itu, penyebutan kronologi sebaiknya tidak berubah menjadi klaim bahwa konser menjadi penyebab persoalan lapangan.
Baca juga: Kemarau Panjang, Pemprov Jatim Terima Pengajuan Bantuan Air dari 25 Daerah | Kabut Asap Menekan Pariwisata Sumatera Selatan, Diversifikasi Jadi Respons Pemprov | Penyesuaian Tarif TransJakarta Mulai 2026, Ini Penjelasan Pemprov DKI
381 kunjungan

