Jakarta | Vinicius Junior dijatuhi larangan bermain selama empat pertandingan domestik oleh komite disiplin federasi sepak bola Spanyol (RFEF) setelah laga melawan Villarreal dalam lanjutan LaLiga musim 2026/27. Keputusan tersebut berdampak langsung pada jadwal Real Madrid, sebab pemain itu dipastikan tidak dapat tampil ketika timnya menghadapi Barcelona pada 26 Oktober. Dengan demikian, hukuman yang ditetapkan setelah pertandingan kontra Villarreal mencakup laga penting tersebut dan membuat Vinicius absen dari pertemuan dua klub itu.
Putusan RFEF menetapkan masa larangan sebanyak empat pertandingan, dengan cakupan pada kompetisi domestik. Artinya, hukuman yang diumumkan bukan sekadar satu pertandingan dan secara resmi membatasi ketersediaan Vinicius untuk sejumlah laga domestik. Berdasarkan ketetapan itu, absennya dari pertandingan melawan Barcelona pada 26 Oktober sudah dipastikan. Informasi yang tersedia menyebut laga kontra Villarreal sebagai peristiwa yang mendahului keputusan disiplin, tanpa merinci alasan atau bentuk insiden yang menjadi dasar penjatuhan sanksi.
Bagi Real Madrid, kepastian tersebut berarti Vinicius tidak bisa dimainkan dalam pertandingan melawan Barcelona sesuai jadwal yang disebutkan. Namun, rincian mengenai tiga pertandingan domestik lain yang termasuk dalam larangan itu tidak dijelaskan dalam informasi ini. Begitu pula, tidak ada keterangan lebih lanjut mengenai proses penetapan sanksi, respons pemain atau klub, maupun kemungkinan perubahan atas keputusan RFEF. Karena itu, hal yang dapat ditegaskan adalah jumlah hukuman, cakupannya sebagai larangan bermain domestik, serta akibat langsungnya terhadap keikutsertaan Vinicius pada 26 Oktober.
Dengan keputusan komite disiplin tersebut, perhatian tertuju pada dampak praktis bagi susunan pemain Real Madrid saat menghadapi Barcelona. Vinicius Junior tidak akan tersedia untuk pertandingan itu karena sanksi empat laga yang dijatuhkan setelah laga melawan Villarreal. Ketentuan yang diumumkan berlaku pada kompetisi domestik, sehingga laporan ini hanya memastikan ketidakhadirannya dalam pertandingan yang telah disebutkan. Detail lain mengenai penerapan sanksi pada laga berikutnya belum dicantumkan. Kepastian absen pada 26 Oktober menjadi konsekuensi paling jelas dari putusan RFEF bagi pemain Real Madrid tersebut.
Total sanksi empat pertandingan yang dijatuhkan kepada Vinicius Junior berasal dari dua pelanggaran berbeda dalam insiden yang sama. Hukuman tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan reaksinya setelah menerima kartu merah. Otoritas disiplin juga mempertimbangkan tindakan fisik yang terjadi lebih dahulu, sehingga setiap bagian dari sanksi memiliki dasar tersendiri. Pemisahan ini penting untuk memahami mengapa pemain Real Madrid itu harus absen dalam empat laga, termasuk pertandingan melawan Barcelona.
Bagian pertama hukuman berupa skorsing dua pertandingan atas tindakan kekerasan terhadap gelandang Villarreal, Nathan Saliba. Dalam insiden tersebut, Vinicius dilaporkan menjambak rambut Saliba. Perbuatan itu dinilai sebagai tindakan fisik yang melampaui batas persaingan normal di lapangan. Karena itu, sanksi dua laga dijatuhkan untuk pelanggaran tersebut secara terpisah. Hukuman ini merujuk pada perilaku terhadap pemain lawan, bukan pada perbedaan pendapat dengan perangkat pertandingan.
Dua pertandingan tambahan berkaitan dengan sikap Vinicius setelah wasit menunjukkan kartu merah kepadanya. Ia memprotes keputusan tersebut dan berkonfrontasi dengan sikap agresif. Situasi di lapangan kemudian memerlukan campur tangan rekan-rekannya, yang menahannya agar ketegangan tidak semakin meningkat. Dengan demikian, respons setelah keputusan wasit menjadi dasar disipliner kedua, terlepas dari tindakan menjambak rambut yang telah lebih dahulu menjadi perhatian.
Kedua pelanggaran itu menghasilkan total empat laga skorsing: dua pertandingan untuk tindakan menjambak rambut Nathan Saliba dan dua pertandingan lagi untuk perilaku agresif saat memprotes kartu merah. Artinya, jumlah keseluruhan hukuman merupakan akumulasi dari dua jenis pelanggaran, bukan satu sanksi tunggal yang dijatuhkan atas satu tindakan. Dampaknya langsung terasa bagi Real Madrid karena Vinicius tidak dapat tampil selama masa skorsing, termasuk ketika timnya menghadapi Barcelona. Rincian tersebut juga menunjukkan bahwa tindakan terhadap lawan dan sikap terhadap keputusan wasit dinilai secara terpisah dalam penetapan hukuman. Dengan memahami pembagian ini, alasan di balik absennya Vinicius dalam empat pertandingan menjadi lebih jelas, sekaligus menegaskan bahwa kedua perilaku tersebut sama-sama berkontribusi pada sanksi akhir.
Vinicius Junior menyampaikan keberatan terhadap hukuman yang diterimanya dengan menyoroti kejelasan aturan tentang tarikan rambut dalam pertandingan. Baginya, tindakan tersebut perlu dijelaskan secara tegas agar pemain memahami batas perilaku yang dapat berujung pada sanksi. Ia mempertanyakan apakah terdapat ketentuan khusus yang mengatur tindakan menarik rambut, serta bagaimana aturan itu diterapkan di lapangan. Keberatan itu bukan semata-mata penolakan terhadap keputusan yang dijatuhkan, melainkan juga permintaan agar dasar penilaiannya dapat dipahami oleh para pemain. Tanpa penjelasan yang memadai, situasi seperti ini berisiko menimbulkan kebingungan mengenai tindakan apa yang dikategorikan sebagai pelanggaran dan konsekuensi yang mengikutinya.
Dalam menyampaikan pandangannya, Vinicius mengatakan bahwa dirinya tidak pernah menerima sosialisasi mengenai aturan spesifik tersebut. Pernyataan itu menunjukkan adanya jarak penerapan ketentuan oleh ofisial dan pemahaman pemain mengenai aturan yang berlaku. Ia menilai informasi mengenai perilaku yang dapat dikenai hukuman semestinya disampaikan dengan jelas, sehingga pemain tidak hanya mengetahui keputusan setelah insiden terjadi. Kejelasan aturan juga penting untuk menjaga konsistensi penegakan di berbagai pertandingan. Jika suatu tindakan memiliki konsekuensi disipliner tertentu, pemain perlu mengetahui batasannya dan memahami alasan di balik keputusan wasit maupun otoritas kompetisi. Dengan begitu, proses evaluasi terhadap insiden dapat berlangsung lebih transparan.
Keluhannya juga berkaitan dengan apa yang ia anggap sebagai perlakuan yang tidak seimbang di lapangan. Vinicius menyatakan bahwa ia merasa tidak pernah melakukan kekerasan terhadap pemain lain, sementara menurut pengalamannya, ia cukup sering dipukul. Namun, ia merasa kartu justru dijatuhkan kepadanya. Pandangan tersebut menggambarkan rasa frustrasi atas perbedaan perlakuan yang ia rasakan dan sanksi yang diterima. Pernyataan itu perlu dipahami sebagai penilaian pribadi Vinicius, bukan sebagai penetapan bahwa setiap insiden berlangsung persis seperti yang ia gambarkan. Inti keberatannya adalah harapan agar tindakan semua pemain dinilai dengan standar yang sama, dan agar keputusan disipliner dijelaskan secara konsisten. Bagi Vinicius, keterbukaan mengenai aturan tarikan rambut serta penerapannya dapat membantu mengurangi polemik dan membangun kepercayaan terhadap proses pengambilan keputusan dalam pertandingan berikutnya.
Jose Mourinho turut mempertanyakan waktu pengumuman sanksi empat laga yang dijatuhkan kepada Vinicius Junior. Keputusan tersebut dirilis hanya sekitar dua jam sebelum Real Madrid menjalani pertandingan melawan AS Roma di Liga Champions, Kamis, 15 Oktober 2026 dini hari WIB. Jarak waktu yang sangat singkat itu menjadi sorotan karena kabar tersebut muncul ketika para pemain dan staf seharusnya berfokus penuh pada persiapan serta pelaksanaan pertandingan penting di kompetisi Eropa.
Mourinho menilai pemilihan waktu pengumuman berpotensi mengganggu konsentrasi skuad Madrid. Dalam situasi menjelang laga, perhatian pemain dapat terpecah oleh berita mengenai hukuman terhadap salah satu rekan setim mereka, terlebih Vinicius merupakan sosok penting dalam susunan tim. Meski begitu, ia tidak menyatakan bahwa keputusan tersebut pasti mengubah hasil pertandingan. Kritiknya lebih diarahkan pada cara dan waktu informasi itu disampaikan, yang dinilainya kurang tepat bagi klub yang sedang bersiap menghadapi pertandingan besar.
Pelatih tersebut juga menyindir bahwa komite sebenarnya memiliki pilihan waktu lain untuk menyampaikan keputusan. Menurut Mourinho, pengumuman dapat dilakukan pada pagi hari, sehingga klub mempunyai kesempatan lebih baik untuk menerima dan mengelola kabar tersebut sebelum pertandingan. Bahkan, keputusan itu dapat disampaikan keesokan paginya apabila tidak ada alasan mendesak untuk merilisnya pada malam sebelum laga.

