Jakarta | Sejak pagi hari, kawasan Jalan Gelora di Tanah Abang, Jakarta Pusat, mulai dipadati aktivitas massa yang datang dari berbagai daerah. Arus kedatangan peserta aksi berlangsung bertahap sejak sekitar pukul 07.00 WIB di depan Gedung TVRI, dengan titik kumpul yang menjadi pusat konsolidasi awal sebelum rencana pergerakan lanjutan ke kawasan parlemen. Situasi di lokasi sempat terlihat ramai namun tetap terkendali, dengan aparat keamanan dan petugas pengamanan tertutup melakukan pemantauan di beberapa titik sekitar area.
Massa aksi yang mengatasnamakan Dewan Pengurus Nasional Koalisi Nasional Reforma Agraria (DPN KNARA) hadir dengan jumlah yang diperkirakan mencapai sekitar 400 orang. Mereka datang menggunakan beberapa armada bus dari wilayah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Lampung. Kedatangan bertahap tersebut membuat area depan TVRI perlahan berubah menjadi titik konsolidasi besar sejak pagi, sebelum seluruh peserta aksi berkumpul dalam formasi lebih terorganisir.
Sekitar pukul 07.25 WIB, rombongan awal mulai memasuki lokasi dan langsung melakukan konsolidasi internal. Beberapa kendaraan pengangkut massa terlihat berhenti di sisi jalan, sementara peserta aksi menurunkan perlengkapan seperti spanduk, bendera organisasi, serta perlengkapan mobil komando. Suasana awal cenderung tertib, dengan sebagian massa duduk di trotoar dan badan jalan sambil menunggu arahan dari koordinator lapangan.
Memasuki pukul 08.40 WIB, aktivitas massa masih berada pada fase menunggu instruksi lanjutan. Sebagian peserta aksi terlihat beristirahat di sekitar area depan TVRI, sementara kelompok lain melakukan pengaturan barisan dan konsolidasi internal. Pada jam ini, arus lalu lintas di sekitar Tanah Abang terpantau mengalami perlambatan namun masih dapat bergerak dengan pengaturan petugas di lapangan.
Tidak lama kemudian, sekitar pukul 09.00 WIB, sebagian kecil massa yang menggunakan dua unit kendaraan Kopaja bergerak ke arah kawasan Kemenpora RI dengan jumlah sekitar 50 orang. Pergerakan ini bersifat parsial dan masih dalam koridor koordinasi internal kelompok aksi, sementara massa utama tetap bertahan di titik awal di depan TVRI untuk menunggu arahan lanjutan dari koordinator.
Pukul 09.15 WIB menjadi salah satu momen konsolidasi besar ketika mobil komando dengan nomor polisi B 9726 RT kembali tiba di lokasi utama. Kehadiran kendaraan tersebut menandai penguatan kembali posisi massa yang kemudian terdata mencapai kurang lebih 400 orang di titik kumpul utama. Sejumlah atribut aksi kembali ditegakkan, termasuk bendera organisasi, spanduk, serta pengeras suara dari mobil komando yang digunakan untuk menyampaikan orasi dan instruksi lapangan.
Dalam aksi ini, peserta membawa berbagai atribut visual seperti spanduk bertuliskan tuntutan reforma agraria, penolakan terhadap perpanjangan atau penguatan izin pertanahan yang dinilai bermasalah, serta seruan agar kawasan yang diklaim sebagai wilayah kelola rakyat seperti kebun, permukiman, kampung, dusun, dan desa definitif dikeluarkan dari kawasan hutan. Beberapa tulisan juga menyoroti isu konflik agraria yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia, serta desakan penyelesaian yang dianggap lebih adil dan transparan.
Di sisi lain, terdapat pula sejumlah tuntutan yang bersifat nasional, termasuk desakan pembentukan badan khusus reforma agraria, percepatan redistribusi tanah untuk rakyat, serta penghentian kriminalisasi terhadap petani dan masyarakat adat. Beberapa nama individu juga disebut dalam materi aksi sebagai bentuk solidaritas terhadap kasus hukum yang sedang berjalan di sejumlah daerah, khususnya di wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Sekitar pukul 10.25 WIB, massa kembali melakukan konsolidasi dengan duduk bersama di area depan TVRI. Fase ini terlihat sebagai jeda sebelum pergerakan lanjutan, dengan sebagian peserta aksi kembali mengatur barisan dan mempersiapkan peralatan lapangan. Kondisi di sekitar lokasi masih terpantau kondusif, dengan lalu lintas sesekali tersendat namun tetap dapat dikendalikan oleh petugas di lapangan.
Tidak berselang lama, sekitar pukul 10.30 WIB, terjadi perubahan posisi massa. Peserta aksi mulai berdiri dan bersiap melakukan pergerakan menuju arah Gedung DPR/MPR RI. Mobil komando kembali memberikan instruksi melalui pengeras suara, menandai dimulainya fase mobilisasi dari titik kumpul awal. Suasana di lokasi mulai lebih dinamis, dengan massa bergerak secara bertahap mengikuti arahan koordinator lapangan.
Dua menit setelahnya, tepat pukul 10.32 WIB, rombongan utama mulai bergerak meninggalkan area depan TVRI dengan formasi berjalan dan sebagian menggunakan kendaraan pendukung. Pergerakan diarahkan menuju kawasan Senayan melalui jalur yang telah ditentukan oleh koordinator lapangan. Aparat pengamanan yang berada di sekitar lokasi melakukan pengawalan dan pengaturan arus untuk memastikan situasi tetap aman dan tidak mengganggu mobilitas masyarakat umum.
Selama proses pergeseran massa tersebut, situasi di lapangan terpantau relatif terkendali. Tidak terdapat laporan gangguan keamanan yang menonjol, meskipun kepadatan lalu lintas sempat meningkat di beberapa ruas jalan utama akibat iring-iringan kendaraan dan massa pejalan kaki. Petugas di lapangan melakukan rekayasa lalu lintas secara situasional untuk mengurai kepadatan di sekitar Tanah Abang menuju arah Senayan.
Kegiatan ini juga melibatkan berbagai atribut kendaraan yang digunakan oleh peserta aksi, termasuk beberapa unit bus dan kendaraan pribadi dari berbagai nomor polisi daerah. Kendaraan-kendaraan tersebut berfungsi sebagai sarana transportasi massa serta mobil logistik dan komando yang mendukung jalannya aksi dari awal hingga pergerakan menuju lokasi berikutnya.
Secara keseluruhan, aksi yang digelar oleh DPN KNARA ini berlangsung dalam beberapa fase, mulai dari kedatangan, konsolidasi, penyampaian aspirasi, hingga pergeseran massa menuju Gedung DPR/MPR RI. Pola pergerakan terlihat terorganisir dengan pembagian waktu yang cukup jelas, meskipun tetap dipengaruhi oleh dinamika di lapangan dan instruksi dari koordinator aksi.
Hingga rombongan bergerak meninggalkan titik awal, situasi di sekitar Gedung TVRI Tanah Abang masih dalam kondisi terkendali. Aparat keamanan tetap bersiaga untuk mengantisipasi perkembangan lanjutan, sementara arus lalu lintas secara bertahap mulai kembali normal setelah massa meninggalkan lokasi awal.
Aksi ini menjadi bagian dari rangkaian penyampaian aspirasi yang menyoroti isu reforma agraria dan konflik pertanahan di berbagai daerah. Dengan membawa tuntutan yang cukup luas, mulai dari penertiban izin pertanahan hingga perlindungan terhadap masyarakat adat dan petani, kegiatan ini mencerminkan eskalasi isu agraria yang masih menjadi perhatian di tingkat nasional dan daerah.
Pewarta: Abdul Latif







