JAKARTA, Indonesia — Indonesian Padel League (IPL) 2026 resmi dimulai pada 5 Oktober 2026 dan akan berlangsung hingga babak final pada 31 Januari 2027. Kompetisi ini diselenggarakan oleh PT Liga Padel Indonesia bersama Pengurus Besar Padel Indonesia (PBPI) sebagai langkah untuk memperkuat fondasi olahraga padel di Tanah Air.
IPL 2026 mengusung konsep liga profesional dengan klub-klub yang berbasis di sejumlah kota. Format tersebut dirancang untuk menghadirkan kompetisi yang lebih teratur, meningkatkan kualitas pertandingan, serta memberi ruang bagi pertumbuhan atlet, pelatih, pengelola klub, dan berbagai unsur pendukung lainnya. Dengan kalender kompetisi yang jelas, liga ini diharapkan dapat membangun ekosistem padel nasional yang lebih terstruktur, kompetitif, dan berkelanjutan.
Berbeda dari turnamen yang hanya berfokus pada pertandingan, IPL membawa pendekatan franchise dalam pengelolaan klub. Setiap klub tidak sekadar menjadi peserta, tetapi juga merepresentasikan identitas kota, komunitas, dan budaya lokal yang menjadi basisnya. Pendekatan ini memungkinkan klub membangun hubungan yang lebih dekat dengan masyarakat serta mengembangkan basis pendukung di wilayah masing-masing.
Konsep franchise juga memberikan karakter tersendiri bagi setiap klub, baik melalui identitas organisasi maupun keterlibatan komunitas. Dengan demikian, persaingan di lapangan berjalan seiring dengan upaya memperkenalkan padel kepada publik secara lebih luas. Klub diharapkan berperan sebagai pusat aktivitas olahraga, pembinaan, dan interaksi sosial bagi para penggemar padel.
Penyelenggaraan IPL 2026 menandai upaya menjadikan padel sebagai olahraga dengan tata kelola liga yang profesional di tingkat nasional. Kompetisi ini sekaligus membuka peluang bagi terbentuknya persaingan yang sehat antarklub dan memperluas partisipasi dari berbagai daerah. Hingga babak final pada Januari 2027, perjalanan liga akan menjadi bagian penting dalam pembentukan arah perkembangan padel Indonesia pada masa mendatang.
Musim perdana Indonesian Padel League (IPL) 2026 diikuti oleh 10 klub yang berasal dari lima provinsi di Indonesia. Keikutsertaan tersebut menandai hadirnya kompetisi profesional yang mempertemukan klub-klub berbasis kota dari berbagai wilayah. Cakupan asal peserta menunjukkan bahwa perkembangan padel tidak hanya berlangsung di satu kawasan, melainkan mulai membentuk ekosistem yang lebih luas melalui keterlibatan sejumlah daerah.
Sepuluh klub yang berpartisipasi dalam musim perdana ini adalah AAS Padel Team, ASC Padel Team, Aubry Padel Indonesia, Belio Midnight Borneo, Blacksteel Padel, Dewa United Padel Banten, Exodia, ONIC Padel, Rosiade Padel Club, dan Yasika Padel Club. Seluruh nama tersebut menjadi bagian dari daftar peserta resmi IPL 2026 tanpa perubahan penulisan.
Format keikutsertaan sebagai klub berbasis kota memberikan identitas tersendiri bagi setiap peserta dalam liga profesional. Klub-klub itu membawa latar belakang dan keterwakilan wilayah masing-masing dari lima provinsi, sekaligus menjadi wadah bagi komunitas padel di daerah untuk tampil dalam ajang nasional. Dengan jumlah 10 peserta, musim pertama IPL memiliki cakupan yang mencerminkan minat terhadap olahraga padel yang semakin berkembang di Indonesia.
Kehadiran klub dari beragam provinsi juga memperlihatkan upaya membangun kompetisi yang menghubungkan berbagai pusat pertumbuhan padel. Setiap klub tidak sekadar hadir sebagai nama peserta, tetapi turut merepresentasikan basis kota dan jaringan olahraga yang berkembang di wilayahnya. Komposisi ini menjadi fondasi awal bagi penyelenggaraan liga profesional, sekaligus memperkenalkan sejumlah organisasi dan tim kepada publik padel nasional. Musim perdana IPL 2026 pun menjadi momentum penting bagi 10 klub tersebut untuk mengambil bagian dalam tahap awal perjalanan liga.
Pertandingan pembuka Indonesian Padel League 2026 berlangsung serentak di dua venue, yakni Jakarta dan Bali. Format ini menandai dimulainya persaingan 10 klub dari lima provinsi yang akan berlangsung hingga Januari. Pembagian lokasi pertandingan memberikan kesempatan bagi penggemar padel di kedua wilayah untuk menyaksikan langsung kompetisi antarklub dengan kekuatan dan karakter permainan yang beragam.
Bandeja Padel Arena, Jakarta, menjadi kandang ONIC Padel pada rangkaian laga awal. Klub tersebut menghadapi tiga lawan, yaitu Blacksteel Padel, ASC Padel Team, dan Aubry Padel Indonesia. Bermain di hadapan pendukung sendiri, ONIC Padel diharapkan mampu memanfaatkan faktor lapangan serta dukungan penonton. Namun, ketiga klub tamu membawa ambisi yang sama untuk mengawali musim dengan hasil positif dan mengumpulkan modal penting dalam perburuan posisi terbaik di klasemen.
Di lokasi lain, The Sphere, Bali, menjadi markas Yasika Padel Club. Tim tuan rumah berhadapan dengan Rosiade Padel Club, Dewa United Padel Banten, dan AAS Padel Team. Pertemuan tersebut mempertemukan klub-klub dengan latar belakang berbeda dalam suasana kompetisi yang kompetitif. Selain menjadi ajang perebutan poin, laga pembuka di Bali juga menjadi kesempatan bagi para pemain untuk menunjukkan kesiapan teknis dan konsistensi mereka sejak pertandingan pertama.
Upacara pembukaan diselenggarakan di Bandeja Padel Arena, Jakarta, pada 6 Oktober 2026. Acara tersebut dihadiri Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir, Direktur PT Kompetisi Padel Indonesia Rudi Laksmana, serta Wakil Ketua Umum PBPI Mochtar Sarman. Kehadiran sejumlah pejabat dan pengurus tersebut menegaskan dukungan terhadap pengembangan padel nasional serta penyelenggaraan liga yang lebih terstruktur. Setelah seremoni, perhatian beralih kepada pertandingan yang menjadi awal perjalanan panjang seluruh peserta menuju gelar juara.
Erick Thohir mengapresiasi penyelenggaraan Indonesian Padel League (IPL) 2026 sebagai langkah penting dalam membangun kompetisi resmi padel di Indonesia. Kehadiran liga dinilai memberi ruang bagi para atlet untuk bertanding secara teratur, mengukur kemampuan, serta memperoleh pengalaman kompetitif yang lebih luas. Kompetisi yang melibatkan klub dari sejumlah provinsi juga memperlihatkan bahwa minat terhadap padel terus berkembang dan mulai membentuk basis pembinaan di berbagai daerah.
Menurut Erick, perkembangan suatu cabang olahraga perlu ditopang oleh dua sisi yang berjalan beriringan, yakni liga dan tim nasional. Liga menyediakan sistem pertandingan yang berkelanjutan, melahirkan persaingan ant pemain, serta memperkuat keterlibatan klub, pelatih, sponsor, dan pendukung. Sementara itu, tim nasional menjadi wadah untuk mengumpulkan atlet terbaik dan membawa hasil pembinaan ke tingkat internasional. Keduanya membentuk ekosistem yang saling mendukung, sehingga peningkatan prestasi tidak hanya bergantung pada program jangka pendek.
Harapan tersebut semakin relevan karena padel akan menjadi bagian dari Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Indonesia juga memiliki modal awal melalui capaian tim nasional padel yang meraih satu medali perak dan satu medali perunggu. Bagi Erick, hasil itu menunjukkan bahwa pembinaan tim nasional telah berjalan dan mulai menghasilkan prestasi. Di sisi lain, kehadiran IPL 2026 menjadi bagian dari proses komersialisasi olahraga padel, dengan menciptakan kompetisi yang lebih terstruktur serta peluang keterlibatan industri. Perpaduan pembinaan dan liga diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia di tingkat Asia sekaligus membuka jalan menuju persaingan dunia.

