Pontianak, sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Barat, saat ini sedang menghadapi situasi cuaca yang cukup kritis akibat kemarau berkepanjangan. Sejak awal tahun 2023, curah hujan mengalami penurunan yang signifikan, yang berujung pada peningkatan suhu dan kekeringan. Pada akhir bulan Agustus, kondisi ini semakin diperparah dengan munculnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di sejumlah daerah di sekitarnya.
Kebakaran ini bukanlah hal baru bagi wilayah ini, tetapi dampaknya semakin terasa seiring dengan intensifikasi aktivitas pembakaran lahan untuk pertanian dan peruntukan lahan lainnya. Menyusul siklus cuaca yang abnormal, tanggal 15 hingga 30 September, kabut asap menyelimuti Pontianak, menyebabkan penurunan kualitas udara yang cukup signifikan. Otoritas setempat menyarankan masyarakat untuk tetap waspada dan mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Peristiwa ini juga menuntut perhatian lebih dari pemerintah dan masyarakat, di mana potensi risiko kesehatan akibat pencemaran udara meningkat, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Pada tanggal 1 Oktober 2023, ketika kerinduan akan hujan terlihat semakin menguat, masyarakat Pontianak mulai mengadakan Sholat Istisqa, yaitu sholat meminta hujan sebagai bentuk pengharapan untuk menghentikan kemarau yang berkepanjangan ini.
Melalui kegiatan ini, diharapkan akan ada intervensi dari ilahi dan hujan yang sangat dibutuhkan untuk mengatasi krisis cuaca dan meringankan dampak dari Karhutla. Dukungan masyarakat dalam melakukan doa bersama untuk meminta hujan adalah bagian penting dalam menghadapi tantangan ini, serta memperkuat solidaritas antarsesama dalam situasi yang sulit ini.
Sholat Istisqa merupakan ibadah yang dilakukan oleh umat Islam untuk memohon hujan di tengah kondisi kering yang berkepanjangan. Di Pontianak, pelaksanaan sholat ini diadakan di pelataran Masjid Raya Mujahidin, menjadi momen harapan bagi banyak jamaah yang merindukan turunnya hujan, terutama di tengah masalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap menghantui wilayah ini.
Pada hari pelaksanaan, masjid tersebut dipenuhi oleh jamaah dari berbagai kalangan. Ribuan orang hadir dengan penuh kesungguhan, mengenakan pakaian sederhana namun bersih, sebagai simbol kerendahan hati di hadapan Allah. Suasana harapan dan kekhusyukan terlihat jelas di wajah masing-masing jamaah. Mereka berkumpul sejak pagi, memperlihatkan antusiasme yang tinggi untuk melaksanakan sholat khusyu ini sebagai upaya bersama memohon rahmat dari Allah SWT.
Selama pelaksanaan sholat istisqa, beberapa elemen penting menjadi perhatian. Diawali dengan khutbah yang dipimpin oleh seorang imam, jamaah ditekankan untuk senantiasa bertawakkal dan memperbanyak doa agar Allah mencurahkan rahmat-Nya dengan menurunkan hujan. Ketika sholat dimulai, gerakan dalam sholat istisqa seperti berdiri, rukuk, dan sujud dilaksanakan dengan penuh konsentrasi. Khutbah kedua setelah sholat juga dilakukan untuk mengingatkan jamaah mengenai pentingnya tobat dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Penekanan pada refleksi spiritual dan sosial di jamaah menambahkan kedalaman makna dari sholat tersebut, di mana lebih dari sekadar permohonan hujan, sholat istisqa menjadi simbol persatuan dan kesatuan umat dalam menghadapi tantangan lingkungan.
Dengan semangat tersebut, pelaksanaan sholat istisqa di Pontianak bukan hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga sebuah gerakan kolektif komunitas untuk menjalin harapan dalam menghadapi karhutla dan krisis air.Doa dan Harapan Umat IslamPada saat pelaksanaan sholat istisqa, umat Islam mengagungkan doa-doa penuh harapan yang ditujukan kepada Allah SWT, meminta agar hujan turun untuk mengatasi masalah kekeringan yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Pontianak. Doa tersebut umumnya dimulai dengan pengakuan akan kebesaran Allah dan permohonan penuh kerendahan hati agar diberikan pertolongan dalam situasi sulit ini.
Salah satu doa yang sering dipanjatkan adalah doa Nabi Muhammad SAW saat menghadapi kekeringan, yang lain berbunyi: "Ya Allah, kami meminta kepada-Mu hujan yang menyehatkan, bukan yang membinasakan, hujan yang memberi berkah dan yang memberikan kehidupan bagi bumi kami. Berikanlah kepada kami hujan yang akan menghapuskan segala kepedihan akibat kekeringan ini." Doa ini bukan hanya sekadar permohonan, tetapi juga mencerminkan harapan umat Muslim untuk mendapatkan penyelesaian atas bencana alam yang melanda.
Kesadaran akan dampak negatif dari karhutla dan kabut asap telah membuat umat Islam di Pontianak bersatu dalam melakukan sholat istisqa. Doa-doa yang dibacakan selama pelaksanaan sholat mengandung harapan yang tinggi agar Allah SWT mengabulkan permohonan mereka. Umat berharap bahwa dengan hujan yang turun, kondisi udara akan membaik dan kabut asap yang mengganggu kesehatan dan aktivitas sehari-hari dapat segera sirna.
Selain itu, banyak komunitas dalam masyarakat Pontianak juga memanjatkan doa untuk keselamatan dan kesehatan, mengingat efek dari kabut asap yang sangat merugikan. Harapan untuk hujan tidak hanya menjadi isu religius tetapi juga sosial, yang melibatkan semua elemen masyarakat dalam usaha mengatasi bencana ini. Dengan bersama-sama melakukan sholat istisqa dan memanjatkan doa, umat Islam menunjukkan solidaritas dan keyakinan akan kekuatan doa dalam menghadapi bencana alam.
Pelaksanaan sholat istisqa di Pontianak menarik perhatian luas dari masyarakat lokal dan berbagai pihak terkait, terutama dalam konteks krisis lingkungan yang sedang berlangsung akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Acara ini tidak hanya dihadiri oleh jemaah dari berbagai latar belakang, tetapi juga oleh tokoh agama, pemerintah daerah, serta organisasi lingkungan hidup.
Masyarakat setempat menunjukkan rasa antusiasme yang tinggi terhadap acara tersebut, menggambarkan harapan untuk mendapati hujan yang sangat dibutuhkan. Banyak jemaah yang mengungkapkan keyakinan bahwa sholat istisqa adalah bentuk permohonan kepada Tuhan untuk mengirimkan hujan dan mengatasi dampak dari karhutla yang merugikan kesehatan serta lingkungan. Situasi ini membawa kedamaian dan persatuan di warga, di mana mereka berkumpul untuk berdoa demi kelangsungan hidup yang lebih baik.
Tokoh agama setempat berperan aktif dalam menyampaikan khutbah yang menekankan pentingnya menjaga lingkungan. Mereka menyerukan kepada masyarakat untuk lebih peduli terhadap limbah yang dihasilkan dan dampaknya terhadap perubahan iklim. Diskusi mengenai perlunya kolaborasi pemerintah, lembaga non-pemerintah, dan masyarakat semakin mencuat, sebagai upaya untuk menangani masalah lingkungan yang semakin mendesak.
Pemerintah daerah juga memberikan respons positif terhadap kegiatan sholat istisqa ini. Mereka menyadari bahwa partisipasi masyarakat dalam acara seperti ini dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya keberlanjutan lingkungan. Dengan dukungan aktif dari berbagai pihak, diharapkan sinergi positif dapat tercipta untuk mengatasi masalah karhutla dan dampaknya, serta mendorong langkah-langkah yang lebih berkelanjutan dalam menjaga alam.
Secara keseluruhan, sholat istisqa di Pontianak menjadi momen refleksi bagi masyarakat untuk mendukung upaya menjaga lingkungan demi masa depan yang lebih baik, sekaligus mengekspresikan harapan untuk hujan yang bisa memulihkan keadaan.






