Penutupan Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 diadakan di aula gedung serba guna Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, yang terletak di Jombang, Jawa Timur. Lokasi ini merupakan salah satu pusat pendidikan Islam yang terkenal di Indonesia, dan menjadi tempat pilihan yang simbolis untuk acara penting tersebut. Muktamar ini dihadiri oleh ribuan peserta dari berbagai daerah, menciptakan suasana yang meriah dan penuh semangat.
Pada acara penutupan, tata panggung dirancang secara sederhana namun elegan, memancarkan kehangatan dan kebersamaan. Latar belakang panggung dipenuhi dengan berbagai ornamen yang mencerminkan budaya lokal dan identitas Nahdlatul Ulama. Lampu yang berwarna-warni menambah keindahan suasana malam, sementara musik tradisional dimainkan secara live, menambah kedalaman pengalaman bagi para hadirin.
Suasana di tempat acara sangat hangat dan penuh antusiasme. Peserta menunjukkan kekompakan mereka dengan bernyanyi dan bergoyang mengikuti irama musik, menciptakan ikatan kuat di anggota Nahdlatul Ulama. Ketika Prabowo menyampaikan pidato penutup, semua hadirin dengan khidmat mendengarkan. Sebagai tokoh nasional, Prabowo memberikan pesan-pesan yang menggugah semangat untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, serta pentingnya peran Nahdlatul Ulama dalam menguatkan nilai-nilai keislaman di tengah-tengah tantangan zaman.
Kegiatan penutupan ini tidak hanya menjadi simbolis dari selesainya Muktamar ke-35, tetapi juga merupakan momentum bagi para pesertanya untuk merefleksikan hasil-hasil yang dicapai selama muktamar. Dengan suasana yang hangat, acara ini diharapkan dapat memperkuat komitmen para peserta untuk terus mengabdikan diri bagi Nahdlatul Ulama dan umat Islam di Indonesia secara keseluruhan.
Acara penutupan Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 menjadi momen yang mengesankan, terutama dengan pemukulan kentongan oleh Presiden Prabowo Subianto. Kentongan, alat musik tradisional yang terbuat dari kayu berbentuk tabung, tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk mengatur waktu dan mengingatkan, tetapi juga sarat dengan makna simbolis dalam konteks tradisi Nahdlatul Ulama (NU).
Dalam budaya NU, pemukulan kentongan melambangkan seruan untuk bersatu dan mengajak anggota untuk tetap berkumpul dalam semangat kebersamaan. Kentongan sering digunakan dalam berbagai acara keagamaan dan sosial, menandakan hadirnya moment penting, di mana suara dari kentongan menjadi pengingat akan tradisi dan nilai-nilai yang dianut oleh komunitas. Dengan demikian, pemukulan kentongan oleh Presiden Prabowo dalam suatu acara penting ini tidak hanya sekadar simbolis, tetapi menegaskan komitmen terhadap nilai-nilai yang telah dibangun sejak lama dalam organisasi ini.
Pentingnya penutupan Muktamar ini tidak dapat dipandang sebelah mata. Ini merupakan tahap akhir dari pertemuan yang berlangsung beberapa hari, di mana berbagai pembahasan strategis dan keputusan penting telah diambil untuk kemajuan NU ke depan. Dengan berkumpulnya para ulama dan tokoh masyarakat pada muktamar ini, kentongan yang dipukul oleh Presiden Prabowo menandakan bahwa semua hal yang telah dibahas dan disepakati harus dilaksanakan dengan semangat kebersamaan.
Secara keseluruhan, pemukulan kentongan adalah langkah penting dalam menyiratkan momentum pergerakan NU untuk menuju masa depan. Dalam kerangka sejarah, peristiwa ini menekankan bagaimana tradisi dan inovasi dapat berjalan beriringan dalam sebuah organisasi yang memiliki pengaruh besar di Indonesia. Dengan simbolisme ini, diharapkan anggota NU dapat membawa pesan kebersamaan dan integrasi lebih jauh dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Pada penutupan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan sejumlah pesan penting kepada seluruh peserta dan pengurus baru organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini. Dalam sambutannya, beliau mengawali dengan mengucapkan selamat kepada pengurus baru yang terpilih, berpesan agar mereka menjalankan amanah ini dengan penuh tanggung jawab dan integritas. Prabowo menekankan bahwa kepemimpinan di dalam Nahdlatul Ulama bukan sekadar jabatan, melainkan sebuah pengabdian yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan umat dan bangsa.
Presiden Prabowo juga mengingatkan akan pentingnya persatuan dan kesatuan di anggota NU. Menurutnya, tantangan yang dihadapi masyarakat Indonesia saat ini memerlukan soliditas dalam gerakan, serta sinergi yang harmonis antarsesama. Ia menekankan bahwa kontribusi Nahdlatul Ulama dalam menjaga stabilitas sosial dan keagamaan sangat signifikan, dan mengajak seluruh warga NU untuk memperkuat peran mereka dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu kutipan langsung dari sambutannya yang menggugah adalah, "Kita harus memiliki komitmen yang kuat untuk mendukung setiap usaha yang dapat memperkuat nilai-nilai keislaman demi kebaikan bersama."
Dalam kesempatan itu, Prabowo juga menekankan harapannya agar para pengurus baru mampu membawa Nahdlatul Ulama ke arah yang lebih baik, dengan melaksanakan program-program yang bermanfaat bagi masyarakat. Beliau berharap agar NU dapat terus menjadi pelopor dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya toleransi, kerukunan, dan keadilan sosial. Mengakhiri sambutannya, Presiden Prabowo menunjukkan optimisme bahwa dengan semangat ini, Nahdlatul Ulama akan senantiasa relevan dan mampu menjawab tantangan zaman yang terus berkembang.
Setelah melalui serangkaian pembahasan dan pemungutan suara yang ketat, Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 akhirnya memilih dua tokoh penting sebagai pemimpin baru organisasi, yaitu KH Miftachul Akhyar dan KH Abdul Hakim Mahfudz. Pemilihan ini menjadi sorotan publik karena kedua pemimpin ini memiliki rekam jejak yang cukup kuat dalam organisasi dan komunitas.
KH Miftachul Akhyar dikenal sebagai sosok yang berpengalaman di bidang pendidikan dan sosial, dengan latar belakang sebagai pengasuh pondok pesantren yang terkemuka. Beliau telah mengabdikan waktu dan energi untuk meningkatkan kualitas pendidikan di kalangan santri dan umat Muslim. Keterlibatan beliau dalam berbagai organisasi sosial juga menunjukkan komitmennya terhadap kesejahteraan masyarakat. Dalam pandangan beberapa tokoh NU, kepemimpinan KH Miftachul Akhyar diharapkan dapat membawa perubahan yang positif dan inovatif, terutama dalam menghadapi tantangan modern yang dihadapi oleh umat.
Sementara itu, KH Abdul Hakim Mahfudz adalah tokoh yang diakui atas pemikirannya yang progresif dan kontribusinya yang signifikan dalam bidang keagamaan. Sebagai seorang ulama, beliau telah aktif dalam dialog antaragama dan mempromosikan toleransi di masyarakat. Banyak tokoh NU lainnya yang menyambut positif kepemimpinan KH Abdul Hakim Mahfudz, meyakini bahwa pendekatan beliau dalam memperkuat ukhuwah Islamiyah akan menjadi salah satu pilar penting bagi Nahdlatul Ulama ke depan.
Selain itu, para peserta muktamar yang datang dari berbagai daerah memberikan tanggapan yang beragam terhadap pemilihan ini. Sebagian besar menganggap bahwa kedua tokoh ini dapat membawa Nahdlatul Ulama lebih adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas aslinya. Dukungan yang luas ini menunjukkan harapan besar akan kepemimpinan baru dalam membawa NU menuju arah yang lebih baik.






