Program Bina Budaya Antarbangsa (Binar) yang diselenggarakan oleh Universitas Terbuka merupakan salah satu inisiatif penting dalam penguatan diplomasi budaya di tingkat internasional. Melalui kegiatan ini, Universitas Terbuka berusaha untuk memperkenalkan dan mempromosikan kekayaan seni serta budaya Indonesia kepada dunia internasional. Kegiatan ini dirancang untuk membangun hubungan yang lebih erat Indonesia dengan negara-negara lain melalui seni dan budaya.
Tujuan utama dari program Binar adalah untuk menciptakan ruang dialog dan pertukaran budaya yang konstruktif para peserta dari berbagai negara. Dalam program ini, peserta tidak hanya akan mempelajari seni dan budaya Indonesia, tetapi juga dapat berbagi pengetahuan tentang budaya mereka masing-masing. Dengan melibatkan negara-negara yang beragam, program ini bertujuan untuk memperluas wawasan dan perspektif, serta meningkatkan pemahaman antarbudaya.
Peserta program Binar terdiri dari mahasiswa, seniman, dan praktisi budaya dari berbagai negara, yang diundang untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini. Negara-negara yang berpartisipasi mencakup Malaysia, Jepang, Prancis, dan beberapa negara lainnya. Dengan demikian, program ini tidak hanya berfungsi sebagai wadah bagi peserta untuk belajar, tetapi juga untuk menjalin jaringan internasional yang berharga dalam dunia seni dan budaya. Harapannya, setelah mengikuti program ini, peserta dapat membawa pengalaman dan pengetahuan yang mereka peroleh kembali ke negara asal mereka dan berkontribusi pada pengembangan seni serta budaya di komunitas masing-masing.
Program diplomasi budaya yang akan berlangsung di Universitas Terbuka akan dilaksanakan dari tanggal 5 hingga 15 September 2026. Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan interaksi dan pemahaman antarbudaya yang berbeda, melalui pembelajaran seni yang melibatkan berbagai aspek kebudayaan Indonesia dan negara-negara lain.
Lokasi penyelenggaraan program ini terletak di Yogyakarta, yang dikenal sebagai pusat seni dan budaya di Indonesia. Yogyakarta tidak hanya menghadirkan keindahan alam dan sejarah yang kaya, tetapi juga merupakan tempat yang ideal untuk mempelajari seni dan budaya melalui pengalaman langsung. Dalam konteks tersebut, para peserta akan disuguhkan dengan berbagai workshop dan pertunjukan seni, serta kesempatan untuk berinteraksi dengan seniman lokal.
Jumlah peserta yang direncanakan untuk mengikuti program ini sebanyak 150 orang, yang berasal dari berbagai negara. Peserta diharapkan mewakili 10 negara berbeda, termasuk negara-negara dari Asia Tenggara, Eropa, dan Amerika. Melalui pengumpulan peserta dari latar belakang yang beragam, program ini bertujuan untuk menciptakan ruang dialog antarbudaya yang konstruktif.
Selama program berlangsung, peserta akan diajak untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan, seperti lokakarya seni tari, pelajaran musik tradisional, dan pameran seni. Dengan adanya kegiatan tersebut, peserta akan dapat merasakan langsung dan menghargai kekayaan budaya yang ada. Selain itu, mereka juga akan diberi kesempatan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dari negara asal mereka masing-masing, sehingga dapat saling belajar dan memperkaya pemahaman tentang bisa saling menghormati perbedaan budaya yang ada.
Dengan demikian, program ini tidak hanya akan memperkuat diplomasi budaya, tetapi juga mendorong kerjasama internasional yang lebih baik melalui seni dan pendidikan.
Acara pembukaan resmi untuk program Pembelajaran Seni di Universitas Terbuka berlangsung pada tanggal 6 September 2026. Momen bersejarah ini menandai langkah penting dalam memperkuat diplomasi budaya, yang sekaligus mencerminkan komitmen universitas terhadap pengembangan seni dan budaya di Indonesia. Dalam acara ini, berbagai pejabat terkait turut hadir, memberikan sambutan yang penuh makna bagi seluruh peserta dan stakeholder yang berkontribusi pada program ini.
Dalam sambutannya, Direktur Universitas Terbuka Yogyakarta menekankan pentingnya pembelajaran seni sebagai alat diplomasi budaya yang efektif. Ia menguraikan bagaimana seni dapat menjembatani perbedaan, meningkatkan pemahaman antarbudaya, dan menciptakan dialog yang konstruktif. Mengingat konteks global saat ini, ia mengajak seluruh peserta untuk melihat pendidikan seni tidak hanya sebagai sebuah akademik, tetapi sebagai medium untuk mengekspresikan identitas budaya sesuai dengan perkembangan zaman.
Acara ini juga mencakup berbagai pertunjukan seni yang melibatkan mahasiswa dan dosen, yang menunjukkan keragaman budaya lokal. Keberagaman tersebut menjadi salah satu fokus dalam pembelajaran seni yang diharapkan dapat menarik minat mahasiswa untuk lebih memahami dan menghargai kekayaan budaya bangsa. Antusiasme yang ditunjukkan oleh peserta serta kehadiran para pejabat setempat menunjukkan dukungan yang kuat terhadap inisiatif ini.
Dengan adanya pembukaan ini, diharapkan Universitas Terbuka dapat semakin menjadi pusat pengkajian dan pengembangan seni yang berkontribusi pada diplomasi budaya. Sambutan-sambutan tersebut tidak hanya menggugah semangat, tetapi juga memberikan harapan baru untuk masa depan program seni di universitas ini.
Proses pembelajaran seni di Universitas Terbuka merupakan pengalaman yang kaya dan beragam, menggabungkan teori dengan praktik secara mendalam. Salah satu bentuk seni yang dipelajari adalah seni kriya keramik, di mana peserta diajarkan teknik pembuatan keramik yang tidak hanya mengedepankan keterampilan, tetapi juga memperkenalkan nilai-nilai tradisional serta sejarah lokal yang melingkupinya. Pembelajaran ini meliputi proses mulai dari pemilihan tanah liat hingga teknik pembakaran yang beragam, memberikan wawasan mendalam mengenai seni keramik sebagai bagian dari budaya.
Selanjutnya, seni batik menjadi fokus utama berikutnya dalam program ini. Peserta tidak hanya belajar tentang teknik membatik, tetapi juga memahami makna simbolik di balik pola dan warna yang digunakan. Batik memiliki sejarah yang kaya dan menjadi identitas budaya Indonesia yang diakui secara internasional. Pengalaman ini memberikan peserta tidak hanya keahlian praktis, tetapi juga apresiasi terhadap warisan budaya yang diwakili oleh seni ini.
Tidak kalah penting, tari dan karawitan juga menjadi bagian integral dari pembelajaran. Melalui praktik tari, peserta diajarkan langkah-langkah tari tradisional yang erat kaitannya dengan cerita dan tradisi lokal. Sementara itu, dalam pembelajaran karawitan, peserta berkesempatan untuk mengenal berbagai alat musik tradisional dan menyelaraskan mereka dalam sebuah pertunjukan. Kegiatan tersebut berfungsi untuk melestarikan dan menghidupkan tradisi musik daerah, serta menggali nilai-nilai estetika dan sosial yang terkandung di dalamnya.
Secara keseluruhan, pengalaman belajar ini tidak hanya menghasilkan keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan sikap menghargai dan memelihara kekayaan budaya. Melalui pemahaman yang mendalam atas seni tradisional, peserta diharapkan dapat berkontribusi lebih dalam penguatan diplomasi budaya di tingkat yang lebih luas. Sumber informasi: harianjogja.com













