Sport  

Irama Sepanjang Rel: Bagaimana Venue Musik Tumbuh di Jalur MRT

Irama Sepanjang Rel: Bagaimana Venue Musik Tumbuh di Jalur MRT

Jakarta | Maka postulat saya: sebuah kota dengan ekosistem musik yang hidup, pasti punya transportasi publik yang baik. Simak beberapa kota global yang dikenal punya ekosistem musik yang hidup dan dinamis, seperti Austin, Nashville, Tokyo, Berlin, London, Los Angeles, New York, Paris, dan Melbourne, menawarkan konteks menarik untuk melihat hubungan tersebut. Meski sistem transportasi dan tantangan tiap kota berbeda, akses menuju tempat pertunjukan menjadi bagian penting dari pengalaman menonton musik. Apakah perkembangan transportasi publik, khususnya MRT, bisa membantu memperkuat ekosistem musik di ibu kota? Jalur MRT yang menghubungkan Lebak Bulus dengan Bundaran Hotel Indonesia sejauh 16 kilometer ini bukan hanya menawarkan alternatif transportasi yang meluncur mulus di atas (atau di bawah) kemacetan, tetapi juga akses melewati sejumlah kawasan komersial dan ruang kreatif yang menjadi bagian dari kehidupan kota –sekaligus kelak melahirkan banyak venue musik karena potensi bisnis yang besar, maupun memudahkan orang untuk menjangkau venue musik. Jalur sepanjang sekitar 16 kilometer itu menjadi langkah awal pengembangan jaringan transportasi massal yang lebih luas di Jakarta, termasuk fase pembangunan MRT yang akan terus hingga ke arah Jakarta Kota. Stasiun dan kawasan di sekitarnya juga menjadi bagian dari rencana penataan kota, termasuk pengembangan ruang publik, area komersial, ruang kreatif, dan transit oriented development (TOD) alias kawasan berorientasi transit. Terbaru, MRT dan Pemerintah Provinsi Jakarta akan mengembangkan konsep Blok M Ultimate. Dari British Library, saya tinggal jalan kaki sekitar lima menit ke Stasiun King's Cross St. Namun karena naik kereta, perjalanan cukup ditempuh dalam waktu 15 menit, dan dilanjut jalan kaki sekitar 10 menit. Permainannya kalem, luwes, dengan improvisasi yang terasa pas. Mereka juga beberapa kali mengajak penonton mengobrol. Kalau cuma mau minum bir, kalian tentu gak perlu jauh-jauh ke sini. Malam itu, meski angin dingin musim gugur berhembus cukup kencang, hati saya hangat. Itulah perasaan yang muncul karena gigs yang asyik. Namun, ada hal lain yang terlintas di kepala: saya bisa mencapai sebuah venue kecil di pinggiran London dengan perjalanan yang relatif mudah. Pengalaman itu membuat saya berpikir tentang hubungan transportasi publik dan keberlangsungan ruang pertunjukan musik, terutama grassroots music venues (GMV). Istilah yang digunakan Music Venue Trust, organisasi nirlaba di Britania Raya, ini merujuk pada tempat yang menjadikan musik dan program musik sebagai inti kegiatannya. Transportasi publik tentu bukan satu-satunya faktor yang menentukan hidup-matinya venue musik. Namun, akses transportasi yang baik bisa mengurangi hambatan bagi penonton yang mau datang, sekaligus memperluas kemungkinan sebuah venue menjangkau audiensnya. Lantas, bagaimana dengan Jakarta? Pria yang merupakan co-founder dan sekarang menjabat sebagai Chief Marketing Officer dari M Bloc Group menyebut bahwa kehadiran MRT di Jakarta pada Maret 2019, hampir berbarengan dengan lahirnya M Bloc di September 2019, yang sejak awal memang diniatkan untuk membuka ruang kreatif, sekaligus memanfaatkan lahan tidur milik Perum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri). Blok M sempat mengalami kemunduran serius sejak tahun 2000 hingga 2010-an karena berbagai faktor. Namun kehadiran MRT sekaligus M Bloc ini membuat kawasan ini terlahir kembali. M Bloc yang punya konsep terbuka, memadukan arsitektur jengki khas 1950-an dan segala pesona era kiwari, dengan segera menjadi ruang temu industri kreatif. Berbagai acara seni hadir di sana, mulai dari konser musik, pameran seni rupa, diskusi, hingga pemutaran film. Perkembangan pesat ini juga didukung oleh MRT karena sejak awal M Bloc menggunakan konsep tidak menyediakan tempat parkir untuk kendaraan pribadi. Campaign M Bloc Space sejak awal adalah tidak menyediakan lahan parkir, dan juga tidak punya lahan parkir. Jadi orang yang mau berkunjung, kami sarankan menggunakan kendaraan umum, dalam hal ini salah satunya adalah MRT," kata Wendi. Jadi solusinya saat itu ya orang-orang memakai transportasi publik." Di Jakarta, kehadiran MRT, singkatan dari Moda Raya Terpadu, membuat kita bisa melihat hubungan akses transportasi dengan venue pertunjukan musik. Kegiatan mobilitas menuju/dari tempat konser ini tak ayal merupakan bagian dari ekosistem pertunjukan itu sendiri. Karena ada banyak studi yang menunjukkan bahwa transportasi (termasuk akses dan ketersedian moda) merupakan salah satu faktor yang menentukan orang untuk datang ke sebuah pertunjukan musik. Gagasan pembangunan MRT Jakarta sebenarnya sudah muncul sejak 1985/1986, ketika kebutuhan sistem transportasi massal modern mulai dikaji. Proyek ini kemudian ditetapkan sebagai proyek nasional pada 2005, disusul pembentukan PT MRT Jakarta pada 2008. Pembangunan fisik fase pertama dimulai pada Oktober 2013, sebelum layanan tersebut resmi beroperasi pada 24 Maret 2019. Ide MRT Jakarta dari Habibie, Dieksekusi oleh Jokowi Sejak saat itu, pembicaraan tentang MRT perlahan berkembang melampaui urusan mobilitas. Sejak pertama beroperasi, perjalanan dan penumpang MRT terus berkembang. Data terbaru dari Jakarta MRT, ada 4,5 juta penumpang sepanjang Juni 2026. Jumlah ini akan terus bertambah seiring pengembangan MRT dan kawasan-kawasan transitnya. Ada lima transformasi utama yang mencakup Blok M Ultimate, yaitu revitalisasi terminal, pengembangan kawasan mixed-use, destinasi komersial baru, peningkatan aksesibilitas dan integrasi antarmoda, dan perluasan ruang terbuka publik hingga lima kali lipat dibanding sekarang. Pembangunan terminal, kawasan retail, dan podium ditargetkan selesai dan bisa beroperasi pada 2029. Pada saat nanti kita lakukan pembangunan, sebelum groundbreaking, kami menjamin semua tenant, ada 332, itu kami lakukan transisi. Transisi nanti tempatnya kami lakukan di satu tempat posisinya. Rahayu (33), mengungkapkan bahwa MRT memang mempermudahnya melakukan mobilitas sosial, sebuah istilah yang dia lontarkan sambil tertawa. Dalam kehidupannya, mobilitas sosial itu bukan pergi dari tempat tinggal menuju kantor, vice versa. Melainkan dari tempat tinggal, menuju konser atau nongkrong. Setahun sekali, dia nyaris tidak pernah absen untuk menonton salah satu festival musik favoritnya, Joyland Festival, yang pertama hadir pada 2012 dan selalu berlokasi di kawasan Gelora Bung Karno. Sebelum kehadiran MRT, sudah hampir pasti dia naik taksi atau sharing ride dari tempat tinggalnya di sekitar Kebon Melati, Jakarta Pusat. Kalau sekarang tinggal jalan kaki sekitar 10 menitan ke Stasiun MRT Bundaran HI, turun di Senayan, lanjut jalan kaki lagi," katanya. Selain mudah, juga murah," tambah Rahayu. Pendapat senada juga dicetuskan oleh Damianus Andreas, seorang pekerja swasta yang tinggal di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Ia bilang, sejak awal tinggal di Jakarta, dia tidak pernah punya kendaraan pribadi. Karenanya, dia memilih tinggal di pusat Jakarta dan spesifik dekat dengan jalur MRT agar memudahkan mobilitasnya. Jadi ya kalau nonton konser, selalu pilih naik transportasi umum. Khususnya MRT, apalagi kalau nonton di daerah sekitar Blok M," tutur Damianus. Blok M yang sempat menghadapi masa sulit selama belasan tahun, kini hidup penuh gairah. M Bloc, ujar Wendi, kini dikunjungi 110 hingga 120 ribu pengunjung setiap bulan. Grafik pengunjung harian di hari kerja berkisar 8-10 ribu. Sedangkan di akhir pekan, atau jika sedang ada pertunjukan musik, jumlah penonton bisa melonjak hingga dua kali lipat. Seperti waktu ada Soundrenaline itu, pengunjungnya per hari lebih dari 20 ribu, tuh," kata Wendi.

Baca juga: Tindakan Bea Cukai Jakarta Terhadap Rokok Ilegal Sepanjang 2026