Indonesia — TNI Angkatan Darat menambah enam Komando Daerah Militer (Kodam) sebagai bagian dari penyesuaian organisasi untuk memperkuat pengamanan wilayah. Penambahan tersebut juga diarahkan untuk memperpendek rentang kendali komando, sehingga pengelolaan tugas dan koordinasi di berbagai daerah dapat berlangsung lebih terarah.
Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen TNI Donny Pramono menjelaskan bahwa penyesuaian organisasi diperlukan agar struktur komando dapat menyesuaikan kebutuhan pengamanan wilayah Indonesia. Dengan adanya enam Kodam tambahan, pengendalian terhadap satuan dan pelaksanaan koordinasi di daerah diharapkan memiliki rentang yang lebih singkat.
Menurut Donny, penyesuaian itu berkaitan dengan kebutuhan untuk mempercepat koordinasi serta respons terhadap perkembangan situasi di berbagai daerah. Struktur organisasi yang disesuaikan dinilai diperlukan agar informasi dan pelaksanaan tindak lanjut dapat dikoordinasikan secara lebih cepat dan efektif.
Penambahan enam Kodam menjadi langkah TNI AD dalam memperkuat pengamanan wilayah melalui pengaturan komando yang lebih sesuai dengan perkembangan situasi. Keterangan tersebut menegaskan bahwa perubahan organisasi berfokus pada peningkatan kecepatan koordinasi dan respons, tanpa mengubah makna utama penataan komando di lingkungan TNI Angkatan Darat.
Dengan pembagian kendali yang lebih dekat, pelaksanaan koordinasi unsur komando dan satuan di daerah diarahkan agar berjalan lebih efektif. TNI AD menyebut penyesuaian ini sebagai kebutuhan organisasi untuk mendukung pengamanan wilayah Indonesia serta memastikan perkembangan situasi di berbagai daerah dapat ditangani melalui koordinasi yang lebih cepat.
Indonesia memiliki wilayah daratan yang luas dan terbentang dari barat hingga timur, sekaligus terdiri atas ribuan pulau dengan tingkat keterhubungan yang beragam. Kondisi geografis tersebut menghadirkan tantangan tersendiri dalam pengelolaan keamanan dan pertahanan. Jarak antardaerah, keterbatasan sarana transportasi, serta karakteristik medan seperti pegunungan, hutan, pesisir, dan wilayah perbatasan dapat memengaruhi kecepatan respons aparat. Karena itu, pengamanan wilayah tidak dapat hanya mengandalkan pendekatan yang seragam untuk seluruh daerah.
Selain perbedaan geografis, setiap wilayah juga memiliki karakter masyarakat, kebutuhan, dan dinamika sosial yang berbeda. Daerah perkotaan menghadapi persoalan yang tidak selalu sama dengan kawasan pedalaman, kepulauan terluar, maupun wilayah perbatasan negara. Keragaman tersebut menjadi dasar penting bagi penguatan sistem organisasi kewilayahan TNI AD. Kehadiran struktur komando yang lebih sesuai dengan cakupan wilayah diharapkan dapat memperpendek rentang kendali, memperkuat koordinasi, serta meningkatkan pemahaman terhadap kondisi lokal.
Dengan organisasi kewilayahan yang lebih kuat, pengendalian dan pengamanan daerah dapat dilakukan secara lebih maksimal. Satuan di tingkat wilayah akan memiliki kapasitas yang lebih baik untuk memantau perkembangan situasi, membangun komunikasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat, serta merespons potensi gangguan secara cepat. Penguatan ini juga penting untuk mendukung pelaksanaan tugas TNI AD di daerah yang memiliki akses sulit atau memerlukan penanganan khusus karena kondisi geografisnya.
Kodam baru juga diharapkan berperan dalam mempermudah pengiriman bantuan kepada warga ketika terjadi bencana. Struktur komando yang lebih dekat dapat membantu proses pendataan kebutuhan, pengerahan personel, distribusi logistik, dan koordinasi dengan lembaga terkait. Donny menegaskan bahwa pembentukan Kodam bukan sekadar penambahan struktur organisasi. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan efektivitas pelaksanaan tugas TNI AD, sehingga kehadiran negara dapat dirasakan secara lebih cepat, terarah, dan sesuai kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.
Presiden Prabowo Subianto meresmikan enam Komando Daerah Militer (Kodam) baru sebagai bagian dari pembentukan 204 satuan baru Tentara Nasional Indonesia (TNI). Peresmian tersebut berlangsung dalam upacara peringatan HUT ke-81 TNI di Lapangan Prima, Markas Besar TNI, Jakarta, pada Senin, 5 Oktober 2026. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat organisasi, meningkatkan kesiapan pertahanan, serta memperluas jangkauan pengamanan wilayah Indonesia.
Dari keseluruhan satuan yang dibentuk, unsur TNI Angkatan Darat mencakup enam Kodam, 30 Brigade Infanteri Teritorial Pembangunan, 150 Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan, dan tiga Batalyon Bantuan Tempur. Komposisi tersebut menunjukkan penguatan struktur kewilayahan sekaligus penambahan satuan yang mendukung pelaksanaan tugas pertahanan dan pembinaan teritorial di berbagai daerah.
Pengembangan organisasi juga dilakukan oleh matra lain. TNI Angkatan Laut menambah satu brigade marinir dan empat batalyon marinir untuk memperkuat kemampuan pertahanan serta operasi di wilayah pesisir dan kepulauan. Sementara itu, TNI Angkatan Udara membentuk 10 satuan baru, termasuk Divisi II Pasukan Gerak Cepat dan satuan radar. Kehadiran satuan-satuan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kecepatan respons, pengawasan ruang udara, serta dukungan terhadap operasi gabungan.
Prosesi peresmian dilakukan setelah Presiden menyampaikan pernyataan peresmian satuan-satuan baru TNI. Sebagai tanda dimulainya struktur organisasi tersebut, Presiden kemudian menekan sirene yang telah disiapkan dalam rangkaian upacara. Momen itu menandai pengesahan pembentukan satuan secara resmi sekaligus menegaskan arah penguatan pertahanan nasional melalui penataan organisasi, penambahan kemampuan operasional, dan pemerataan kehadiran TNI di seluruh wilayah Indonesia.
Prosesi pelantikan simbolis enam Kodam baru ditandai dengan penyerahan tongkat komando dan bendera kesatuan kepada masing-masing panglima Kodam. Penyerahan tersebut menjadi bagian dari pengenalan satuan-satuan baru beserta pejabat yang akan memimpinnya. Dalam prosesi itu, setiap panglima menerima dua simbol utama tersebut sebagai penanda kepemimpinan atas satuan yang telah ditetapkan dalam rangkaian pembentukan enam Kodam baru.
Kodam XXV/Sultan Mahmud Riayat Syah berada di Kepulauan Riau dan dipimpin oleh Mayjen TNI Rionardo. Berikutnya, Kodam XXVI/Mataram berada di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Mayjen TNI Drajad Brima Yoga sebagai panglimanya. Kodam XXVII/Sobe Sonbai berada di Nusa Tenggara Timur dan dipimpin oleh Mayjen TNI Thevi Angandowa Zebua. Ketiga satuan tersebut termasuk dalam enam Kodam yang menerima simbol kepemimpinan melalui penyerahan tongkat komando serta bendera kesatuan.
Tiga Kodam lainnya adalah Kodam XXVIII/Moloku Kie Raha di Maluku Utara yang dipimpin oleh Mayjen TNI Nefra Firdaus, Kodam XXIX/Mambruk di Papua Tengah yang dipimpin oleh Mayjen TNI Aminton Manurung, serta Kodam XXX/Rinambora di Nusa Tenggara Barat yang dipimpin oleh Mayjen TNI Edi Saputra. Dengan demikian, prosesi simbolis itu mencakup enam satuan, enam wilayah, dan enam panglima, yaitu Kodam XXV/Sultan Mahmud Riayat Syah di Kepulauan Riau, Kodam XXVI/Mataram di Daerah Istimewa Yogyakarta, Kodam XXVII/Sobe Sonbai di Nusa Tenggara Timur, Kodam XXVIII/Moloku Kie Raha di Maluku Utara, Kodam XXIX/Mambruk di Papua Tengah, serta Kodam XXX/Rinambora di Nusa Tenggara Barat. Penyerahan tongkat komando dan bendera kesatuan dilakukan kepada Mayjen TNI Rionardo, Mayjen TNI Drajad Brima Yoga, Mayjen TNI Thevi Angandowa Zebua, Mayjen TNI Nefra Firdaus, Mayjen TNI Aminton Manurung, dan Mayjen TNI Edi Saputra sesuai dengan satuan masing-masing.

