Piqri Zaenal Abidin dan Lorenzo Regiraldo Tawang memulai pendakian ke Gunung Agung pada tanggal 15 Maret 2023, sekitar pukul 07.00 WITA. Mereka berangkat dari Pos Pura Pasar Agung, yang merupakan titik awal pendakian yang sering digunakan oleh para pendaki. Kedua pendaki ini memiliki pengalaman dalam mendaki, sehingga mereka merasa percaya diri untuk menjelajahi jalur yang dikenal cukup menantang.
Setelah beberapa jam melakukan pendakian, Piqri dan Lorenzo mencapai Jalur Pendakian Ketinggian Sementara di sekitar pukul 10.30 WITA. Dalam perjalanan, mereka sempat beristirahat dan mempersiapkan perbekalan yang dibawa dari rumah. Cuaca saat itu terlihat mendukung, dengan langit cerah dan suhu yang tidak terlalu dingin. Keadaan tersebut membuat mereka tetap semangat untuk melanjutkan perjalanan.
Namun, sekitar pukul 12.00 WITA, saat mereka berada di titik ketinggian yang lebih tinggi, kondisi cuaca tiba-tiba berubah drastis. Hujan deras disertai angin kencang menghampiri, membuat mereka kesulitan untuk melanjutkan pendakian. Akibat bad weather, mereka berdua berusaha untuk mencari tempat berlindung sementara di sekitar jalur untuk menunggu cuaca membaik.
Dalam situasi tersebut, Piqri dan Lorenzo kehilangan orientasi diri dan tidak menyadari bahwa mereka telah tersesat. Keputusan untuk terus melanjutkan perjalanan dalam keadaan yang tidak memungkinkan membuat mereka terpisah dari jalur pendakian yang benar. Mereka berusaha menggunakan ponsel untuk meminta bantuan, tetapi sinyal di lokasi tersebut sangat lemah dan tidak memadai.
Setelah beberapa jam berusaha menemukan jalan kembali, mereka akhirnya memutuskan untuk menanti tim SAR yang diminta oleh keluarga mereka, yang kehilangan kontak sejak sore hari. Tim SAR mulai melakukan pencarian pada malam harinya dan menemukan jejak mereka pada hari berikutnya, tepatnya pada pukul 09.00 WITA.Proses PencarianProses pencarian pendaki yang hilang di Hutan Gunung Agung dimulai setelah pihak keluarga melaporkan kehilangan kedua pendaki kepada pihak berwenang. Laporan tersebut memicu respons cepat dari pos pencarian dan pertolongan setempat. Tim gabungan yang terdiri dari anggota Basarnas, relawan, dan warga sekitar segera dibentuk untuk melakukan pencarian.
Koordinasi menjadi aspek kunci dalam operasi pencarian ini. Pos pencarian tidak hanya berfungsi sebagai pusat informasi, tetapi juga sebagai tempat koordinasi berbagai pihak yang terlibat. Tim dari Basarnas memimpin operasi pencarian, dibantu oleh personel dari Polsek setempat dan relawan yang memiliki pengetahuan tentang medan hutan. Upaya untuk melacak lokasi para pendaki dilakukan dengan membagi tim menjadi beberapa kelompok, yang masing-masing bertugas menjelajahi area tertentu di sekitar titik terakhir yang diketahui.
Salah satu pencapaian signifikan dalam proses pencarian adalah penemuan tongkat pendaki yang menjadi petunjuk penting bagi tim. Tongkat tersebut ditemukan tidak jauh dari jalur pendakian utama dan memberikan informasi berharga mengenai kemungkinan lokasi keberadaan para pendaki. Penemuan ini menjadi titik tolak bagi tim pencari untuk mempersempit area pencarian dan melakukan analisis lebih mendalam. Dengan menggunakan tongkat sebagai referensi, tim dapat lebih terarah dalam mencari dengan harapan akan menemukan jejak lain yang mengarah kepada pendaki yang hilang.
Seiring berjalannya waktu, usaha pencarian tidak hanya melibatkan tenaga fisik, tetapi juga melibatkan teknologi. Tim pencari menggunakan alat komunikasi modern dan peta digital untuk mempercepat proses penelusuran. Kolaborasi yang terjalin berbagai instansi dan masyarakat lokal menunjukkan pentingnya partisipasi bersama dalam situasi darurat seperti ini. Melalui kerja sama yang efektif, harapan untuk menemukan kedua pendaki dengan selamat semakin besar.
Dua pendaki yang hilang di Hutan Gunung Agung akhirnya ditemukan dalam keadaan selamat setelah pencarian berlangsung selama beberapa hari. Proses penemuan mereka dimulai pada pukul 10:00 WIB pada hari Minggu ketika tim pencari menemukan jejak pendaki di dekat area yang dikenal sebagai Rumah Hantu, sebuah lokasi yang sering dijadikan titik pertemuan bagi para pendaki. Tim evakuasi yang terdiri dari SAR lokal, relawan, dan petugas keamanan hutan melakukan pencarian dengan metode sistematis, menyusuri jalur-jalur setapak sepanjang rute pendakian.
Setelah melewati beberapa hambatan, akhirnya pada pukul 13:45 WIB, kedua pendaki tersebut ditemukan berada dalam keadaan tidak berdaya namun sadar di atas sebuah tikungan yang curam. Tim evakuasi segera memberikan pertolongan pertama dengan memeriksa kondisi fisik mereka. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan bahwa keduanya mengalami dehidrasi dan kelelahan akibat tidak cukupnya makanan dan air selama beberapa hari. Dalam situasi ini, penting untuk mengelola penanganan kesehatan secara tepat, guna mencegah kondisi kesehatan mereka mengalami kemunduran.
Setelah memastikan keduanya dalam keadaan stabil, tim evakuasi melakukan langkah-langkah selanjutnya. Mereka dibawa ke lokasi yang lebih aman untuk mendapatkan perhatian medis yang lebih intensif. Proses evakuasi kembali dilakukan menggunakan stretcher, di mana anggota tim menarik kedua pendaki ke tempat yang aman dijangkau kendaraan. Dalam perjalanan kembali, medis memberikan cairan infus dan makanan ringan untuk memulihkan stamina mereka. Tujuan utama adalah memastikan keselamatan dan kesehatan pendaki sampai mereka sampai kembali ke base camp dengan selamat.
Setelah penemuan dua pendaki yang selamat di Hutan Gunung Agung, berbagai reaksi muncul dari keluarga, tim penyelamat, dan masyarakat setempat. Keluarga pendaki menyatakan rasa syukur yang mendalam atas keselamatan anggota mereka dan mengucapkan terima kasih kepada tim SAR yang telah bekerja tanpa henti. Mereka merasakan campuran kelegaan dan kecemasan saat menunggu kabar, dan penemuan ini menjadi berita yang sangat menggembirakan. Tim penyelamat juga menyampaikan kebahagiaan mereka atas hasil yang positif, dan mereka menekankan bahwa keberhasilan operasi penyelamatan ini merupakan hasil dari kolaborasi semua pihak yang terlibat, dari relawan hingga aparat setempat.
Masyarakat setempat pun turut memberikan dukungan dan doa, serta berpendapat bahwa kejadian ini seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi semua pendaki. Kesadaran akan pentingnya keselamatan dalam pendakian tidak pernah cukup ditekankan. Dalam berbagai forum diskusi yang berlangsung di media sosial dan komunitas pendaki, banyak yang mengingatkan agar para pendaki selalu melakukan persiapan yang matang sebelum menjalani petualangan, termasuk mempelajari rute, membawa perlengkapan yang sesuai, serta tidak ragu untuk meminta bantuan jika mengalami kesulitan.
Sebagai langkah untuk mencegah kejadian serupa di masa depan, penting bagi setiap pendaki untuk memahami risiko yang ada dan membuat rencana darurat. Hal ini termasuk membentuk kelompok pendakian yang solid dan berpengalaman, memiliki peta dan alat navigasi yang memadai, serta memastikan bahwa semua anggota kelompok terlatih dalam teknik bertahan hidup. Pengalaman dua pendaki ini bisa menjadi pengingat yang berharga bagi semua yang mencintai alam dan berpetualang. Keselamatan adalah hal utama yang tidak boleh diabaikan dalam setiap perjalanan dan petualangan outdoor. Sumber informasi: nusabali.com











