Kodam XXVI/Mataram menjadi salah satu komando utama kewilayahan yang baru diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto. Pembentukan ini menandai penataan organisasi pertahanan di tingkat daerah sekaligus memperkuat koordinasi TNI Angkatan Darat dalam menjaga stabilitas keamanan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Kehadiran komando baru tersebut diharapkan dapat membuat pelaksanaan tugas teritorial berlangsung lebih terarah, terpadu, dan sesuai dengan kebutuhan strategis daerah.
Markas Kodam XXVI/Mataram direncanakan berada di Godean, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penempatan markas di kawasan tersebut mempertimbangkan kedudukannya yang strategis serta keterhubungan dengan berbagai wilayah di DIY. Sleman juga memiliki akses yang mendukung kegiatan administrasi, koordinasi, dan operasional komando. Meski pembangunan serta penyiapan fasilitasnya dilakukan secara bertahap, Godean telah ditetapkan sebagai lokasi yang diproyeksikan menjadi pusat kendali Kodam XXVI/Mataram.
Wilayah teritorial Kodam XXVI/Mataram mencakup seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan cakupan tersebut, komando ini akan memiliki tanggung jawab pembinaan teritorial dan koordinasi pertahanan di seluruh kabupaten serta kota dalam wilayah DIY. Tugasnya tidak hanya berkaitan dengan kesiapsiagaan pertahanan, tetapi juga mencakup penguatan hubungan TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam menghadapi berbagai potensi gangguan keamanan maupun keadaan darurat.
Dalam struktur kepemimpinan awal, Drajat Brima Yoga dipercaya memimpin komando daerah militer baru tersebut. Ia menjabat sebagai Panglima Kodam atau Pangdam XXVI/Mataram, posisi yang menempatkannya sebagai penanggung jawab utama pelaksanaan tugas komando di wilayah DIY. Penunjukan ini menjadi bagian penting dalam proses operasionalisasi Kodam XXVI/Mataram. Di bawah kepemimpinannya, komando tersebut diharapkan mampu membangun organisasi yang solid, memperkuat sinergi lintas sektor, serta menjalankan fungsi pertahanan dan pembinaan wilayah secara profesional.
Pembentukan Kodam XXVI/Mataram merupakan bagian dari penataan struktur komando kewilayahan TNI Angkatan Darat. Penambahan ini ditempatkan dalam konteks kebutuhan untuk memastikan pengelolaan pertahanan dan keamanan wilayah berjalan lebih terarah, terutama ketika cakupan tugas mencakup daerah yang luas serta memiliki karakteristik geografis dan sosial yang beragam. Dengan adanya struktur komando yang lebih sesuai, koordinasi unsur pertahanan di tingkat pusat dan daerah diharapkan berlangsung secara lebih efektif.
Saat ini, TNI Angkatan Darat memiliki 21 komando daerah militer yang mencakup total 38 provinsi. Dalam proses penguatan tersebut, enam kodam baru telah diresmikan. Namun, pembangunan struktur kodam masih menyisakan 11 kodam. Data ini menunjukkan bahwa penataan komando teritorial dilakukan secara bertahap untuk menyesuaikan kebutuhan pertahanan kewilayahan di seluruh Indonesia, termasuk melalui pembentukan Kodam XXVI/Mataram yang bermarkas di Sleman.
Penambahan kodam ditujukan untuk mempermudah pengamanan wilayah melalui pembagian tanggung jawab yang lebih jelas dan jangkauan komando yang lebih dekat dengan daerah. Langkah tersebut juga diharapkan memperkuat struktur pertahanan kewilayahan, sehingga pelaksanaan pembinaan teritorial, koordinasi keamanan, dan respons terhadap kebutuhan wilayah dapat dilakukan secara lebih terorganisasi. Selain itu, pengembangan ini diarahkan untuk menyamakan komando teritorial TNI Angkatan Darat di setiap provinsi di Indonesia. Keseragaman tersebut penting bagi terciptanya pola koordinasi yang konsisten, sekaligus mendukung pelaksanaan tugas pertahanan sesuai karakter dan kebutuhan masing-masing daerah. Dalam kerangka itu, kehadiran Kodam XXVI/Mataram tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari upaya memperkuat susunan komando nasional. Penataan ini diharapkan membentuk sistem kewilayahan yang lebih proporsional, terkoordinasi, dan mampu mendukung pengamanan wilayah secara berkelanjutan.
Drajat Brima Yoga merupakan perwira tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) yang dipercaya memimpin Komando Daerah Militer (Kodam) XXVI/Mataram. Dalam jabatan tersebut, ia menyandang pangkat mayor jenderal, salah satu jenjang kepangkatan tertinggi dalam struktur perwira TNI AD. Drajat lahir pada 14 November 1969. Penunjukannya sebagai Pangdam menempatkan dirinya sebagai figur penting dalam pembinaan kekuatan pertahanan darat sekaligus pelaksanaan tugas kewilayahan di area yang menjadi tanggung jawab Kodam XXVI/Mataram, yang bermarkas di Sleman.
Karier militer Drajat berawal dari pendidikan di Akademi Militer (Akmil). Ia merupakan lulusan Akmil tahun 1992, atau kerap disebut abituren Akmil 1992. Pendidikan tersebut menjadi fondasi bagi perjalanan panjangnya sebagai perwira TNI AD. Sebagai lulusan korps perwira yang dibentuk untuk menjalankan tugas komando dan kepemimpinan, Drajat menempuh pengalaman profesional di lingkungan satuan tempur serta struktur organisasi Angkatan Darat. Pengalaman itu menjadi bekal penting ketika ia menerima amanah untuk memimpin satuan kewilayahan dengan cakupan tugas yang luas.
Drajat Brima Yoga juga tercatat satu angkatan dengan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak. Kesamaan latar pendidikan tersebut menunjukkan bahwa keduanya memulai perjalanan pengabdian melalui Akmil pada tahun yang sama. Drajat dan Maruli sama-sama berasal dari korps infanteri, cabang utama TNI AD yang memiliki peran penting dalam operasi darat. Keduanya juga pernah berkiprah di Komando Pasukan Khusus (Kopassus), satuan elite TNI AD yang dikenal luas sebagai korps baret merah. Latar belakang infanteri dan pengalaman di Kopassus memberikan konteks terhadap karakter kepemimpinan serta rekam penugasan Drajat dalam lingkungan militer.
Riwayat penugasan Drajat Brima Yoga pada tahap awal karier dapat disusun berdasarkan urutan jabatan yang tercantum dalam sumber. Rangkaian tersebut dimulai dari penugasannya sebagai Danyonif Raider 300/BJW pada periode 2009–2011. Jabatan ini menjadi bagian pertama dalam jejak penugasan yang disebutkan sebelum ia menjalani penugasan berikutnya.
Selama periode 2009–2011, Drajat tercatat menjabat sebagai Danyonif Raider 300/BJW. Penyebutan periode tersebut menempatkan penugasan di Yonif Raider 300/BJW sebagai tahap awal dalam urutan riwayat yang tersedia. Setelah periode itu berakhir, riwayat penugasannya berlanjut pada tahun 2011 melalui jabatan Dandim 1207/Pontianak.
Pada 2011, Drajat kemudian dipercaya menjadi Dandim 1207/Pontianak. Penugasan ini tercatat setelah masa jabatannya sebagai Danyonif Raider 300/BJW pada periode 2009–2011. Dengan demikian, urutannya bergerak dari Yonif Raider 300/BJW menuju jabatan Dandim 1207/Pontianak pada tahun yang sama setelah periode pertama tersebut.
Jejak penugasan itu berlanjut pada 2013, ketika Drajat dipercaya menjabat sebagai Kasrem 051/Wijayakarta. Jabatan tersebut tercatat sebagai penugasan berikutnya setelah Dandim 1207/Pontianak. Berdasarkan urutan yang tersedia, rangkaian awal karier Drajat terdiri atas tiga tahap: Danyonif Raider 300/BJW pada 2009–2011, Dandim 1207/Pontianak pada 2011, dan Kasrem 051/Wijayakarta pada 2013. Susunan kronologis ini menggambarkan perpindahan penugasan sebagaimana tercantum dalam sumber, tanpa menambahkan jabatan atau periode lain.

