Longsor di Bangli Memutus Akses Kintamani–Denpasar, Warga Memutar 1,5 Kilometer

Longsor di Bangli Memutus Akses Kintamani–Denpasar, Warga Memutar 1,5 Kilometer

Denpasar | Longsor terjadi pada Selasa, 3 November 2026, sekitar pukul 02.00 WITA dan memutus jalur Kintamani–Denpasar. Peristiwa tersebut berlangsung di Banjar Dinas Pulasari Kawan, Desa Persiapan Pulasari, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, Bali. Material longsor membuat badan jalan ambrol pada sisi selatan dan utara, sehingga kendaraan tidak dapat melintas di titik kejadian. Kondisi itu menjadikan ruas tersebut tidak bisa digunakan untuk perjalanan yang menghubungkan kawasan Kintamani dengan Denpasar.

Putusnya jalan terjadi pada dini hari, ketika kerusakan pada kedua sisi badan jalan menyebabkan jalur tidak lagi dapat dilewati kendaraan. Informasi lokasi menunjukkan bahwa kejadian berada di wilayah Desa Persiapan Pulasari, tepatnya di Banjar Dinas Pulasari Kawan, Kecamatan Tembuku. Dengan ambrolnya sisi selatan dan utara, akses melalui titik tersebut terhenti. Pengguna jalan yang hendak melintas pada rute Kintamani–Denpasar tidak dapat meneruskan perjalanan melewati bagian jalan yang terdampak longsor.

Peristiwa ini menjadi gangguan langsung terhadap akses pada jalur tersebut karena kerusakan mencakup bagian badan jalan, bukan sekadar hambatan di tepi ruas. Untuk sementara, kendaraan tidak dapat melintasi lokasi longsor. Warga yang perlu melanjutkan perjalanan diketahui memutar sekitar 1,5 kilometer. Keterangan mengenai waktu, lokasi, serta kondisi jalan itu menjelaskan inti kejadian: longsor dini hari menyebabkan akses Kintamani–Denpasar terputus di wilayah Tembuku, Bangli. Uraian ini terbatas pada informasi yang tersedia mengenai waktu kejadian, titik lokasi, bagian jalan yang ambrol, dan tidak dapat dilaluinya jalur. Tidak ada rincian tambahan yang dapat dipastikan dari keterangan tersebut mengenai keadaan di luar kondisi jalan. Karena itu, fokus peristiwa ini adalah terputusnya akses akibat badan jalan yang ambrol pada dua sisi. Jalur yang menghubungkan Kintamani dan Denpasar pun tidak dapat dilalui kendaraan di titik itu, sementara warga menempuh putaran sekitar 1,5 kilometer untuk melanjutkan perjalanan.

Kerusakan pada ruas jalan yang terdampak longsor terjadi di dua sisi, dengan panjang bagian yang jebol berbeda. Kepala Desa Persiapan Pulasari, I Wayan Sutrisna, menjelaskan bahwa kerusakan di sisi selatan membentang sepanjang 21 meter. Sementara itu, bagian utara yang jebol memiliki panjang 16 meter. Keterangan tersebut menggambarkan sebaran kerusakan pada akses yang menghubungkan kawasan Kintamani dan Denpasar, sekaligus menunjukkan bahwa dampaknya tidak terbatas pada satu titik saja.

Perbedaan panjang kerusakan di sisi selatan dan utara menjadi rincian penting dalam memahami kondisi jalan setelah longsor. Bagian selatan yang jebol lebih panjang daripada bagian utara, berdasarkan ukuran yang disampaikan Sutrisna. Kedua bagian itu membuat jalur utama tidak dapat dilalui seperti biasa, sehingga warga perlu mencari lintasan lain untuk melanjutkan perjalanan. Informasi mengenai panjang kerusakan tersebut berasal dari keterangan kepala desa, dan menjadi acuan untuk menjelaskan kondisi di lokasi tanpa menyamakan ukuran kedua sisi.

Untuk tetap bepergian, warga menggunakan jalur alternatif melalui Pulasari Kangin. Pilihan ini mengharuskan mereka memutar dengan jarak sekitar 1,5 kilometer, sebagaimana perkiraan yang disampaikan narasumber. Jarak tersebut merupakan perkiraan, bukan ukuran pasti, sehingga tetap perlu dipahami sesuai keterangan Sutrisna. Meski demikian, rute alternatif itu memberi gambaran mengenai tambahan perjalanan yang harus ditempuh warga ketika akses utama terdampak. Warga yang menuju atau meninggalkan kawasan tersebut perlu memperhitungkan lintasan melalui Pulasari Kangin sebagai pengganti sementara, dengan memutar sekitar jarak yang diperkirakan itu. Rincian mengenai dua sisi jalan dan rute putar memperlihatkan dampak langsung longsor terhadap mobilitas setempat: bagian selatan jebol sepanjang 21 meter, bagian utara 16 meter, dan perjalanan warga bertambah karena harus melewati jalur lain. Dengan demikian, keterangan mengenai panjang kerusakan serta perkiraan jarak putar dapat membantu pembaca memahami kondisi akses tanpa menambahkan angka atau ukuran lain yang tidak disampaikan narasumber.

Ruas jalan yang terputus akibat longsor memiliki fungsi penting sebagai akses utama yang menghubungkan wilayah Bangli dengan sejumlah daerah lain. Jalur ini digunakan untuk perjalanan dari Kintamani menuju kawasan lain, termasuk Karangasem, serta menuju Kota Denpasar melalui jalur Bangbang. Karena menjadi bagian dari hubungan antardaerah, terputusnya jalan membuat warga tidak dapat melewati rute tersebut seperti biasanya. Mereka yang hendak melintas perlu menyesuaikan perjalanan dan menggunakan jalur lain, termasuk dengan memutar sekitar 1,5 kilometer.

Perubahan akses ini terasa dalam kegiatan sehari-hari warga yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar jalur tersebut. Jalan itu biasa digunakan untuk menuju kebun, sehingga kondisi yang tidak dapat dilalui mengganggu perjalanan warga yang hendak bekerja atau mengurus lahan. Akses yang sama juga menjadi rute menuju sekolah. Bagi warga yang harus berangkat untuk kegiatan belajar, terputusnya jalan berarti mereka perlu mempertimbangkan perjalanan memutar agar dapat mencapai tujuan.

Selain untuk menuju kebun dan sekolah, ruas tersebut lazim dimanfaatkan warga saat pergi ke tempat kerja. Dengan demikian, dampak longsor tidak hanya terlihat pada terputusnya jalur penghubung, tetapi juga pada rutinitas perjalanan yang mengandalkan akses itu. Warga perlu menempuh rute alternatif dan menyesuaikan perjalanan karena jalan utama belum dapat digunakan sebagaimana biasa. Fungsi jalan sebagai penghubung Bangli, Kintamani, Karangasem, dan Denpasar melalui Bangbang menjelaskan mengapa gangguan pada ruas ini berpengaruh langsung terhadap mobilitas harian masyarakat. Dampak yang disebutkan terutama berkaitan dengan akses warga untuk mencapai kebun, sekolah, dan tempat kerja; tidak perlu ditarik menjadi klaim yang lebih luas di luar keterangan tersebut.

Bagian jalan yang ambrol berada tepat di sisi aliran sungai, sehingga kerusakan terlihat pada ruas yang berbatasan langsung dengan tepian air. Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang diperiksa saat tim mendatangi lokasi. Berdasarkan keterangan awal mengenai kejadian, kerusakan diduga dipicu derasnya aliran air yang datang dari arah utara. Arus yang kuat diperkirakan memberi tekanan pada bagian tepi jalan hingga tanah dan badan jalan mengalami keruntuhan. Namun, dugaan penyebab itu masih menjadi konteks awal penanganan, bukan kesimpulan teknis yang memastikan seluruh faktor penyebabnya. Pemeriksaan lokasi diperlukan untuk mencermati kondisi sekitar, termasuk hubungan aliran sungai dan bagian jalan yang terdampak.

Menindaklanjuti kejadian tersebut, tim Pemerintah Kabupaten Bangli bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang serta Polres Bangli meninjau titik kerusakan. Kunjungan itu dilakukan untuk melihat langsung keadaan ruas jalan dan memastikan bagian yang ambrol dapat diperiksa secara menyeluruh. Di lokasi, petugas mengamati kondisi fisik kerusakan serta melakukan pengukuran pada area terdampak. Pengukuran menjadi langkah penting untuk mendapatkan gambaran mengenai panjang dan cakupan bagian jalan yang perlu ditangani. Data lapangan tersebut juga membantu pihak terkait menyusun kebutuhan penanganan secara lebih terukur, dengan mempertimbangkan kondisi jalan dan posisi kerusakan di dekat aliran sungai.

Hasil pengukuran yang telah dilakukan akan digunakan sebagai bahan penyusunan rencana anggaran biaya perbaikan jalan. Dengan adanya data kondisi lapangan, kebutuhan pekerjaan dapat dihitung dan dirumuskan dalam perencanaan anggaran. Proses ini menjadi tindak lanjut administratif dan teknis setelah peninjauan, sekaligus menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam mempersiapkan langkah penanganan berikutnya. Pada tahap ini, informasi yang tersedia berfokus pada pemeriksaan dan pengukuran, serta pemanfaatan hasilnya untuk menyusun rencana biaya. Belum ada keterangan mengenai jadwal pelaksanaan perbaikan maupun dimulainya pekerjaan fisik di lokasi. Karena itu, warga dan pengguna jalan masih perlu merujuk pada informasi resmi terkait perkembangan penanganan ruas yang terdampak.

Baca juga: Krisis Air Bersih Memaksa Warga Cukanggalih Menempuh Jarak 2 Kilometer | Jetour T2 i-DM Resmi Hadir di Semarang dengan Jangkauan Gabungan Lebih dari 1.200 Kilometer

31 kunjungan