Bisnis  

Transaksi Rp1,12 Triliun Dominasi Perdagangan Saham Bayan di Pasar Negosiasi

Transaksi Rp1,12 Triliun Dominasi Perdagangan Saham Bayan di Pasar Negosiasi

Jakarta | Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN), emiten batu bara yang dimiliki Low Tuck Kwong, mencatat transaksi jumbo di pasar negosiasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan sesi I, Rabu, 14 Oktober 2026. Nilai transaksi tersebut mencapai sekitar Rp1,12 triliun dan menjadi salah satu aktivitas paling menonjol di pasar negosiasi hingga siang hari.

Transaksi berlangsung melalui mekanisme tutup sendiri atau crossing pada harga Rp11.200 per saham. Dengan harga tersebut, perpindahan saham mencakup sekitar 100 juta saham BYAN, setara dengan 1 juta lot. Besarnya nilai dan volume transaksi membuat aktivitas perdagangan saham Bayan mendominasi pasar negosiasi pada sesi pertama perdagangan hari itu.

Pasar negosiasi merupakan segmen perdagangan BEI yang memungkinkan transaksi dilakukan berdasarkan kesepakatan pihak penjual dan pembeli. Berbeda dengan pasar reguler yang menggunakan mekanisme perdagangan secara berkesinambungan, transaksi di segmen ini dapat dilakukan melalui proses negosiasi, termasuk crossing ketika pihak-pihak yang terlibat telah menentukan harga dan jumlah saham yang dipindahkan.

Transaksi sebesar Rp1,12 triliun tersebut tidak serta-merta mencerminkan perubahan harga BYAN di pasar reguler, karena crossing di pasar negosiasi memiliki mekanisme tersendiri. Namun, nilai transaksi itu menunjukkan adanya perpindahan kepemilikan dalam jumlah besar atas saham perusahaan batu bara tersebut. Harga Rp11.200 per saham menjadi acuan pelaksanaan transaksi jumbo yang melibatkan sekitar 100 juta saham.

Dominasi perdagangan BYAN di pasar negosiasi juga terlihat dari skala transaksinya yang jauh lebih besar dibandingkan aktivitas biasa pada segmen tersebut. Hingga penutupan sesi I, crossing saham Bayan menjadi sorotan utama karena menyumbang nilai perdagangan sekitar Rp1,12 triliun hanya dari satu transaksi besar. Peristiwa ini menambah catatan penting dalam perdagangan saham BYAN pada 14 Oktober 2026, khususnya terkait perpindahan saham dalam jumlah signifikan melalui mekanisme negosiasi BEI.

Transaksi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi penyumbang terbesar terhadap aktivitas perdagangan di pasar negosiasi hingga akhir sesi I. Nilai crossing BYAN yang mencapai Rp1,12 triliun mendominasi total nilai transaksi pasar negosiasi, yang tercatat sebesar Rp1,43 triliun. Dengan perbandingan tersebut, transaksi BYAN berkontribusi sekitar 78% dari keseluruhan nilai perdagangan di segmen pasar negosiasi pada periode tersebut. Besarnya kontribusi ini menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan saham BYAN menjadi faktor utama yang mengangkat nilai transaksi negosiasi secara keseluruhan.

Transaksi senilai Rp1,12 triliun itu berlangsung pada harga Rp11.200 per saham. Aktivitas serupa pada harga yang sama bukan kali pertama terjadi. Pada perdagangan Selasa, 13 Oktober 2026, saham BYAN juga mencatat transaksi di pasar negosiasi dengan nilai sekitar Rp5,6 miliar. Transaksi tersebut melibatkan volume 5.000 lot atau setara dengan 500.000 saham, menggunakan harga Rp11.200 per saham.

Transaksi BYAN sebelumnya difasilitasi oleh PT Maybank Sekuritas Indonesia dengan kode broker ZP. Dalam catatan perdagangan, broker tersebut tercatat berada di sisi beli sekaligus sisi jual. Posisi tersebut menunjukkan bahwa Maybank Sekuritas Indonesia terlibat pada kedua sisi transaksi negosiasi BYAN yang berlangsung pada harga yang sama. Rangkaian transaksi ini memperlihatkan adanya aktivitas crossing melalui mekanisme pasar negosiasi, yang berbeda dari perdagangan reguler karena harga dan kesepakatannya dapat disusun berdasarkan persetujuan pihak pembeli dan penjual. Dominasi nilai BYAN hingga akhir sesi I sekaligus menegaskan besarnya pengaruh satu transaksi bernilai jumbo terhadap struktur perdagangan pasar negosiasi pada hari tersebut.

Perdagangan saham Bayan Resources Tbk. (BYAN) di pasar negosiasi mencatat transaksi jumbo pada harga Rp11.200 per saham. Nilai tersebut berada sekitar 0,44% di bawah harga penutupan perdagangan sebelumnya, yang tercatat sebesar Rp11.250. Jika dibandingkan dengan posisi BYAN di pasar reguler, harga crossing itu juga lebih rendah sekitar 1,75%. Perbedaan harga ini menunjukkan bahwa transaksi bernilai besar tersebut berlangsung pada tingkat harga yang tidak sepenuhnya mencerminkan penguatan saham BYAN di perdagangan reguler.

Di pasar reguler, BYAN tetap bergerak positif hingga akhir sesi I. Saham tersebut menguat 150 poin atau 1,33% menjadi Rp11.400 per saham. Sepanjang sesi, BYAN dibuka pada level Rp11.325, kemudian sempat menyentuh harga tertinggi Rp11.500. Namun, saham ini juga turun hingga level terendah Rp11.075 sebelum berakhir pada posisi Rp11.400. Adapun harga rata-rata transaksi BYAN di pasar reguler berada di angka Rp11.338 per saham, lebih tinggi dibandingkan harga transaksi crossing Rp11.200.

Meski mencatat kenaikan harga, aktivitas BYAN di pasar reguler relatif sepi jika dibandingkan dengan transaksi di pasar negosiasi. Volume perdagangan reguler hanya mencapai 3.270 lot dengan nilai sekitar Rp3,7 miliar, sedangkan nilai crossing mencapai Rp1,12 triliun. Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa dominasi perdagangan BYAN pada sesi tersebut berasal dari transaksi dalam jumlah besar di luar mekanisme reguler, bukan dari aktivitas jual beli harian yang ramai.

Dari sisi antrean pasar, tekanan jual masih terlihat lebih besar. Penawaran jual pada 10 level harga teratas mencapai 6.144 lot, sementara antrean beli hanya berjumlah 3.935 lot. Selisih tersebut menggambarkan adanya pasokan saham yang lebih tebal dibandingkan minat beli pada level-level harga terdekat. Kondisi ini dapat membatasi ruang penguatan BYAN dalam perdagangan reguler apabila antrean jual tetap bertahan, meskipun saham telah ditutup menguat pada akhir sesi I.

Perdagangan saham Indonesia pada sesi I ditutup dalam penguatan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertambah 48,31 poin atau 0,82% ke level 5.974,29. Sepanjang sesi, IHSG bergerak pada rentang 5.906,74 hingga 6.009,96, yang mencerminkan dinamika perdagangan sejak pembukaan hingga menjelang jeda siang. Kenaikan indeks tersebut berlangsung di tengah aktivitas transaksi saham dan instrumen pasar lainnya di Bursa Efek Indonesia.

Nilai transaksi IHSG tercatat mencapai Rp6,10 triliun. Dari keseluruhan nilai tersebut, transaksi di pasar negosiasi menyumbang Rp1,43 triliun. Berdasarkan komposisi pergerakan saham, sebanyak 391 saham menguat, sedangkan 227 saham melemah. Sebanyak 170 saham lainnya tercatat stagnan pada sesi perdagangan tersebut. Data itu menggambarkan distribusi pergerakan saham yang berlangsung hingga penutupan sesi I.

Sejumlah indeks utama juga mencatat kenaikan. Indeks LQ45 naik 1,24% ke level 596,52. IDX80 bertambah 1,22% menjadi 88,56, sementara IDX30 menguat 1,19% ke posisi 332,11. Indeks IDXHIDIV20 turut meningkat 1,07% ke level 426,26. Pergerakan positif pada indeks-indeks tersebut melengkapi penguatan IHSG pada sesi I, dengan seluruh data mencakup kondisi perdagangan saham Indonesia hingga jeda sesi pertama.

Baca juga: Hadiri Peringatan 10 Tahun Hubungan Jiangxi–Indonesia, Bamsoet Dorong Peningkatan Kerja Sama Dari Perdagangan ke Investasi dan Basis Produksi | IHSG Mengalami Penurunan Signifikan di Pasar Saham