Dari Penggembala hingga Ibu Rumah Tangga: Kisah UMKM Kendal di Balik Tas Kulit Terbatas

Dari Penggembala hingga Ibu Rumah Tangga: Kisah UMKM Kendal di Balik Tas Kulit Terbatas

Kabupaten Kendal | Sebuah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) asal Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, menghadirkan tas kulit anyaman dengan desain eksklusif. Produk tersebut dibuat dalam jumlah terbatas sehingga setiap tas memiliki ketersediaan yang tidak banyak. Keunikan utama terletak pada penggunaan material kulit yang dipadukan dengan teknik anyaman, menghasilkan tampilan yang menjadi ciri khas produk dari UMKM tersebut.

Di balik proses pembuatannya, terdapat keterlibatan warga lokal Kendal. Masyarakat setempat mengambil bagian dalam tahapan produksi tas, sehingga kegiatan usaha ini tidak hanya berfokus pada pembuatan dan penjualan produk. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari upaya UMKM untuk menggerakkan ekonomi masyarakat melalui aktivitas produksi yang dilakukan di daerah asalnya.

Produk tas kulit anyaman itu juga diperkenalkan kepada masyarakat melalui pameran INACRAFT. UMKM Kendal tersebut mengikuti pameran yang berlangsung pada 7–11 Oktober 2026 dan menampilkan produknya di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta. Kehadiran di ajang tersebut menjadi ruang bagi produk buatan warga Kendal untuk diperlihatkan bersama kerajinan lainnya, dengan tetap membawa karakter desain eksklusif dan jumlah produksi yang terbatas.

Perwakilan UMKM, Desi Panca, menjelaskan bahwa pembuatan tas kulit terbatas ini melibatkan lima perajin lokal dari lingkungan sekitar. Mereka terdiri atas tiga laki-laki dan dua perempuan. Keterlibatan tersebut tidak hanya memperkuat proses produksi, tetapi juga menunjukkan bahwa keterampilan membuat produk kulit dapat menjadi ruang kerja bersama bagi masyarakat dengan latar belakang kehidupan yang berbeda.

Dalam pembagian tugasnya, para perajin laki-laki bertanggung jawab pada tahap pembentukan dan perakitan tas. Pekerjaan ini mencakup menyiapkan bagian-bagian kulit, membentuk pola sesuai rancangan, serta menyatukan setiap komponen hingga menjadi tas yang kokoh dan siap digunakan. Ketelitian diperlukan agar ukuran, struktur, dan tampilan produk tetap sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

Sementara itu, dua perajin perempuan mengerjakan anyaman kulit dari rumah masing-masing. Pola anyaman dibuat dengan cermat untuk menghasilkan permukaan yang rapi sekaligus memberikan ciri khas pada tas. Pekerjaan tersebut dilakukan secara bertahap dan menyesuaikan waktu yang tersedia, sehingga tetap dapat terhubung dengan proses produksi tanpa mengharuskan mereka berada di tempat kerja sepanjang hari.

Menurut penjelasan Desi, pelibatan ibu rumah tangga dipilih agar mereka tetap dapat berkarya dan memperoleh kesempatan produktif tanpa meninggalkan tanggung jawab merawat anak di rumah. Pengaturan kerja yang lebih fleksibel memungkinkan para ibu menyesuaikan pengerjaan anyaman dengan kebutuhan keluarga. Dengan demikian, peran domestik dan kegiatan ekonomi dapat berjalan secara berdampingan.

Pembagian peran ini memperlihatkan pendekatan pemberdayaan yang mempertimbangkan kemampuan serta kondisi setiap perajin. Para laki-laki mengerjakan tahapan yang membutuhkan proses perakitan, sedangkan para ibu berkontribusi melalui keterampilan anyaman yang dapat dikerjakan dari rumah. Kerja sama tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga mutu tas sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi keluarga perajin lokal di Kendal.

Sebelum menekuni kerajinan kulit, sejumlah perajin laki-laki di Kendal bekerja sebagai penggembala kerbau dan sapi. Aktivitas mereka sehari-hari berkaitan dengan perawatan serta pengawasan hewan ternak. Latar belakang tersebut menjadi bagian dari perjalanan kerja mereka sebelum beralih ke bidang pembuatan tas. Perpindahan profesi itu berlangsung setelah mereka memperoleh pelatihan dari dinas terkait, yang memberikan pengenalan terhadap keterampilan dasar dalam mengolah bahan kulit.

Melalui pelatihan tersebut, para peserta mempelajari tahapan pekerjaan yang diperlukan untuk menghasilkan tas. Mereka kemudian menjalankan tugas membentuk dan merakit bagian-bagian produk. Pekerjaan membentuk menuntut ketelitian agar setiap komponen mengikuti rancangan, sedangkan perakitan mengharuskan bagian-bagian itu disatukan secara tepat. Keterampilan yang sebelumnya belum menjadi bagian dari pekerjaan mereka dipelajari melalui proses pelatihan dan praktik pembuatan secara langsung.

Bahan utama yang digunakan berupa lembaran kulit sapi tersamak. Kulit tersebut dipilih dalam bentuk lembaran agar dapat diproses sesuai kebutuhan desain tas. Sebelum masuk ke tahap pembentukan, lembaran kulit dipotong mengikuti ukuran dan pola yang telah ditentukan. Pemotongan yang presisi diperlukan supaya setiap bagian memiliki bentuk yang sesuai ketika dirakit menjadi satu produk.

Setelah dipotong, kulit diserut secara cermat untuk memperoleh ketebalan yang seragam. Tahap ini membantu menyiapkan material agar lebih mudah dibentuk dan dipadukan dengan komponen lainnya. Keseragaman ketebalan menjadi salah satu perhatian dalam proses kerja karena setiap bagian perlu ditempatkan secara tepat saat perakitan. Dari lembaran kulit sapi tersamak, pemotongan, penyerutan, hingga pembentukan dan perakitan, pekerjaan para perajin menunjukkan rangkaian keterampilan yang dipelajari setelah mereka meninggalkan pekerjaan sebagai penggembala.

Untuk menjaga eksklusivitas, UMKM ini menerapkan strategi produksi terbatas pada setiap koleksi tas kulitnya. Setiap model tidak dibuat secara massal, melainkan dirancang berdasarkan gagasan dan selera pemilik usaha, kemudian diproduksi dalam jumlah tertentu. Pendekatan tersebut membuat setiap tas terasa lebih personal sekaligus memiliki karakter yang kuat. Konsumen juga tidak menemukan terlalu banyak pilihan warna dalam satu model, karena variasinya sengaja dibatasi agar produk tetap istimewa. Keterbatasan stok menjadi bagian dari identitas usaha, bukan sekadar strategi pemasaran.

Selain tas kulit anyaman yang menjadi salah satu produk unggulan, UMKM ini memamerkan beragam busana dan kain batik. Keunikan batiknya terletak pada penggunaan aksen prada dengan pilihan warna yang lebih berani, seperti merah muda, hijau, dan biru. Warna-warna tersebut memberikan kesan segar serta membedakan produknya dari batik berprada emas atau perak yang lebih konvensional. Perpaduan motif tradisional dan sentuhan warna kontemporer membuka peluang bagi kain batik untuk digunakan dalam berbagai kebutuhan, baik busana resmi maupun gaya yang lebih modern.

Di balik pengembangan produknya, terdapat perhatian terhadap aspek sosial. Dalam perjalanan usahanya, UMKM ini pernah melibatkan perajin penyandang disabilitas dalam proses produksi. Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan dan pemberian kesempatan kerja yang inklusif. Meskipun belum selalu dapat dilakukan secara berkelanjutan, pemilik usaha tetap membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas yang ingin bergabung pada masa mendatang, sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan produksi.

Keikutsertaan dalam INACRAFT menjadi ruang penting untuk memperkenalkan koleksi terbatas, busana, dan kain batik tersebut kepada calon pembeli maupun pelaku usaha dari berbagai daerah. Setelah mengikuti pameran ini, UMKM berharap jangkauan pasarnya semakin luas, terutama di kawasan Jabodetabek yang memiliki basis konsumen dan peluang kolaborasi besar. Mereka juga berharap memperoleh kesempatan mengikuti pameran strategis berikutnya, sehingga produk lokal dari Kendal dapat semakin dikenal dan berkembang tanpa kehilangan ciri khasnya.