Batik in Motion 2026 Pecahkan Rekor MURI, Dihari Jadi Kota Probolinggo Yang Ke-667

Sibernkri.com // Probolinggo – Semarak Hari Jadi ke-667 Kota Probolinggo semakin meriah dengan digelarnya Batik in Motion 2026, sebuah perhelatan budaya dan fesyen yang mengangkat batik sebagai warisan budaya sekaligus kekuatan ekonomi kreatif daerah.
Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Wali Kota Probolinggo dr. H. Aminuddin, Sp.OG., Subsp.K.Obginsos., M.Kes., bersama jajaran Pemerintah Kota Probolinggo. Turut hadir para tamu undangan dari berbagai daerah, termasuk kepala daerah se-Jawa Timur, unsur Forkopimda, tokoh masyarakat, pelaku UMKM, perajin batik, desainer, komunitas, serta masyarakat Kota Probolinggo.


Batik in Motion 2026 menjadi salah satu momentum penting dalam rangkaian peringatan Hari Jadi ke-667 Kota Probolinggo. Tidak sekadar menampilkan busana batik, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk memperkenalkan kreativitas, inovasi, serta potensi batik dan industri fesyen lokal kepada masyarakat luas.
Beragam karya batik ditampilkan dalam balutan busana yang memadukan nilai-nilai tradisional dengan sentuhan modern. Para peserta membawa pesan bahwa batik bukan sekadar kain warisan leluhur, melainkan identitas budaya bangsa yang mampu berkembang dan beradaptasi dengan perkembangan zaman.


Dorong Batik sebagai Penggerak Ekonomi Kreatif Batik in Motion 2026 juga menjadi bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Kota Probolinggo.
Batik memiliki potensi besar untuk menggerakkan berbagai sektor, mulai dari perajin, UMKM, desainer, industri fesyen hingga pariwisata. Karena itu, pengembangan batik tidak hanya berorientasi pada pelestarian budaya, tetapi juga diarahkan untuk memberikan nilai tambah dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, Pemerintah Kota Probolinggo menunjukkan komitmennya memberikan ruang lebih luas kepada para pelaku ekonomi kreatif untuk mengembangkan produk lokal agar semakin dikenal dan memiliki daya saing.
“Penghargaan rekor MURI diserahkan padabdewan perajin an nasional Kota probolinggo di dampingi wali kota dan ibu wakil
Batik in Motion Pecahkan Rekor MURI
Puncak kemeriahan Batik in Motion 2026 ditandai dengan pecahnya rekor MURI (Museum Rekor-Dunia Indonesia) melalui kegiatan batik yang melibatkan peserta dalam jumlah besar. Dari tingkat SD, SMP, SMA, juga masyarakat kota probolinggo.
Pencapaian tersebut menjadi kado istimewa bagi Kota Probolinggo dalam momentum Hari Jadi ke-667. Ribuan peserta mengenakan busana batik dengan beragam motif, corak, dan desain, menciptakan suasana spektakuler sekaligus menjadi gambaran besarnya antusiasme masyarakat terhadap pelestarian budaya.
Keberhasilan mencatatkan rekor MURI tersebut bukan sekadar pencapaian seremonial. Lebih dari itu, Batik in Motion menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dikemas secara kreatif, modern, kolaboratif, dan melibatkan masyarakat secara luas.
Kehadiran para kepala daerah se-Jawa Timur juga memperkuat semangat kolaborasi antardaerah dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan Indonesia, khususnya batik sebagai salah satu identitas budaya bangsa.
Kado Istimewa Hari Jadi Kota Probolinggo
Bagi Kota Probolinggo, Batik in Motion 2026 menjadi bagian penting dalam perjalanan peringatan Hari Jadi ke-667. Perhelatan tersebut tidak hanya menghadirkan hiburan dan pertunjukan fesyen, tetapi juga menjadi panggung promosi budaya serta potensi ekonomi kreatif daerah.
Momentum ini diharapkan semakin meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap batik sekaligus mendorong generasi muda untuk ikut menjaga, mengenalkan, dan mengembangkan warisan budaya bangsa.
Batik in Motion 2026 juga diharapkan dapat menjadi agenda budaya berkelanjutan yang semakin besar pada tahun-tahun mendatang. Dengan demikian, Kota Probolinggo tidak hanya dikenal melalui sejarah dan potensi pariwisatanya, tetapi juga sebagai daerah yang aktif mengembangkan ekonomi kreatif serta melestarikan budaya Indonesia.
Batik bergerak, budaya berkembang, ekonomi kreatif menguat. Batik in Motion 2026 pun menjadi kado istimewa bagi Kota Probolinggo di usia ke-667

Pewarta:

“Samsuri/*