Udara Jakarta Masih Tidak Sehat, Pemprov Siapkan Water Mist dan Layanan ISPA

Jakarta | Kualitas udara di Jakarta masih tergolong tidak sehat meskipun asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Kalimantan telah bergeser menjauh dari ibu kota. Perubahan arah asap tersebut belum serta-merta memperbaiki kondisi udara yang dihirup warga. Data pemantauan pada Ahad menunjukkan polusi partikel halus masih berada pada tingkat yang perlu diwaspadai, sehingga masyarakat tetap disarankan memperhatikan kualitas udara sebelum beraktivitas di luar ruangan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan asap karhutla dari Kalimantan tidak lagi terdeteksi di langit Jakarta sejak Sabtu (17/10/2026). Berdasarkan citra satelit Himawari 9 pada Ahad pukul 16.00 WIB, sebaran asap dari wilayah Kalimantan telah bergerak ke arah Sumatra. Dengan demikian, asap yang sebelumnya dipantau di sekitar ibu kota kini tidak lagi terlihat di wilayah tersebut, meski keadaan ini tidak berarti tingkat pencemaran udara Jakarta sudah pulih.

Asap sempat terdeteksi memasuki Jakarta pada Jumat siang. Namun, menurut BMKG, keberadaannya berada di lapisan atmosfer dan tidak berdampak langsung pada aktivitas warga di permukaan. Perbedaan posisi asap di atmosfer dengan kondisi udara yang terukur di permukaan penting dipahami saat menilai risiko paparan. Meski sumber asap tersebut telah bergeser, polutan lain maupun partikel yang sudah berada di udara tetap dapat memengaruhi hasil pemantauan kualitas udara.

Pada Ahad, data IQAir mencatat indeks kualitas udara Jakarta berada di angka 151. Konsentrasi PM2.5 tercatat sebesar 55,6 mikrogram per meter kubik. Angka indeks tersebut masuk kategori tidak sehat, sementara PM2.5 merupakan partikel halus yang dapat terhirup dan mencapai saluran pernapasan. Data ini menunjukkan bahwa menjauhnya asap karhutla dari Kalimantan belum cukup untuk membuat udara Jakarta menjadi sehat. Warga, terutama kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan, sebaiknya memantau pembaruan kualitas udara dan mempertimbangkan penggunaan masker ketika kondisi luar ruang memburuk. Pemerintah juga masih perlu mengamati perubahan polusi dan memberi informasi yang jelas agar masyarakat dapat menyesuaikan kegiatan hariannya dengan kondisi udara terkini.

Kualitas udara di Jakarta yang masih berada dalam kondisi tidak sehat tetap menjadi perhatian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyampaikan bahwa pemerintah daerah menyiapkan langkah untuk merespons memburuknya polusi udara. Salah satu upaya yang akan dilakukan adalah penyemprotan water mist. Rencana tersebut disampaikan pada Ahad (18/10/2026), saat kondisi udara kembali menjadi sorotan. Pemerintah menilai situasi ini perlu ditangani, sekalipun kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan telah bergeser. Pergeseran asap tersebut tidak serta-merta membuat kualitas udara di ibu kota membaik atau menghilangkan kekhawatiran terhadap dampak polusi bagi warga. Karena itu, upaya untuk merespons kondisi udara tetap disiapkan.

Penyemprotan water mist direncanakan sebagai salah satu cara untuk meredam kabut polusi. Langkah ini bukan satu-satunya upaya yang akan ditempuh Pemprov DKI, sehingga rencana tersebut perlu dipahami sebagai bagian dari respons yang lebih luas terhadap kualitas udara yang memburuk. Rano tidak menyebutkan dalam pernyataan yang disampaikan pada hari itu rincian teknis pelaksanaan penyemprotan. Oleh sebab itu, informasi mengenai waktu, lokasi, maupun skala kegiatan tidak dapat disimpulkan dari pernyataan tersebut. Hal yang disampaikan adalah rencana untuk kembali melakukan penyemprotan water mist sebagai salah satu langkah meredam kabut polusi, sementara kualitas udara yang tidak sehat masih menjadi persoalan yang diperhatikan pemerintah daerah.

Penegasan bahwa asap karhutla telah bergeser juga tidak berarti persoalan polusi udara di Jakarta telah selesai. Kondisi udara yang buruk tetap membutuhkan perhatian, dan Pemprov menyatakan akan menyiapkan respons, termasuk melalui penyemprotan water mist. Dengan menempatkan kegiatan itu sebagai salah satu upaya, pemerintah tidak menyatakan bahwa penyemprotan saja cukup untuk mengatasi seluruh penyebab atau dampak polusi. Pernyataan Rano pada Ahad tersebut menunjukkan bahwa pemerintah masih memantau situasi dan menganggap kondisi udara tidak sehat sebagai masalah yang perlu direspons. Perkembangan kualitas udara tetap menjadi hal penting bagi warga, sementara langkah yang telah disampaikan pemerintah mencakup rencana penyemprotan, tanpa mengabaikan bahwa persoalan polusi masih berlangsung.

Kualitas udara yang tidak sehat dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Karena itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meminta fasilitas kesehatan bersiap menghadapi kemungkinan warga yang membutuhkan pemeriksaan atau penanganan. Kesiapsiagaan ini merupakan langkah antisipasi, bukan pernyataan bahwa kasus ISPA telah meningkat akibat polusi udara.

Rano menyampaikan bahwa seluruh rumah sakit dan puskesmas perlu berada dalam kondisi siap untuk mengantisipasi kasus. Kesiapan tersebut mencakup pelayanan bagi warga dengan keluhan pernapasan serta kemampuan petugas untuk memberikan penanganan sesuai kondisi pasien. Warga yang mengalami gejala dapat mendatangi fasilitas kesehatan agar memperoleh pemeriksaan dan arahan medis yang tepat.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebutkan, sebanyak 31 rumah sakit, 44 puskesmas, dan 292 puskesmas pembantu telah disiagakan. Jumlah fasilitas yang dilibatkan itu diharapkan mendukung akses layanan di berbagai wilayah Jakarta, termasuk bagi masyarakat yang memerlukan pemeriksaan awal maupun tindak lanjut. Pemprov juga menyatakan akan membantu warga yang terkena ISPA.

Bantuan tersebut dapat mencakup kebutuhan peralatan untuk menangani gangguan pernapasan apabila diperlukan. Ketersediaan dukungan medis menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memastikan warga memperoleh pertolongan sesuai kebutuhan, terutama ketika kualitas udara sedang menjadi perhatian. Penanganan tetap bergantung pada kondisi masing-masing pasien dan penilaian tenaga kesehatan.

Di tengah kondisi udara yang kurang baik, masyarakat dapat memperhatikan perubahan kesehatan dan mencari bantuan apabila mengalami keluhan pernapasan. Pemeriksaan di puskesmas, puskesmas pembantu, atau rumah sakit dapat membantu menentukan langkah penanganan yang sesuai. Kesiapsiagaan fasilitas kesehatan juga dimaksudkan agar layanan dapat merespons kebutuhan warga secara terorganisasi, tanpa mendahului data mengenai perkembangan kasus. Pemprov menyiapkan dukungan layanan sebagai langkah pencegahan dan respons, sementara masyarakat diimbau mengikuti arahan petugas medis. Dengan jaringan fasilitas yang disiagakan, akses pemeriksaan dan bantuan pernapasan diharapkan tersedia bagi warga yang memerlukannya di Jakarta.

Data Dinas Kesehatan DKI Jakarta menunjukkan bahwa kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) bergerak naik-turun sepanjang 2026. Jumlah kasus meningkat pada Februari, kemudian berangsur menurun hingga Juni. Tren tersebut kembali berbalik pada Juli dan terus meningkat sampai September. Kepala Dinkes DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menyebut terdapat 278.000 kasus pada September. Sementara itu, kasus yang tercatat pada Oktober mencapai 39.320 hingga 15 Oktober. Angka Oktober tersebut masih dapat bertambah karena pendataan baru mencakup sebagian bulan.

Ani menjelaskan, perubahan angka ISPA tidak dapat dikaitkan dengan satu penyebab saja. Kualitas udara merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan, tetapi kondisi iklim dan tingginya mobilitas penduduk juga dapat memengaruhi dinamika kasus. Pergerakan warga di kawasan aglomerasi Jakarta dan daerah sekitarnya membuat paparan serta pola penularan berlangsung lintas wilayah. Karena itu, angka bulanan perlu dibaca bersama berbagai keadaan yang menyertai, bukan sebagai ukuran tunggal dampak polusi. Pemantauan berkala membantu pemerintah melihat perubahan tren dan menyiapkan respons kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan warga.

Pramono menyatakan tidak ingin menyalahkan pihak lain ataupun memastikan bahwa polusi di Jakarta disebabkan asap kebakaran hutan dan lahan. Ia mengatakan kondisi udara memburuk dalam beberapa hari terakhir.

Baca juga: Jakarta Hadapi Kualitas Udara Tidak Sehat, Warga Diminta Waspada | Dukungan Pemprov Jakarta dalam Penyidikan Penyelundupan Kacang Tanah | Kekeringan Mengancam Jakarta: DPRD Desak Tindakan Segera dari Pemprov