Kabupaten Minahasa | Sulawesi Utara memastikan diri sebagai juara umum Kejuaraan Nasional Pacuan Kuda Pordasi ke-60 tahun 2026 setelah seri kedua digelar di Gelanggang Pacuan Kuda Maesa Tompaso, Kabupaten Minahasa, pada Sabtu. Gelar tersebut ditentukan berdasarkan akumulasi hasil dari dua seri kejuaraan, yakni seri pertama di Pangandaran, Jawa Barat, dan seri kedua di Tompaso. Dengan perhitungan gabungan itu, posisi akhir masing-masing daerah mencerminkan capaian sepanjang rangkaian kejuaraan, bukan hanya hasil dari satu lokasi. Sulawesi Utara menempati peringkat teratas dengan 149 poin, sekaligus memastikan keunggulan jauh dalam klasemen akhir.
Di bawah Sulawesi Utara, Jawa Barat berada di posisi kedua dengan 44,5 poin. Papua Selatan menempati peringkat ketiga setelah mengumpulkan 39,5 poin, sementara Jawa Tengah berada di urutan berikutnya dengan 33,5 poin. DKI Jakarta melengkapi lima besar dengan perolehan 24 poin. Angka-angka tersebut merupakan hasil akumulasi seri Pangandaran dan Tompaso, sehingga menunjukkan urutan klasemen nasional setelah kedua seri diselenggarakan. Berdasarkan catatan poin itu, selisih Sulawesi Utara dan daerah yang berada di posisi kedua mencapai 104,5 poin. Hasil tersebut menempatkan Sulawesi Utara di puncak klasemen dengan jarak yang cukup besar dari pesaing terdekatnya.
Digelarnya seri kedua di Tompaso menjadi penentu penutupan rangkaian Kejurnas Pacuan Kuda Pordasi 2026. Seusai hasil dari Pangandaran dan Tompaso digabungkan, Sulawesi Utara tercatat sebagai juara umum dengan 149 poin. Jawa Barat, Papua Selatan, Jawa Tengah, dan DKI Jakarta mengikuti dalam urutan berikutnya sesuai perolehan masing-masing. Klasemen akhir ini menegaskan hasil kompetisi tingkat nasional berdasarkan poin dari dua seri yang telah berlangsung. Penetapan juara umum pun berpijak pada akumulasi tersebut, dengan seri di Gelanggang Pacuan Kuda Maesa Tompaso sebagai seri kedua yang melengkapi perhitungan. Dengan demikian, Sulawesi Utara menutup Kejurnas tahun 2026 pada posisi tertinggi, sementara daerah lain menempati peringkat sesuai total poin yang berhasil mereka kumpulkan dari kedua seri.
Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PP Pordasi), Aryo Djojohadikusumo, menyampaikan bahwa seri kedua Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Pordasi 2026 diselenggarakan melalui Indonesia’s Horse Racing. Ajang tersebut diikuti peserta dari 14 provinsi, menunjukkan keterlibatan berbagai daerah dalam kompetisi pacuan kuda tingkat nasional. Kehadiran peserta lintas provinsi memberi ruang bagi para atlet, pemilik kuda, dan unsur pendukung olahraga berkuda untuk bertemu serta berkompetisi. Kejurnas ini sekaligus menjadi kesempatan bagi penyelenggara dan komunitas pacuan untuk memperkuat hubungan antardaerah, di tengah upaya menjaga kesinambungan kalender pertandingan nasional.
Kejuaraan tersebut tidak hanya menghadirkan para peserta yang berlomba, tetapi juga kuda-kuda pacu, pemilik kuda, serta pengelola kandang pacuan dari sejumlah wilayah. Mereka datang dari berbagai daerah, termasuk Jawa dan Sumatera, sehingga suasana perlombaan mencerminkan luasnya jaringan olahraga pacuan kuda di Indonesia. Kehadiran unsur-unsur tersebut mendukung jalannya kompetisi sekaligus mempertemukan pelaku yang berperan dalam pembinaan dan pengelolaan kuda pacu. Dengan keterlibatan dari berbagai provinsi, seri kedua Kejurnas Pordasi 2026 menjadi ajang bagi komunitas untuk berpartisipasi, berbagi pengalaman, dan menunjukkan kesiapan dalam mengikuti pertandingan nasional.
Aryo juga menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kembali kejurnas di Tompaso setelah lebih dari satu dekade. Kembalinya kejuaraan nasional ke kawasan tersebut menandai kesempatan penting bagi Tompaso untuk kembali menjadi tuan rumah kegiatan pacuan kuda. Apresiasi itu mencerminkan nilai penyelenggaraan ajang ini, baik bagi daerah maupun bagi olahraga berkuda nasional. Dengan peserta dari 14 provinsi serta kehadiran kuda, pemilik, dan pengelola kandang dari berbagai daerah, kompetisi di Tompaso menjadi pertemuan berskala nasional. Penyelenggaraan ini turut menjaga keberlanjutan tradisi pacuan kuda sekaligus membuka ruang bagi daerah untuk terlibat dalam kalender pertandingan Pordasi.
Aryo menyampaikan bahwa lebih dari 60 persen kuda yang berlaga dalam Kejurnas Pacuan Kuda Pordasi 2026 merupakan kuda kelahiran Tompaso dan berbagai daerah lain di Sulawesi Utara. Angka tersebut menunjukkan besarnya keterlibatan kuda lokal dalam kompetisi nasional ini. Tompaso menjadi salah satu wilayah asal yang disebut, bersama kawasan lain di provinsi tersebut. Kehadiran kuda-kuda itu di lintasan memberi gambaran tentang kontribusi daerah dalam penyelenggaraan kejuaraan, sekaligus memperlihatkan bahwa peserta tidak hanya berasal dari luar Sulawesi Utara. Menurut Aryo, keberadaan kuda kelahiran setempat merupakan bagian penting dari penyelenggaraan pacuan kuda dan patut mendapat perhatian dalam pengembangan kegiatan olahraga berkuda.
Dalam pandangan Aryo, perkembangan pacuan kuda nasional turut bergantung pada peran para pelaku yang bekerja di daerah. Peternak, pemilik kuda, dan pengelola kandang di Sulawesi Utara dinilai memiliki andil penting dalam menyiapkan kuda serta mendukung aktivitas pacuan. Peran tersebut mencakup berbagai pihak yang terlibat dalam pemeliharaan dan kepemilikan kuda, bukan hanya mereka yang tampil ketika perlombaan berlangsung. Karena itu, kontribusi masyarakat dan pelaku usaha lokal menjadi unsur yang perlu diperhitungkan saat membicarakan masa depan olahraga ini. Aryo menempatkan keterlibatan mereka sebagai bagian dari upaya pengembangan pacuan kuda di tingkat nasional, dengan Sulawesi Utara sebagai salah satu daerah yang ikut menyumbang kuda dan dukungan pelaku.
Aryo berharap kejuaraan pacuan kuda dapat diselenggarakan lebih sering. Ia juga menginginkan adanya ruang yang lebih besar bagi peternak lokal untuk terlibat dalam kegiatan seperti ini. Harapan tersebut berkaitan dengan kesempatan bagi para pelaku daerah untuk mengambil bagian, serta keberlanjutan keterlibatan kuda-kuda lokal dalam kompetisi. Penyelenggaraan yang lebih rutin dan terbukanya ruang partisipasi merupakan hal yang ia sampaikan sebagai aspirasi, bukan kepastian mengenai agenda berikutnya. Bagi Aryo, perhatian terhadap peternak, pemilik kuda, dan pengelola kandang perlu berjalan beriringan dengan penyelenggaraan kejuaraan. Dengan demikian, aspirasi yang muncul dari Sulawesi Utara menekankan pentingnya kesempatan tampil dan keterlibatan pelaku lokal dalam kalender pacuan kuda nasional mendatang.
Pordasi memiliki program pembangunan lintasan pacuan kuda berstandar internasional di Jakarta sebagai bagian dari upaya mengembangkan olahraga berkuda di Indonesia. Rencana tersebut menunjukkan pentingnya penyediaan fasilitas yang mendukung kegiatan pacuan kuda dengan standar yang lebih baik. Namun, pengembangan olahraga ini tidak hanya bergantung pada pembangunan lintasan di ibu kota. Dukungan dari berbagai daerah juga diperlukan agar pembinaan dan kegiatan berkuda dapat tumbuh lebih luas, termasuk di wilayah yang telah memiliki perhatian terhadap olahraga pacuan kuda.
Aryo menekankan bahwa peran daerah menjadi bagian penting dalam mendorong kemajuan pacuan kuda. Menurutnya, pengembangan olahraga ini perlu mendapat dukungan dari pemerintah setempat, tidak terbatas pada program yang dijalankan di tingkat nasional. Sulawesi Utara menjadi salah satu daerah yang disebut dalam konteks tersebut. Dukungan pemerintah daerah diharapkan dapat membantu pengembangan olahraga berkuda dan fasilitasnya, sekaligus memperkuat keterlibatan daerah dalam perkembangan pacuan kuda. Pernyataan ini menempatkan kolaborasi Pordasi dan pemerintah daerah sebagai unsur pendukung bagi kemajuan olahraga berkuda.
Aryo menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara serta Pemerintah Kabupaten Minahasa terhadap pengembangan fasilitas olahraga berkuda di Tompaso dan wilayah lain. Apresiasi tersebut mencerminkan pengakuan atas dukungan pemerintah daerah dalam mendorong tersedianya fasilitas yang dapat menunjang kegiatan berkuda. Di samping program pembangunan lintasan berstandar internasional di Jakarta, perhatian terhadap fasilitas di daerah juga dinilai penting. Dukungan di Sulawesi Utara, termasuk di Tompaso, menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengembangkan pacuan kuda.






