SIBERNKRI.COM // PROBOLINGGO Suasana lalu lintas di jalan raya Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, tampak berbeda pada jam masuk sekolah, Senin pagi. anggota kepolisian, Aipda sugeng , terlihat aktif mengatur arus kendaraan sekaligus menyeberangkan sejumlah pejalan kaki, mayoritas siswa dan wali murid.
Kegiatan “gatur pagi” yang lazim dilakukan aparat lalu lintas itu menjadi perhatian karena kondisi jalan di lokasi terpantau padat, dengan kendaraan roda dua dan mobil pribadi saling berebut ruang di jam sibuk. Tidak terdapat petugas penyeberangan tetap maupun fasilitas zebra cross yang memadai di titik tersebut.
Fakta Lapangan: Penyeberangan Masih Bergantung Petugas
Pantauan di lokasi menunjukkan para siswa harus menunggu jeda kendaraan untuk menyeberang. Kehadiran dua polisi menjadi faktor utama kelancaran dan keselamatan mereka. Petugas beberapa kali menghentikan arus kendaraan dari dua arah, lalu mengawal anak-anak berjalan kaki hingga ke gerbang sekolah.
Seorang wali murid mengatakan, tanpa bantuan petugas, penyeberangan sering terasa berisiko.
“Kalau tidak ada yang mengatur, kendaraan tetap jalan. Anak-anak jadi ragu menyeberang,” ujarnya.
Sudut Pandang Keselamatan: Solusi Sementara atau Ketergantungan?
Langkah responsif anggota kepolisian dinilai membantu, namun juga memunculkan pertanyaan mengenai keberlanjutan sistem keselamatan di kawasan sekolah. Gatur pagi bersifat situasional dan bergantung pada kehadiran personel, bukan pada rekayasa lalu lintas permanen.
Pengamat transportasi lokal menilai pola seperti ini umum terjadi di banyak titik sekolah: aparat menjadi “penyangga” atas minimnya infrastruktur keselamatan jalan. Tanpa dukungan rambu, marka jelas, atau petugas khusus, risiko kembali muncul saat pengamanan tidak dilakukan.
Perspektif Ketertiban Lalu Lintas: Disiplin Pengendara Jadi Ujian
Selain faktor fasilitas, kedisiplinan pengguna jalan turut menjadi sorotan. Beberapa pengendara masih mencoba melintas meski petugas telah memberi isyarat berhenti, memaksa polisi berulang kali memberikan teguran langsung.
Situasi ini menunjukkan bahwa edukasi keselamatan berlalu lintas masih menjadi pekerjaan rumah, terutama di zona sekolah yang seharusnya menjadi area prioritas perlindungan anak.
Catatan Investigatif: Zona Sekolah Perlu Penanganan Struktural
Kehadiran polisi setiap pagi memang menciptakan rasa aman sesaat, namun kondisi tersebut menegaskan perlunya solusi jangka panjang berupa:
penataan ulang manajemen lalu lintas di depan sekolah,
penyediaan fasilitas penyeberangan yang terlihat jelas,
serta penguatan status kawasan sebagai zona selamat sekolah.
Tanpa itu, keselamatan siswa akan terus bergantung pada intervensi manual petugas di lapangan.
Gatur pagi hari itu berakhir tertib. Namun pertanyaan yang tersisa: sampai kapan keselamatan anak sekolah harus dijaga dengan cara darurat.
“Red/*

