SIBERNKRI.COM // Probolinggo – Pelaksanaan proyek <a href="https://sibernkri.com/peletakan-batu-pertama-masjid-al-kautsar-panglima-tni-dorong-penguatan-nilai-keagamaan-dan-kebersamaan-masyarakat/”>pembangunan konstruksi Gedung Tipe-2 di MAN 2 Kota Probolinggo yang bersumber dari Kementerian Agama menjadi sorotan publik. Proyek tersebut diduga menggunakan material yang tidak sesuai spesifikasi teknis serta belum menerapkan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) secara optimal.
Berdasarkan hasil pemantauan di lokasi proyek, ditemukan sejumlah indikasi penggunaan material yang diduga tidak sesuai dengan spesifikasi dalam dokumen perencanaan. Selain itu, beberapa pekerja terlihat beraktivitas tanpa menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) seperti helm keselamatan, rompi reflektif, sepatu keselamatan, maupun perlengkapan pelindung lainnya sebagaimana diwajibkan dalam pekerjaan konstruksi.
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai kualitas pelaksanaan pekerjaan dan komitmen pelaksana proyek dalam memenuhi ketentuan teknis serta standar keselamatan kerja. Apabila dugaan tersebut terbukti, penggunaan material yang tidak sesuai spesifikasi berpotensi memengaruhi kualitas dan umur konstruksi. Sementara itu, minimnya penerapan K3 dapat meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan kerja di lokasi proyek.
Masyarakat berharap instansi terkait, termasuk pihak Kementerian Agama dan aparat pengawas konstruksi, segera melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kualitas material, kesesuaian pekerjaan dengan spesifikasi kontrak, serta penerapan standar K3. Langkah tersebut dinilai penting guna memastikan penggunaan anggaran negara berlangsung secara transparan, akuntabel, dan menghasilkan bangunan yang sesuai standar.
Saat dikonfirmasi di lokasi proyek, pelaksana pekerjaan disebut enggan memberikan keterangan. Berdasarkan papan informasi proyek, pekerjaan tersebut dilaksanakan oleh CV Alhusain Abadi, dengan konsultan perencana CV Persada Ambangun Sejahtera dan konsultan pengawas CV Magetan Indo Konsultan.
Sementara itu, pengawas lapangan mengaku adanya material bahan yang dinilai tidak sesuai spesifikasi. “Material yang ada di lokasi proyek tidak sesuai spek, mulai dari pasir, bata merah yang banyak hancur, dan beberapa material lainnya,”Jelas Rendi.
Pewarta:
“R, Marsa/**







