Jakarta | Daniel Mananta mengungkapkan keputusan besar yang pernah diambilnya sebagai orang tua, yakni mengizinkan putri sulungnya, Mila Mananta, menempuh pendidikan di Jerman saat masih berusia 14 tahun. Keputusan tersebut membuat Mila harus meninggalkan lingkungan keluarganya dan menjalani kehidupan sebagai pelajar di Eropa. Selain beradaptasi dengan sistem pendidikan yang berbeda, Mila juga perlu belajar mengurus berbagai kebutuhan sehari-hari secara lebih mandiri.
Bagi Daniel, memberikan izin kepada anak untuk tinggal dan belajar jauh dari rumah bukan perkara sederhana. Ia mengaku tidak menyangka dirinya mampu mengambil langkah sebesar itu, terlebih karena Mila masih berada pada usia yang relatif muda. Keputusan tersebut menuntut Daniel dan keluarga untuk mengelola rasa khawatir, rindu, serta kepercayaan terhadap kemampuan Mila dalam menghadapi pengalaman baru di negara lain.
Pengakuan mengenai beratnya melepas sang putri disampaikan Daniel ketika ditemui di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, pada Minggu (11/10/2026). Ia menyadari bahwa keberangkatan Mila ke Jerman menjadi fase penting dalam kehidupan keluarganya. Di satu sisi, kesempatan tersebut membuka ruang bagi Mila untuk berkembang melalui pendidikan dan pengalaman internasional. Namun, di sisi lain, Daniel harus menghadapi kenyataan bahwa putrinya mulai membangun kehidupan yang tidak selalu dapat ia dampingi secara langsung.
Keputusan itu juga menggambarkan perubahan besar dalam hubungan orang tua dan anak. Daniel perlu memberikan dukungan sekaligus membiarkan Mila belajar mengambil keputusan sendiri. Bagi keluarga tersebut, keberanian untuk melepas Mila bukan berarti mengurangi perhatian, melainkan bentuk kepercayaan terhadap proses pendewasaan sang putri. Masa sekolah di Jerman pun menjadi pengalaman yang menantang, baik bagi Mila yang menjalaninya maupun bagi Daniel yang harus belajar menerima jarak sebagai bagian dari perjalanan pendidikan anaknya.
Daniel Mananta mengakui bahwa keputusan melepas putri sulungnya untuk bersekolah di Jerman bukan hal yang mudah. Sang putri masih berusia 14 tahun ketika harus menjalani pendidikan jauh dari rumah, sehingga perpisahan tersebut menghadirkan beban emosional yang besar bagi Daniel sebagai seorang ayah. Ia secara terbuka menggambarkan bahwa memberikan izin kepada anak perempuan di usia belia untuk tinggal di luar negeri membutuhkan kesiapan hati yang tidak sederhana.
Di satu sisi, Daniel memahami bahwa kesempatan belajar di Jerman dapat menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan putrinya. Namun, di sisi lain, ia tetap merasakan beratnya harus berjarak dari anak yang selama ini berada dalam pengawasan dan pendampingannya. Perasaan tersebut muncul karena seorang ayah tentu ingin memastikan anaknya aman, baik-baik saja, serta mampu menghadapi berbagai keadaan tanpa kehadiran keluarga setiap saat.
Pengakuan Daniel memperlihatkan pergulatan orang tua ketika harus memberi ruang bagi anak untuk tumbuh secara mandiri. Keputusan untuk melepas bukan berarti perasaan khawatir atau rasa sayang berkurang. Justru, jarak membuat proses tersebut terasa semakin berat, terlebih ketika anak masih berada pada usia remaja. Daniel perlu menerima kenyataan bahwa putrinya harus menjalani pengalaman baru, menyesuaikan diri dengan lingkungan berbeda, dan belajar bertanggung jawab di tempat yang jauh dari rumah.
Bagi Daniel, melepaskan putri sulungnya merupakan ujian emosional yang harus dihadapi demi pendidikan dan masa depannya. Ia tidak menyembunyikan bahwa perpisahan itu terasa berat, tetapi tetap berusaha memberi kepercayaan dan ruang kepada sang anak. Sikap tersebut menunjukkan dilema seorang ayah: ingin selalu melindungi, tetapi juga harus rela membiarkan anak melangkah sendiri untuk berkembang.
Kepergian Mila untuk melanjutkan pendidikan di Jerman membawa perubahan nyata dalam suasana rumah Daniel Mananta dan Viola Maria. Selama ini, anak sulung mereka menjadi bagian penting dalam rutinitas keluarga, sehingga ketidakhadirannya membuat rumah terasa lebih lengang. Percakapan sehari-hari, kegiatan bersama, serta kebiasaan kecil yang sebelumnya berlangsung secara alami kini harus menyesuaikan keadaan baru. Bagi Daniel dan Viola, perubahan tersebut bukan sekadar jarak geografis, melainkan pengalaman emosional ketika salah satu anggota keluarga mulai menjalani kehidupan yang lebih mandiri.
Perasaan itu semakin terasa ketika Daniel dan Viola merayakan ulang tahun pernikahan ke-15 pada tahun ini tanpa kehadiran Mila. Momen yang biasanya dapat dinikmati bersama anak-anak tersebut menjadi perayaan yang berbeda karena anak sulung mereka sedang berada di Jerman untuk bersekolah. Keadaan ini merupakan pengalaman pertama bagi pasangan tersebut. Mila, yang kini berusia 14 tahun dan merupakan anak paling dewasa, sebelumnya hadir dalam berbagai kesempatan keluarga. Karena itu, perayaan anniversary tanpa dirinya memperlihatkan perubahan tahapan dalam kehidupan keluarga Daniel.
Di satu sisi, Daniel dan Viola tetap dapat menghargai pencapaian Mila dalam menempuh pendidikan di luar negeri. Namun, kebanggaan tersebut berjalan berdampingan dengan rasa kehilangan yang muncul dari berkurangnya kebersamaan di rumah. Kehadiran anak yang sebelumnya dapat ditemui setiap hari kini digantikan oleh komunikasi dari jarak jauh dan penyesuaian jadwal. Keluarga pun mulai membangun pola interaksi baru agar hubungan tetap dekat meskipun dipisahkan negara. Situasi ini menggambarkan bahwa keputusan pendidikan Mila turut mengubah dinamika keluarga, khususnya bagi Daniel dan Viola yang sedang belajar menjalani perayaan serta keseharian tanpa anak sulung di sisi mereka.
Rencana pendidikan Mila setelah menyelesaikan tahap sekolahnya di Jerman masih belum dipastikan. Daniel Mananta menyampaikan bahwa putri sulungnya sejauh ini baru menjalani satu tahun pendidikan di negara tersebut. Karena itu, masih terlalu dini untuk menentukan apakah Mila akan tetap tinggal di Jerman dan melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya, atau kembali menempuh pendidikan di Indonesia.
Keputusan mengenai langkah berikutnya akan mempertimbangkan pengalaman Mila selama berada di Jerman. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah apakah ia merasa betah menjalani kehidupan, lingkungan sekolah, serta proses belajar di sana. Perasaan nyaman dan kesiapan Mila dapat menjadi pertimbangan penting sebelum keluarga menentukan pilihan pendidikan yang paling sesuai untuknya.
Daniel belum menyampaikan kepastian mengenai negara yang akan menjadi tempat Mila melanjutkan pendidikan. Pilihan untuk tetap bersekolah di Jerman masih terbuka, demikian pula kemungkinan kembali ke Indonesia. Setiap opsi memiliki pertimbangan tersendiri, sehingga keluarga tampaknya masih memberikan ruang bagi Mila untuk menjalani tahun pertamanya dan memahami kebutuhannya. Setelah melihat perkembangan serta pengalaman tersebut, barulah keputusan mengenai jenjang pendidikan berikutnya dapat dibicarakan dengan lebih matang. Untuk saat ini, keluarga Daniel masih menunggu bagaimana Mila beradaptasi dan apakah ia benar-benar merasa nyaman dengan kehidupan sekolah di Jerman. Masa depan pendidikannya belum ditetapkan secara final dan tetap bergantung pada kondisi serta pilihan yang akan diambil bersama.

