Noken Jadi Simbol Tuntutan Mahasiswa Papua kepada Stafsus Mensesneg

Noken Jadi Simbol Tuntutan Mahasiswa Papua kepada Stafsus Mensesneg

Jakarta | Seorang mahasiswa Universitas Trisakti asal Papua mengangkat noken saat menyampaikan tuntutan kepada Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara, Binbin Firman Tresnadi. Aksi unjuk rasa tersebut berlangsung di Jakarta pada Kamis, 29 Oktober 2026. Noken yang dibawanya menjadi bagian yang terlihat dari penyampaian aspirasi mahasiswa itu, sekaligus menarik perhatian pada identitas budaya Papua di tengah aksi.

Noken merupakan tas tradisional khas Papua yang dibuat dengan teknik merajut atau menganyam serat tertentu. Dalam kehidupan masyarakat Papua, benda ini digunakan untuk membawa berbagai keperluan dan memiliki makna budaya yang melampaui fungsi praktisnya. Karena itu, ketika noken diangkat dalam sebuah demonstrasi, kehadirannya dapat menjadi penanda asal-usul dan identitas orang yang membawanya. Dalam aksi di Jakarta ini, mahasiswa tersebut menggunakan noken untuk menyampaikan pesan melalui simbol yang dekat dengan latar budayanya.

Penggunaan benda tradisional itu memberi dimensi visual pada tuntutan yang disampaikan kepada pejabat negara. Noken tidak hanya dibawa sebagai perlengkapan, tetapi ditampilkan sebagai bagian dari cara mahasiswa tersebut menyuarakan aspirasi. Pesan yang disampaikan melalui simbol budaya dapat memperlihatkan bahwa tuntutan di ruang publik juga terkait dengan pengalaman dan identitas masyarakat yang diwakili. Namun, rincian isi tuntutan maupun maksud khusus di balik penggunaan noken perlu merujuk pada keterangan langsung dari peserta aksi atau penyelenggara.

Aksi mahasiswa itu berlangsung di ibu kota, jauh dari Papua, tetapi noken menghadirkan unsur budaya asalnya ke dalam ruang demonstrasi. Bagi pengamat maupun peserta lain, benda tersebut dapat menjadi pengingat bahwa penyampaian aspirasi berlangsung dalam konteks sosial yang beragam. Noken sebagai tas tradisional Papua memiliki pengenalan yang kuat, sehingga penggunaannya mudah terlihat di tengah kerumunan. Dalam peristiwa ini, mahasiswa Universitas Trisakti tersebut menjadikan noken sebagai medium untuk menyertai penyampaian tuntutan kepada Staf Khusus Mensesneg. Kehadirannya menegaskan bahwa simbol budaya dapat digunakan dalam aksi publik tanpa menggantikan substansi aspirasi yang ingin disampaikan.Bagi mahasiswa Papua tersebut, noken bukan sekadar tas untuk membawa barang. Noken dibuat oleh ibu-ibu di Papua dan memiliki tempat khusus dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Nilainya, menurut penjelasannya kepada Binbin, berkaitan dengan fungsi noken yang telah hadir sejak seseorang lahir. Tas tradisional itu digunakan untuk menggendong anak, sehingga keberadaannya menyertai tahap awal kehidupan manusia. Makna tersebut menjadi alasan noken dipandang lebih dari benda yang memiliki kegunaan praktis. Ia merupakan bagian dari pengalaman hidup yang dekat dengan keluarga dan masyarakat Papua.

Dalam penjelasannya, mahasiswa itu menyebut noken sebagai sesuatu yang “memelihara kehidupan.” Pernyataan tersebut merujuk pada peran noken dalam menggendong anak sejak lahir, sebagaimana disampaikan kepada Binbin. Dengan demikian, makna yang ia sampaikan bertumpu pada penggunaan noken dalam kehidupan nyata: tas itu dibuat oleh para ibu dan dipakai untuk membawa serta merawat anak. Noken hadir dalam hubungan ibu dan anak, sekaligus dalam keseharian keluarga. Ungkapan tentang kehidupan itu tidak terpisah dari fungsi noken yang ia uraikan, melainkan menggambarkan arti pentingnya bagi orang-orang yang menggunakannya.

Penjelasan tersebut menempatkan noken sebagai simbol yang tumbuh dari praktik dan pengalaman masyarakat, bukan semata-mata sebagai benda kerajinan atau aksesori. Proses pembuatannya oleh ibu-ibu Papua dan pemakaiannya untuk menggendong anak menjadi dua hal yang disebut mahasiswa itu ketika menjelaskan maknanya. Keduanya memperlihatkan keterkaitan noken dengan kehidupan sejak kelahiran. Karena itu, saat ia menyebut noken “memelihara kehidupan,” makna yang dimaksud tetap berangkat dari peran tas tersebut dalam membawa anak dan menyertai keluarga. Pemaknaan ini menjelaskan mengapa noken memiliki arti khusus baginya: benda yang dibuat dan digunakan dalam kehidupan masyarakat itu sekaligus menjadi simbol kehidupan.

Bagi mahasiswa Papua tersebut, noken tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga menggambarkan hubungan masyarakat Papua dengan alam. Alam dipandang sebagai sumber kehidupan yang menopang keseharian warga, sehingga kerusakan lingkungan dapat membawa dampak langsung bagi kehidupan mereka. Makna itu menjadi dasar ia mengangkat persoalan kebakaran hutan dan lahan, yang dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat di berbagai wilayah. Dengan membawa noken, ia menyampaikan tuntutan yang berkaitan dengan perlindungan warga sekaligus mengingatkan bahwa keberlangsungan hidup manusia tidak terlepas dari kondisi alam di sekitarnya.

Dari pemaknaan tersebut, ia kemudian mempertanyakan jaminan layanan kesehatan gratis bagi warga yang terdampak kebakaran hutan dan lahan. Pertanyaan itu secara khusus mencakup masyarakat terdampak di Papua, Kalimantan, serta pulau-pulau lainnya. Cakupan wilayah yang ia sebut menunjukkan bahwa persoalan tersebut tidak hanya menyangkut satu daerah, melainkan warga di sejumlah kawasan yang mengalami dampak karhutla. Ia ingin mengetahui apakah mereka memperoleh kepastian untuk mengakses layanan kesehatan tanpa biaya, sebagai bentuk perhatian terhadap kebutuhan masyarakat yang terdampak.

Jaminan bagi seluruh warga terdampak itulah yang ingin ia pastikan kepada Binbin. Pertanyaannya bukan semata mengenai makna simbol noken, melainkan juga mengenai tanggung jawab dan kepastian layanan bagi masyarakat yang menghadapi akibat kebakaran hutan dan lahan. Dengan menyebut Papua, Kalimantan, dan pulau-pulau lainnya, ia mempertahankan perhatian pada seluruh wilayah yang masuk dalam pertanyaannya. Ia meminta kejelasan apakah warga yang terdampak di wilayah-wilayah tersebut akan mendapatkan layanan kesehatan gratis. Bagi mahasiswa itu, kepastian tersebut penting agar kebutuhan kesehatan masyarakat tidak terabaikan ketika alam sebagai sumber kehidupan mereka mengalami kerusakan.Dalam penyampaian tuntutannya, mahasiswa Papua tidak hanya menjadikan noken sebagai simbol yang mewakili suara dan aspirasi mereka. Mereka juga meminta kejelasan mengenai kesanggupan Binbin untuk memberikan jaminan atas hal yang dipertanyakan. Bagi mahasiswa, jawaban yang tegas diperlukan agar pembicaraan tidak berhenti pada pernyataan umum, melainkan menunjukkan adanya komitmen terhadap persoalan yang mereka bawa.

Permintaan jaminan itu menjadi bagian penting dari interaksi mahasiswa dan staf khusus Menteri Sekretaris Negara tersebut. Mahasiswa ingin memastikan bahwa pertanyaan mereka ditanggapi secara langsung dan bahwa kesanggupan yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam konteks itu, mereka menggunakan tindakan bersalaman sebagai bentuk penegasan: sebuah gestur yang mereka ajukan untuk menandai kesediaan Binbin memberikan jaminan sebagaimana yang ditanyakan.

Ajakan tersebut juga memperlihatkan cara mahasiswa menyampaikan tuntutan secara terbuka. Mereka tidak hanya menyampaikan keberatan atau meminta penjelasan, tetapi mengarahkan perhatian pada kesediaan pihak yang diajak berdialog untuk menegaskan komitmennya. Dengan demikian, bersalaman diposisikan sebagai simbol kesanggupan, bukan sekadar sapaan atau penutup percakapan. Mahasiswa menempatkan gestur itu sebagai penanda yang dapat dipahami langsung dalam situasi tersebut.

Meski demikian, inti tuntutan mereka tetap terletak pada jaminan yang diminta, bukan pada gestur semata. Bersalaman menjadi cara mahasiswa menantang Binbin agar menunjukkan secara jelas apakah ia bersedia memberikan jaminan tersebut. Ajakan itu sekaligus memberi tekanan agar pertanyaan mereka tidak diabaikan dan memperoleh respons yang tegas. Mahasiswa pun menyerukan kepada Binbin untuk bersalaman jika memang berani memberikan kesanggupan yang ditanyakan. Seruan tersebut menutup penyampaian tantangan mereka, tanpa mengubah substansi tuntutan yang sejak awal disampaikan.

Baca juga: Aksi Buruh di DPR: 11 Tuntutan Menanti Perhatian | Kehadiran Pria Misterius di Pinggir Jalan Membuat Mahasiswa IPB Resah | Aksi Buruh di Jakarta: Mengurai 11 Tuntutan Utama

46 kunjungan