Bisnis  

IHSG Berbalik Menguat, Saham BUMN Menjadi Penopang

IHSG Berbalik Menguat, Saham BUMN Menjadi Penopang

Jakarta | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan perubahan arah pada pertengahan sesi pertama perdagangan. Pada pukul 09.56 WIB, indeks tercatat berada di level 5.381,43, naik 53,07 poin atau setara dengan 1%. Pergerakan ini menjadi perhatian karena pada awal perdagangan IHSG sempat merosot hingga 2%. Dengan demikian, kondisi indeks pada waktu pengamatan tersebut berbalik dari penurunan tajam yang terjadi saat pembukaan menjadi penguatan. Angka 5.381,43 dan kenaikan 53,07 poin menggambarkan posisi IHSG pada saat itu, bukan hasil penutupan perdagangan. Perubahan tersebut berlangsung dalam rentang sesi pagi yang sama, dari pembukaan hingga pertengahan sesi pertama.

Urutan pergerakan itu memperlihatkan adanya pemulihan setelah tekanan awal. IHSG sempat berada dalam kondisi turun hingga 2% ketika perdagangan baru dibuka, lalu pada pukul 09.56 WIB bergerak ke teritori positif. Pada waktu tersebut, indeks membukukan kenaikan 1% dibandingkan acuan yang digunakan dalam pencatatan pergerakan pasar. Selisih kenaikan yang dilaporkan mencapai 53,07 poin, sehingga level indeks tercatat 5.381,43. Informasi ini menegaskan bahwa arah pergerakan IHSG tidak tetap sejak pembukaan. Namun, angka pada satu titik waktu tidak dengan sendirinya menjelaskan bagaimana indeks bergerak sesudahnya atau bagaimana perdagangan berakhir. Catatan ini terbatas pada kondisi di pertengahan sesi pertama.

Perubahan dari penurunan hingga 2% menjadi kenaikan 1% merupakan inti perkembangan IHSG pada pagi itu. Data pukul 09.56 WIB menunjukkan indeks telah berada di atas posisi acuannya, setelah sebelumnya sempat mengalami pelemahan saat pasar mulai bertransaksi. Penyajian berdasarkan waktu membantu membedakan kondisi pembukaan dari posisi indeks beberapa saat kemudian. Karena itu, gambaran pasar pada awal perdagangan dan pada pertengahan sesi pertama tidak dapat dipertukarkan: yang pertama ditandai penurunan, sedangkan yang kedua menunjukkan penguatan. Laporan ini mencatat level, besaran perubahan poin, persentase, serta waktu pengamatan tersebut. Tidak ada keterangan lebih lanjut di sini mengenai faktor yang mendorong perubahan arah maupun perkembangan indeks setelah pukul 09.56 WIB.

Pada pertengahan sesi pertama perdagangan, pergerakan IHSG menunjukkan pembalikan arah dengan sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi penopang indeks. Dalam daftar saham yang disebut berkontribusi terhadap penguatan tersebut, emiten milik negara tampak mendominasi. Kondisi ini menempatkan saham BUMN sebagai perhatian pelaku pasar ketika indeks bergerak menguat setelah sebelumnya berada dalam tekanan. Perubahan arah indeks pada paruh awal perdagangan dapat dipengaruhi oleh gerak saham-saham utama, terutama ketika emiten berkapitalisasi besar bergerak searah. Namun, informasi yang tersedia hanya menunjukkan nama saham penopang, bukan rincian nilai atau persentase kontribusi masing-masing emiten terhadap IHSG. Karena itu, penguatan indeks perlu dibaca melalui daftar saham yang berperan tanpa mengaitkannya dengan besaran tertentu yang belum tercantum.

Nama-nama yang masuk dalam kelompok penopang tersebut meliputi Bank Mandiri dengan kode saham BMRI dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI). Dua bank BUMN ini tercatat bersama Telkom Indonesia (TLKM), yang bergerak di sektor telekomunikasi. Selain itu, Bank Negara Indonesia (BBNI) juga berada dalam daftar saham yang mendukung pergerakan indeks pada waktu tersebut. Kehadiran beberapa bank milik negara sekaligus memperlihatkan bahwa sektor perbankan menjadi bagian penting dari daftar penggerak IHSG pada pertengahan sesi pertama. Meski demikian, daftar itu tidak dengan sendirinya menjelaskan seberapa besar pengaruh setiap saham, maupun apakah kontribusinya merata. Penilaian atas peran masing-masing emiten sebaiknya tetap mengacu pada data yang tersedia dan tidak melampaui informasi yang dilaporkan.

Di luar sektor keuangan dan telekomunikasi, Aneka Tambang (ANTM) turut disebut sebagai saham yang menopang indeks. Dengan demikian, kelompok saham BUMN yang tercatat mencakup emiten perbankan, telekomunikasi, serta pertambangan. Komposisi tersebut memberi gambaran mengenai luasnya sektor yang terlibat dalam pembalikan IHSG, tanpa menunjukkan bahwa seluruh sektor bergerak dengan pola atau kekuatan yang sama. Bagi investor, nama-nama tersebut dapat menjadi titik awal untuk memantau dinamika pasar, tetapi bukan dasar untuk menyimpulkan besaran kontribusi atau dampak individual terhadap indeks. Angka kontribusi setiap saham tidak tersedia dalam informasi ini. Oleh sebab itu, keterangan yang dapat dipastikan terbatas pada dominasi emiten BUMN dalam daftar penopang IHSG pada pertengahan sesi pertama, yakni BMRI, BBRI, TLKM, BBNI, dan ANTM.

Program pembelian kembali saham atau buyback menjadi salah satu langkah korporasi yang relevan untuk dicermati ketika pasar bergerak dinamis, termasuk pada periode Oktober hingga Desember 2026. Sejumlah emiten telah menetapkan anggaran dan rentang waktu pelaksanaan yang berbeda. Buyback memungkinkan perusahaan membeli sahamnya sendiri di pasar, sesuai ketentuan dan persetujuan yang berlaku. Namun, keberadaan program tersebut tidak dengan sendirinya menjamin kenaikan harga saham; dampaknya tetap dipengaruhi kondisi pasar, kinerja perusahaan, serta realisasi transaksi. Karena itu, informasi mengenai batas dana, jadwal, dan sisa alokasi perlu dibaca sebagai konteks, bukan kepastian bahwa seluruh anggaran akan terserap.

Bank Mandiri mengalokasikan dana sebesar Rp1,17 triliun untuk program buyback yang berlangsung pada 30 April 2026 hingga 29 April 2027. Dengan jadwal tersebut, periode Oktober–Desember berada di dalam masa pelaksanaan. BNI, di sisi lain, menyediakan Rp627 miliar untuk pembelian kembali saham pada 27 Juli sampai 26 Oktober 2026. Jadwal BNI mencakup sebagian besar kuartal terakhir yang dimaksud, tetapi berakhir pada 26 Oktober. Perbedaan waktu ini penting bagi investor yang membandingkan program emiten: satu program dapat tetap berjalan sampai tahun berikutnya, sementara program lain memiliki tenggat lebih dekat. Anggaran yang diumumkan menunjukkan kapasitas maksimum atau dana yang disediakan, bukan jumlah saham yang pasti dibeli.

Telkom memiliki program buyback dengan nilai maksimal Rp4 triliun. Program itu disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan pada 8 Juni 2026 dan dijadwalkan berlangsung dari 9 Juni 2026 hingga 8 Juni 2027. Dengan demikian, pelaksanaannya juga mencakup periode Oktober sampai Desember 2026. Per 19 Oktober 2026, sisa alokasi Telkom masih lebih dari Rp3 triliun. Perusahaan disebut berupaya mempercepat pelaksanaan program tersebut. Informasi mengenai sisa dana dan upaya percepatan memberi gambaran bahwa ruang alokasi masih tersedia, tetapi tidak menjelaskan secara otomatis kapan transaksi akan dilakukan atau berapa volume akhirnya. Investor sebaiknya memantau keterbukaan informasi terbaru, realisasi pembelian, dan perubahan jadwal untuk menilai perkembangan program secara lebih akurat.

CEO Danantara Rosan Roeslani menyampaikan pada Jumat, 16 Oktober 2026, bahwa penurunan harga saham dapat dipandang sebagai peluang investasi untuk jangka panjang. Menurutnya, koreksi pasar tidak semata-mata menjadi alasan untuk menjauh, tetapi juga dapat membuka ruang bagi investor yang menilai prospek perusahaan tetap baik. Rosan menyatakan Danantara siap masuk ketika kondisi tersebut dinilai memberikan kesempatan yang sesuai. Pernyataan itu muncul saat pasar saham bergerak di tengah tekanan jual, sehingga perhatian investor tertuju pada kemungkinan lembaga tersebut mengambil peran sebagai pembeli. Namun, kesiapan untuk masuk belum berarti keputusan transaksi tertentu telah ditetapkan atau dilaksanakan.

Pada Senin, 19 Oktober 2026, COO Danantara sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria turut menyampaikan kemungkinan Danantara menambah kepemilikan saham BUMN. Pernyataan ini memperkuat perhatian terhadap potensi dukungan pada saham-saham perusahaan milik negara, terutama setelah harganya mengalami tekanan. Meski demikian, Danantara belum mengumumkan saham mana yang akan dibeli, kapan pembelian dapat dilakukan, ataupun berapa nilai dana yang disiapkan.

Baca juga: Pendidikan Gratis dari SD hingga Universitas Menjadi Komitmen Prabowo