Optimisme Konsumen Indonesia Lampaui Negara-Negara G7 pada 2026

Optimisme Konsumen Indonesia Lampaui Negara-Negara G7 pada 2026

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Kepercayaan konsumen Indonesia tercatat berada pada level yang relatif kuat dibandingkan banyak negara maju. Berdasarkan Global Consumer Confidence Index Ipsos edisi September 2026, Indonesia menempati peringkat keenam dari 30 negara yang disurvei, dengan skor 52,9. Posisi ini menempatkan Indonesia di atas rata-rata global yang berada pada angka 48,4, sekaligus menunjukkan bahwa pandangan konsumen di dalam negeri lebih optimistis daripada masyarakat di seluruh negara G7 yang tercakup dalam survei.

Pencapaian tersebut memperlihatkan bahwa konsumen Indonesia memiliki keyakinan yang cukup besar terhadap kondisi ekonomi dan prospek kehidupan mereka. Selisih skor nasional dan rata-rata global juga menunjukkan adanya sentimen positif yang lebih kuat, meskipun tingkat keyakinan konsumen dapat dipengaruhi oleh perkembangan pendapatan, kesempatan kerja, harga kebutuhan, serta kebijakan ekonomi yang berlangsung pada periode pengukuran.

Global Consumer Confidence Index mengukur pandangan masyarakat terhadap beberapa aspek utama, yaitu kondisi keuangan pribadi, lapangan pekerjaan, dan prospek ekonomi. Dengan demikian, skor indeks tidak hanya mencerminkan penilaian terhadap situasi saat ini, tetapi juga harapan konsumen mengenai arah perekonomian ke depan. Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin besar tingkat kepercayaan konsumen terhadap kondisi finansial dan ekonomi.

Survei Ipsos ini melibatkan lebih dari 21.000 orang dewasa di 30 negara. Cakupan responden tersebut memberikan gambaran lintas negara mengenai sentimen masyarakat terhadap keadaan ekonomi masing-masing. Dalam perbandingan itu, skor 52,9 menempatkan Indonesia dalam enam besar tingkat kepercayaan konsumen dunia. Hasil tersebut menjadi indikator bahwa optimisme masyarakat Indonesia pada September 2026 berada di atas kecenderungan global, sekaligus melampaui tingkat keyakinan konsumen di negara-negara maju yang selama ini kerap menjadi acuan perekonomian internasional.

Perbandingan skor optimisme konsumen menunjukkan bahwa Indonesia menempati posisi yang kuat di negara-negara dengan tingkat keyakinan konsumen tertinggi. Dalam susunan peringkat tersebut, India berada di posisi teratas dengan skor 66,9. Negara ini kemudian diikuti Swedia dengan skor 60,0, Malaysia dengan 54,8, Singapura dengan 54,3, serta Thailand dengan 53,1.

Setelah lima negara tersebut, Indonesia menempati posisi keenam dengan skor 52,9. Posisi ini memperlihatkan bahwa tingkat optimisme konsumen di Indonesia berada pada kelompok teratas dalam perbandingan tersebut. Capaian Indonesia juga lebih tinggi daripada sejumlah negara dengan perekonomian besar, termasuk Amerika Serikat.

Amerika Serikat berada di peringkat ke-12 dengan skor 50,5. Dengan demikian, skor Indonesia sebesar 52,9 berada di atas skor negara tersebut. Perbedaan peringkat ini menempatkan Indonesia pada posisi yang lebih tinggi dalam daftar optimisme konsumen, meskipun Amerika Serikat termasuk salah satu perekonomian besar yang tercakup dalam perbandingan.

Di kawasan Asia, skor Indonesia juga lebih tinggi dibandingkan Korea Selatan dan Jepang. Korea Selatan mencatat skor 44,3, sedangkan Jepang berada pada skor 39,4. Dibandingkan kedua negara tersebut, Indonesia memiliki skor 52,9 dan berada pada peringkat yang lebih tinggi.

Susunan ini menempatkan Indonesia sebagai negara Asia dengan skor tinggi setelah India, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Peringkat keenam yang diraih Indonesia sekaligus menunjukkan posisinya di atas Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang dalam daftar tersebut. Urutan itu memberikan konteks terhadap capaian Indonesia di tengah negara-negara Asia dan perekonomian besar lainnya yang memiliki skor lebih rendah.

Hasil survei memperlihatkan pola regional yang menonjol: India, Malaysia, Thailand, dan Indonesia mencatat tingkat kepercayaan konsumen yang lebih tinggi dibandingkan seluruh negara G7 yang termasuk dalam cakupan survei. Temuan ini menunjukkan bahwa optimisme tidak hanya terkonsentrasi pada negara maju, tetapi juga tampak kuat di sejumlah negara berkembang Asia. Meski demikian, setiap negara memiliki latar ekonomi dan sosial yang berbeda, sehingga angka tersebut perlu dibaca sebagai gambaran sikap konsumen, bukan sebagai ukuran tunggal atas seluruh kondisi perekonomian.

India menjadi negara dengan skor tertinggi dalam perbandingan tersebut. Sumber mengaitkan posisi ini dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat, meluasnya aktivitas manufaktur dan jasa, serta peningkatan belanja rumah tangga. Perkembangan di berbagai sektor itu dapat memperkuat persepsi masyarakat mengenai peluang pendapatan dan prospek ekonomi. Survei terhadap masyarakat perkotaan India juga menunjukkan meningkatnya keyakinan terhadap keamanan pekerjaan dan kondisi keuangan pribadi. Rasa aman tersebut menjadi salah satu faktor yang membantu menjelaskan mengapa konsumen lebih bersedia merencanakan pengeluaran besar.

Kepercayaan yang lebih tinggi di India turut terlihat melalui kecenderungan untuk melakukan pembelian bernilai tinggi dan meningkatkan investasi. Pola ini menggambarkan hubungan keyakinan terhadap masa depan, kemampuan keuangan, dan keputusan konsumsi. Pengalaman India memberikan konteks penting bagi pembacaan tren di Asia, termasuk ketika membandingkannya dengan Malaysia, Thailand, dan Indonesia. Namun, kesamaan posisi dalam peringkat survei tidak berarti keempat negara menghadapi peluang, risiko, atau sumber optimisme yang sama. Perbedaan kebijakan, struktur ekonomi, inflasi, pasar kerja, dan tingkat pendapatan tetap perlu dipertimbangkan saat menafsirkan hasilnya.

Perbandingan dengan negara maju menunjukkan bahwa ukuran ekonomi tidak otomatis menentukan tingkat kepercayaan konsumen. Amerika Serikat mencatat skor tertinggi di negara-negara G7, yaitu 50,5, tetapi angka tersebut masih berada di bawah Indonesia dan sejumlah negara berkembang lainnya. Kepercayaan konsumen AS memang membaik pada September 2026, namun tetap lebih rendah dibandingkan periode yang sama setahun sebelumnya. Perbaikan pandangan terhadap pasar tenaga kerja belum sepenuhnya mampu mengimbangi tekanan terhadap kemampuan belanja rumah tangga.

Salah satu sumber tekanan terbesar di Amerika Serikat adalah kenaikan harga bensin. Hingga Agustus 2026, harganya meningkat 27,4 persen secara tahunan, jauh melampaui inflasi umum yang tercatat 3,4 persen. Pada saat yang sama, rata-rata upah per jam setelah disesuaikan dengan inflasi menurun 0,3 persen secara tahunan. Kombinasi biaya energi yang lebih tinggi dan pertumbuhan pendapatan riil yang melemah membatasi daya beli, sehingga rumah tangga cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan konsumsi.

Jepang berada di peringkat ke-28 dengan skor kepercayaan konsumen 39,4. Rendahnya optimisme tersebut berkaitan erat dengan peningkatan harga kebutuhan pokok, terutama beras yang naik hingga dua kali lipat 2024 dan 2025. Biaya transportasi serta kemasan juga ikut meningkat, menambah beban pengeluaran sehari-hari. Meskipun pertumbuhan upah mulai melampaui inflasi, pemulihan daya beli masih diperlukan agar konsumen merasa lebih aman dan bersedia meningkatkan belanja.

Temuan ini memperlihatkan bahwa optimisme konsumen tidak selalu bergerak searah dengan besarnya perekonomian suatu negara. Indonesia dan beberapa negara Asia justru mencatat kepercayaan yang lebih tinggi dibandingkan banyak negara maju. Perbedaan tersebut menegaskan pentingnya faktor harga kebutuhan dasar, pendapatan riil, dan persepsi terhadap masa depan dalam membentuk keyakinan konsumen.