1.500 Kadet Unhan Dikerahkan untuk Mendampingi Pembelajaran di Sekolah Rakyat

1.500 Kadet Unhan Dikerahkan untuk Mendampingi Pembelajaran di Sekolah Rakyat

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Menteri Sosial Saifullah Yusuf bersama Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan melepas 1.500 kadet mahasiswa Universitas Pertahanan Republik Indonesia untuk menjalankan program pengabdian di Sekolah Rakyat tahun 2026. Pelepasan tersebut berlangsung di Skadron Udara 18 Halim Perdana Kusuma, Jakarta, pada Jumat, 9 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi awal keberangkatan para kadet yang ditugaskan untuk mendampingi proses pembelajaran di Sekolah Rakyat.

Sebanyak 1.500 kadet Unhan diberangkatkan sebagai peserta program pengabdian yang berfokus pada pendampingan pembelajaran. Penugasan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan kegiatan di Sekolah Rakyat selama tahun 2026. Dengan jumlah peserta yang besar, pelepasan ini menandai dimulainya keterlibatan para kadet dalam mendukung kegiatan pendidikan di sekolah yang menjadi tujuan pengabdian mereka.

Acara pelepasan di Skadron Udara 18 Halim Perdana Kusuma dihadiri dan dipimpin secara bersama oleh Menteri Sosial Saifullah Yusuf serta Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan. Keduanya melepas para kadet mahasiswa Universitas Pertahanan Republik Indonesia untuk menjalankan tugas pengabdian tersebut. Para kadet diberangkatkan dengan tujuan utama mendampingi pembelajaran di Sekolah Rakyat pada program tahun 2026. Peristiwa pada Jumat, 9 Oktober 2026 itu mempertemukan unsur kementerian dan institusi pendidikan pertahanan dalam pemberangkatan peserta program pengabdian.

Pengerahan 1.500 kadet Universitas Pertahanan (Unhan) untuk mendampingi pembelajaran di Sekolah Rakyat merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman Kementerian Sosial dan Kementerian Pertahanan. Kesepakatan tersebut menjadi dasar bagi pelaksanaan kerja sama antarkementerian dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan bagi peserta didik di Sekolah Rakyat. Dengan demikian, kehadiran para kadet tidak berdiri sebagai kegiatan terpisah, melainkan menjadi bagian dari langkah yang telah dirancang melalui hubungan kelembagaan kedua kementerian.

Nota kesepahaman itu diarahkan untuk memperkuat proses pembelajaran di Sekolah Rakyat. Arah kerja sama tersebut kemudian diterjemahkan melalui keterlibatan kadet dalam kegiatan pendampingan di lingkungan sekolah. Pengerahan personel dari Unhan menunjukkan adanya pelaksanaan nyata atas kesepakatan yang telah dibangun, sekaligus menghubungkan dukungan Kementerian Pertahanan dengan kebutuhan pembelajaran yang dikelola dalam lingkup Kementerian Sosial.

Dalam kerangka tersebut, pengabdian para kadet menjadi bentuk pelaksanaan program kerja sama yang berfokus pada penguatan kegiatan belajar. Mereka ditempatkan untuk mendampingi proses pembelajaran sesuai dengan tujuan yang telah disepakati oleh kedua kementerian. Hubungan nota kesepahaman dan pengerahan kadet memperlihatkan bahwa program ini disusun secara terarah, dengan dukungan lintas kementerian sebagai landasannya. Sekolah Rakyat menjadi ruang pelaksanaan kerja sama tersebut, sedangkan keterlibatan kadet merupakan salah satu wujud dukungan untuk membantu memperkuat proses pendidikan yang berlangsung di dalamnya.

Sebanyak 1.500 kadet akan menjalankan tugas pendampingan dalam program pembelajaran di Sekolah Rakyat selama dua pekan ke depan. Kehadiran mereka ditujukan untuk mendukung berlangsungnya kegiatan belajar mengajar sekaligus memberikan bimbingan kepada para siswa selama mengikuti proses pendidikan. Para kadet akan berperan sebagai pendamping yang membantu menciptakan suasana belajar yang tertib, mendorong semangat siswa, serta mendukung pelaksanaan kegiatan pembelajaran sesuai kebutuhan di sekolah.

Pendampingan tersebut menyasar lebih dari 44.000 siswa Sekolah Rakyat yang tersebar di 181 titik di seluruh Indonesia. Cakupan yang luas ini menunjukkan bahwa program melibatkan satuan pendidikan di berbagai wilayah, dengan siswa sebagai penerima manfaat utama. Selama program berlangsung, para kadet diharapkan dapat hadir sebagai figur pendukung bagi siswa dan membantu proses belajar mengajar berjalan secara lebih terarah.

Siswa yang menjadi sasaran program berasal dari tiga jenjang pendidikan, yaitu sekolah dasar, sekolah menengah pertama, hingga sekolah menengah atas. Perbedaan jenjang tersebut membuat kebutuhan pendampingan setiap kelompok siswa dapat beragam, baik dalam mengikuti pembelajaran maupun dalam membangun motivasi untuk belajar. Karena itu, peran kadet tidak hanya berkaitan dengan keberadaan mereka di lingkungan sekolah, tetapi juga dengan upaya memberikan bimbingan yang sesuai bagi siswa pada setiap tingkat pendidikan.

Melalui penugasan ini, pendampingan diharapkan dapat memperkuat dukungan terhadap kegiatan pendidikan di Sekolah Rakyat selama masa program. Kehadiran kadet menjadi bagian dari upaya membantu siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih terarah, sekaligus mendukung sekolah dalam menjalankan kegiatan pembelajaran bagi puluhan ribu peserta didik di seluruh Indonesia.

Saifullah Yusuf menjelaskan bahwa keterlibatan para kadet dalam pendampingan di Sekolah Rakyat akan diisi dengan pembekalan dan pengabdian bersama para siswa. Kegiatan tersebut tidak diarahkan semata-mata untuk menjalankan tugas pendampingan pembelajaran, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembentukan sikap dan karakter. Para kadet akan hadir dalam lingkungan sekolah untuk mendampingi siswa sekaligus menjalani pengalaman pengabdian yang sesuai dengan kebutuhan kegiatan di Sekolah Rakyat.

Fokus pembentukan karakter menjadi salah satu perhatian utama dalam rangkaian kegiatan tersebut. Melalui pembekalan, para kadet dipersiapkan agar memahami peran, tanggung jawab, serta sikap yang diperlukan ketika berinteraksi dengan siswa. Pendekatan ini menempatkan pendampingan sebagai ruang untuk membangun kedisiplinan, kepedulian, dan keteladanan, tanpa mengubah tujuan utama kegiatan sebagai dukungan terhadap proses pembelajaran di sekolah.

Selain pembentukan karakter, kegiatan itu juga berkaitan dengan penyesuaian para kadet terhadap kehidupan asrama. Saifullah Yusuf menyebut bahwa pengalaman tersebut perlu dipahami sebagai bagian dari proses pengabdian yang berlangsung dalam lingkungan dengan aturan dan kebiasaan tertentu. Penyesuaian ini menjadi unsur dalam pembekalan agar para kadet dapat menjalani kegiatan secara tertib, memahami suasana kehidupan siswa, serta menempatkan diri sesuai dengan peran pendamping yang dijalankan.

Saifullah Yusuf menegaskan bahwa rangkaian pembekalan dan pengabdian itu bukan aktivitas fisik yang memberatkan. Penjelasan tersebut menekankan bahwa kegiatan para kadet bersama siswa lebih diarahkan pada pendampingan, pembentukan karakter, dan penyesuaian terhadap kehidupan asrama. Dengan demikian, kehadiran mereka di Sekolah Rakyat ditempatkan sebagai bagian dari proses kebersamaan dalam mendukung kegiatan belajar dan kehidupan siswa di lingkungan sekolah.