Kota Palangka Raya | Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, mulai memberlakukan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas pada Kamis, 29 Oktober 2026. Kegiatan belajar di sekolah kembali berjalan dalam bentuk terbatas setelah wilayah tersebut diguyur hujan dan asap akibat kebakaran hutan berkurang. Perubahan kondisi itu menjadi latar bagi dimulainya kembali PTM, dengan pelaksanaan yang tetap memperhatikan keadaan lingkungan. Kebijakan ini menandai dimulainya kegiatan belajar langsung di sekolah pada tanggal tersebut, tetapi tidak berarti kondisi udara dilepaskan dari perhatian dalam penyelenggaraan pembelajaran.
Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya, M Aswan, menyampaikan bahwa pelaksanaan belajar di sekolah tetap mengikuti kondisi kualitas udara. Dengan demikian, situasi udara menjadi pertimbangan dalam menjalankan PTM terbatas, seiring kegiatan belajar kembali berlangsung setelah hujan dan berkurangnya asap. Keterangan tersebut menegaskan bahwa kebijakan pembelajaran tidak diterapkan terlepas dari perubahan kondisi di wilayah setempat. Pelaksanaan PTM tetap disesuaikan dengan kualitas udara, sehingga kondisi tersebut terus menjadi acuan dalam kegiatan belajar di sekolah.
Aswan juga menekankan bahwa perlindungan kesehatan siswa dan tenaga pendidik menjadi prioritas dalam pelaksanaan pembelajaran. Artinya, dimulainya kembali kegiatan tatap muka perlu berjalan dengan perhatian terhadap kesehatan seluruh pihak yang terlibat di lingkungan sekolah. Keterangan dari Disdik tersebut menjadi penjelasan mengenai dasar pelaksanaan PTM terbatas sekaligus prinsip yang menyertainya: kegiatan belajar mengikuti kualitas udara dan mengutamakan perlindungan kesehatan siswa serta tenaga pendidik. Pemerintah kota memulai pembelajaran langsung pada 29 Oktober setelah hujan turun dan asap kebakaran hutan berkurang, sementara kondisi udara tetap menjadi pertimbangan dalam penyelenggaraannya.
Pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di Palangka Raya mengutamakan keselamatan warga sekolah, sekaligus menjaga kegiatan belajar tetap berlangsung. Jadwal belajar dimulai pukul 07.30 WIB. Sebelum siswa mengikuti kegiatan, sekolah perlu memastikan ruang kelas berada dalam kondisi baik dan nyaman digunakan. Penataan ruang serta kesiapan lingkungan belajar menjadi bagian dari upaya mendukung proses pembelajaran di tengah penerapan ketentuan yang berlaku. Sekolah juga perlu memperhatikan keadaan kelas selama kegiatan berlangsung, agar siswa dan tenaga pendidik dapat mengikuti pembelajaran dengan aman. Ketentuan tersebut menjadi pedoman pelaksanaan harian, bukan jaminan bahwa situasi akan selalu sama.
Siswa dan tenaga pendidik diwajibkan memakai masker selama berada di lingkungan sekolah. Untuk mengantisipasi masker yang basah, rusak, atau tidak dapat digunakan, pihak sekolah diminta menyediakan masker cadangan. Orang tua juga diimbau membekali anak dengan air minum dari rumah. Persiapan ini membantu memenuhi kebutuhan siswa selama mengikuti pembelajaran, tanpa harus mengabaikan aturan kesehatan. Sekolah dapat mengingatkan seluruh warga sekolah mengenai perlengkapan yang perlu dibawa dan ketentuan penggunaan masker. Dengan demikian, tanggung jawab menjaga keamanan kegiatan belajar dijalankan bersama oleh sekolah, tenaga pendidik, siswa, dan keluarga. Setiap pelaksanaan tetap perlu mengikuti arahan yang berlaku pada hari tersebut.
Metode belajar tidak harus diterapkan secara seragam apabila kondisi berubah. Pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan perkembangan kualitas udara dan ketentuan yang berlaku setiap hari. Penyesuaian juga perlu mempertimbangkan situasi di sekolah serta hasil evaluasi, sehingga keputusan yang diambil sesuai dengan keadaan terkini. Dinas Pendidikan (Disdik) akan mengevaluasi kebijakan PTM terbatas secara berkala. Evaluasi tersebut menjadi dasar untuk meninjau pelaksanaan dan menentukan penyesuaian yang diperlukan, dengan tetap merujuk pada kondisi serta aturan yang berlaku. Karena itu, sekolah perlu mengikuti informasi terbaru dan menerapkan arahan yang diterima. Kebijakan ini tidak menetapkan waktu kapan pembelajaran akan kembali normal; fokusnya adalah menjaga kegiatan berlangsung dengan memperhatikan situasi dan keselamatan.
Pada 29 Agustus 2026, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Palangka Raya menetapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi satuan pendidikan. Kebijakan tersebut diambil ketika kabut asap tebal menyelimuti wilayah kota akibat maraknya kebakaran hutan dan lahan. Kondisi udara dinilai berbahaya bagi kesehatan, sehingga kegiatan belajar tatap muka berisiko menambah paparan bagi murid, guru, dan tenaga kependidikan. Peralihan ke pembelajaran dari rumah menjadi langkah perlindungan sekaligus cara menjaga agar kegiatan pendidikan tetap berlangsung.
Keputusan awal itu kemudian tidak berhenti pada satu periode. Selama September 2026, Disdik memperpanjang pelaksanaan PJJ beberapa kali seiring kabut asap dan dampak kebakaran yang masih memengaruhi kualitas udara. Perpanjangan dilakukan untuk memberi ruang bagi pemantauan kondisi lingkungan dan mengurangi risiko kesehatan warga sekolah. Dengan demikian, perubahan jadwal belajar merupakan respons terhadap keadaan yang berkembang, bukan sekadar penyesuaian kalender akademik.
Memasuki Oktober, kebijakan jarak jauh kembali diteruskan pada sejumlah rentang hari. Situasi tersebut menunjukkan bahwa dampak kebakaran hutan dan lahan belum segera mereda setelah kebijakan pertama diberlakukan pada akhir Agustus. Setiap perpanjangan mempertahankan pembelajaran dari rumah selama kondisi belum dinilai cukup aman untuk kegiatan tatap muka. Dalam pelaksanaannya, sekolah perlu menyesuaikan penyampaian materi dan komunikasi dengan peserta didik, sementara keluarga turut membantu memastikan kegiatan belajar tetap berjalan.
Rangkaian PJJ berlanjut hingga 26–28 Oktober 2026, yang menjadi rentang perpanjangan terbaru dalam kronologi ini. Rentang tersebut menandai hampir dua bulan sejak keputusan awal 29 Agustus, dengan kebijakan diperbarui secara bertahap sepanjang September dan Oktober. Rentang PJJ yang panjang menggambarkan bagaimana kualitas udara dapat memengaruhi penyelenggaraan pendidikan secara langsung. Karena itu, riwayat kebijakan ini menjadi latar penting bagi langkah Palangka Raya untuk mulai kembali ke kelas secara terbatas, dengan keselamatan kesehatan tetap menjadi pertimbangan utama.
Dika, orang tua murid sekolah dasar di Palangka Raya sekaligus ayah dari dua anak, menyambut baik dimulainya kembali pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas. Baginya, kesempatan bagi siswa untuk kembali masuk kelas, meski dengan pengaturan tertentu, merupakan kabar yang melegakan setelah kegiatan belajar berlangsung dari rumah. Ia menilai kebijakan tersebut juga dapat menjadi salah satu indikasi bahwa kondisi udara di wilayah setempat mulai membaik. Penilaian itu muncul setelah Palangka Raya dua kali diguyur hujan lebat, yang diharapkan membantu mengurangi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.
Selama pembelajaran jarak jauh (PJJ), Dika menghadapi sejumlah kendala yang memengaruhi kegiatan belajar anak-anaknya. Koneksi internet tidak selalu stabil, sementara perangkat yang tersedia di rumah terbatas untuk memenuhi kebutuhan belajar dua anak. Situasi itu dapat menyulitkan mereka mengikuti materi dan menyelesaikan tugas dengan lancar. Ia juga mengkhawatirkan kualitas pendidikan apabila pembelajaran dari rumah berlangsung terus-menerus, sebab pendampingan dan suasana belajar tidak sepenuhnya sama dengan yang didapat siswa di sekolah. Di rumah, orang tua perlu membagi perhatian dengan pekerjaan serta urusan lain, sehingga tidak selalu dapat membantu anak setiap saat.
Selain persoalan teknis, Dika melihat anak-anak mulai jenuh karena terlalu lama belajar tanpa bertemu teman sebaya. Sekolah bukan hanya tempat untuk menerima pelajaran, melainkan juga ruang bagi anak untuk bermain, berkomunikasi, dan berinteraksi secara langsung. Pembelajaran terbatas dapat membuka kembali kesempatan itu, tetapi pelaksanaannya tetap perlu mempertimbangkan keselamatan siswa dan kondisi udara. Dika berharap kebakaran hutan dan lahan serta kabut asap segera berakhir, sehingga anak-anak dapat kembali belajar, bermain, dan berinteraksi di sekolah dalam keadaan aman dan nyaman. Harapan tersebut, menurutnya, bergantung pada membaiknya situasi, bukan sesuatu yang dapat dianggap pasti dalam waktu dekat.
Baca juga: Proyeksi IHSG: Kembali Koreksi di Awal Pekan | Memilih Jalan Damai, Empat Anggota OPM Puncak Jaya Serahkan Senjata kepada Pangkoops TNI Habema dan Kembali ke Masyarakat | Empat Anggota OPM Serahkan Senjata dan Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi






