Sport  

MotoGP Mandalika 2026 Diproyeksikan Perkuat Ekonomi NTB dan Tarik Investasi Asing

MotoGP Mandalika 2026 Diproyeksikan Perkuat Ekonomi NTB dan Tarik Investasi Asing

Jakarta | Pemerintah mendorong penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026 agar tidak hanya menjadi agenda olahraga internasional, tetapi juga berperan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Indonesia. Ajang yang juga disebut The Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 tersebut dipandang memiliki daya ungkit besar karena mampu memperkuat perhatian publik serta dunia usaha terhadap potensi daerah.

CEO InJourney Maya Watono menyampaikan bahwa penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026 diharapkan memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Proyeksinya, kontribusi ekonomi dari ajang tersebut berada pada kisaran Rp4,9 triliun hingga Rp5 triliun. Nilai ini menunjukkan besarnya harapan pemerintah dan pemangku kepentingan terhadap perhelatan internasional tersebut sebagai salah satu pendorong aktivitas ekonomi.

Dampak yang diproyeksikan juga dikaitkan dengan upaya mempercepat pertumbuhan ekonomi NTB hingga mencapai 10 persen. Target tersebut menempatkan MotoGP Mandalika 2026 sebagai bagian penting dari agenda pembangunan daerah, khususnya dalam meningkatkan daya tarik NTB di tingkat nasional dan internasional. Kehadiran ajang ini diharapkan memperkuat peran daerah dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia secara lebih luas.

Selain mengejar peningkatan pertumbuhan, penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026 diarahkan untuk membantu mengurangi angka kemiskinan di NTB. Dorongan terhadap kegiatan ekonomi dan meningkatnya perhatian terhadap daerah diharapkan dapat mendukung pencapaian sasaran tersebut. Pemerintah juga melihat momentum ini sebagai peluang untuk menarik investasi asing, sehingga manfaat perhelatan tidak berhenti pada berlangsungnya kompetisi, tetapi turut memperkuat prospek ekonomi NTB dalam jangka lebih panjang.

Penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026 diproyeksikan memberikan dampak langsung terhadap masyarakat di Nusa Tenggara Barat, terutama melalui penyerapan tenaga kerja lokal. Sekitar 3.000 tenaga kerja lokal terlibat dalam berbagai kebutuhan penyelenggaraan acara tersebut. Keterlibatan ini menunjukkan bahwa ajang olahraga internasional tidak hanya berlangsung di lintasan, tetapi juga membutuhkan dukungan masyarakat dan pelaku usaha di wilayah sekitar.

Penyerapan tenaga kerja tersebut turut mendorong perputaran pendapatan di tingkat lokal. Ketika masyarakat memperoleh penghasilan dari keterlibatan dalam kegiatan MotoGP, sebagian pendapatan itu berpotensi kembali dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pergerakan ekonomi semacam ini membantu meningkatkan aktivitas perdagangan dan jasa di lingkungan setempat selama persiapan maupun pelaksanaan acara.

Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal juga ikut memperoleh manfaat dari meningkatnya aktivitas di kawasan Mandalika. Kehadiran penyelenggara, pekerja, serta pihak-pihak yang mendukung acara menciptakan kebutuhan terhadap beragam barang dan layanan yang disediakan pelaku usaha setempat. Dengan demikian, UMKM memiliki peluang untuk memperluas pasar dan memperkenalkan produk lokal kepada masyarakat yang datang untuk keperluan MotoGP.

Dampak tersebut terhubung dengan sektor pariwisata dan sejumlah sektor pendukung utama, yaitu hotel, restoran, dan transportasi. Hotel berperan menyediakan akomodasi, restoran melayani kebutuhan konsumsi, sedangkan transportasi mendukung mobilitas selama kegiatan berlangsung. Meningkatnya permintaan pada ketiga sektor ini dapat memperkuat hubungan agenda balap dan kegiatan ekonomi lokal. Keterkaitan itu membuat manfaat acara tersebar lebih luas, dari tenaga kerja hingga pelaku usaha yang menyediakan layanan bagi penyelenggara dan pengunjung.

InJourney mencatat bahwa penyelenggaraan MotoGP Mandalika memberikan paparan internasional yang semakin kuat bagi Nusa Tenggara Barat. Kehadiran ajang balap motor dunia tersebut tidak hanya memperkenalkan destinasi kepada penonton dan wisatawan mancanegara, tetapi juga membuka perhatian dari pelaku usaha global. Eksposur ini menjadi salah satu faktor yang mendorong munculnya minat investor asing terhadap peluang pengembangan pariwisata di daerah tersebut.

Maya Watono menyampaikan bahwa kelompok investor yang menunjukkan ketertarikan lain berasal dari Spanyol, negara yang memiliki keterkaitan kuat dengan MotoGP. Minat tersebut dinilai mencerminkan bagaimana sebuah agenda olahraga internasional dapat memperluas jaringan promosi destinasi sekaligus membangun kepercayaan di kalangan calon investor. Bagi pelaku usaha, perhatian global terhadap Mandalika dapat menjadi pertimbangan dalam melihat prospek sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di NTB.

Ketertarikan investor asing itu turut menyasar sektor akomodasi. Hotel dan vila termasuk bidang yang dipandang memiliki peluang untuk mendukung kebutuhan wisatawan, terutama ketika jumlah kunjungan meningkat pada periode penyelenggaraan MotoGP maupun setelahnya. Pengembangan akomodasi juga berpotensi memperkuat ekosistem pariwisata secara lebih luas, karena berkaitan dengan layanan perjalanan, tenaga kerja, pemasok lokal, serta aktivitas ekonomi masyarakat.

Menurut Maya Watono, InJourney terus berupaya menarik investasi dengan memanfaatkan momentum dan daya tarik internasional yang dibawa MotoGP Mandalika. Upaya tersebut dilakukan dengan menampilkan potensi destinasi serta peluang usaha yang relevan kepada mitra dan investor dari berbagai negara. Dengan demikian, paparan internasional dari ajang tersebut diharapkan tidak berhenti pada promosi, melainkan berkembang menjadi ketertarikan bisnis yang berkelanjutan dan mendukung penguatan ekonomi NTB.

Penguatan konsep sport tourism di Mandalika diarahkan agar aktivitas ekonomi kawasan tidak hanya bergantung pada penyelenggaraan MotoGP. Ajang balap internasional tersebut memang menjadi penggerak utama kunjungan wisatawan, promosi destinasi, dan kegiatan usaha masyarakat. Namun, keberlanjutan ekonomi membutuhkan rangkaian fasilitas serta aktivitas pendukung yang dapat menarik pengunjung dan investor sepanjang tahun, termasuk ketika tidak ada agenda balap. Dengan pendekatan tersebut, Mandalika diharapkan berkembang sebagai kawasan olahraga, pariwisata, dan investasi yang memiliki daya tarik lebih luas.

InJourney bersama Danantara Indonesia, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Keuangan, Kementerian UMKM, Kementerian Ekonomi Kreatif, serta Pemerintah Daerah NTB disebut terus melengkapi kawasan Mandalika. Fasilitas yang disiapkan mencakup lapangan golf dan area parkir otomotif untuk mobil mewah. Area parkir tersebut dirancang dengan memanfaatkan fasilitas bonded zone, sehingga dapat mendukung kebutuhan penyimpanan dan pengelolaan kendaraan bernilai tinggi dalam kerangka fasilitas kawasan. Kehadiran fasilitas itu diharapkan memperluas segmen wisatawan dan pelaku usaha yang dapat dilayani Mandalika, sekaligus menciptakan peluang kegiatan ekonomi baru di sekitarnya.

Arah pengembangan sirkuit dan penguatan ekonomi melalui MotoGP menjadi pokok pembahasan Maya Watono dalam program Closing Bell pada Senin, 12 Oktober 2026. Pembahasan tersebut menempatkan MotoGP sebagai bagian dari strategi yang lebih besar untuk membangun ekosistem sport tourism di NTB. Pengembangan lapangan golf dan area parkir otomotif berbasis bonded zone ditujukan untuk menjaga keberlanjutan ekonomi serta investasi di sekitar Mandalika, NTB. Dengan melengkapi kawasan melalui fasilitas pendukung dan memperkuat kolaborasi lintas lembaga, manfaat penyelenggaraan ajang olahraga diharapkan dapat berlangsung lebih konsisten bagi sektor pariwisata, usaha, dan investasi lokal.

Baca juga: Polri Perkuat Pengawasan untuk Ciptakan Iklim Investasi yang Aman | STAFFEX SGS 2026 Perkuat Kesiapan Operasi Gabungan Melalui AAR | DCT CYBEREX SGS 2026 Paparkan Analisis Serangan, Perkuat Pertahanan Siber