Bisnis  

Danantara Masuk Industri Tekstil dengan Fokus pada Penciptaan Lapangan Kerja

Danantara Masuk Industri Tekstil dengan Fokus pada Penciptaan Lapangan Kerja

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Danantara Indonesia memutuskan untuk masuk ke bisnis tekstil dengan pertimbangan utama berupa penciptaan lapangan kerja dalam jumlah besar. Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menyampaikan bahwa sektor ini dipandang memiliki kemampuan untuk menyerap banyak tenaga kerja. Karena itu, langkah tersebut tidak semata-mata diarahkan pada pengembangan kegiatan usaha, tetapi juga pada upaya memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat.

Dony menjelaskan bahwa Danantara berencana membangun industri tekstil sendiri. Rencana ini menjadi bagian dari langkah lembaga tersebut untuk terlibat secara langsung dalam pengembangan sektor yang dinilai dapat memberikan dampak ketenagakerjaan secara luas. Dengan membangun industri tekstil, Danantara ingin menciptakan kegiatan ekonomi yang mampu membuka peluang pekerjaan dalam skala besar, sesuai dengan kebutuhan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pernyataan mengenai rencana tersebut disampaikan Dony dalam acara dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran yang berlangsung di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, pada Kamis, 8 Oktober. Dalam kesempatan itu, fokus yang ditekankan adalah alasan sosial dan ekonomi di balik keputusan memasuki sektor tekstil, khususnya potensinya dalam menyediakan pekerjaan. Danantara belum menyampaikan rincian mengenai jenis produk yang akan dibuat, lokasi fasilitas, nilai investasi, maupun jadwal pelaksanaan pembangunan industri tersebut. Informasi yang tersedia menegaskan bahwa arah awal rencana ini adalah membangun industri tekstil secara mandiri dengan orientasi kuat pada penciptaan lapangan kerja.

Dony melihat industri tekstil Indonesia sedang menghadapi persoalan pertumbuhan yang cenderung stagnan. Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor tersebut belum berkembang secara optimal, baik dalam memperluas kegiatan usaha maupun meningkatkan kapasitas produksinya. Padahal, tekstil memiliki posisi penting dalam struktur industri nasional karena rantai kegiatannya mencakup beragam tahapan, mulai dari pengolahan bahan baku hingga menghasilkan produk jadi.

Stagnasi pada industri tekstil tidak hanya berkaitan dengan kinerja sektor usaha, tetapi juga berdampak pada kesempatan kerja. Ketika ekspansi industri melambat, kemampuan perusahaan untuk membuka posisi baru dan menyerap tenaga kerja ikut terbatas. Dampaknya, pencari kerja memiliki lebih sedikit peluang untuk memasuki pekerjaan formal yang sesuai dengan keterampilan dan harapan mereka.

Dalam situasi tersebut, sebagian pencari kerja terdorong untuk beralih ke sektor informal. Pergeseran ini menjadi konsekuensi dari terbatasnya lapangan kerja formal, bukan semata-mata pilihan utama para pencari kerja. Sektor informal memang dapat menjadi ruang untuk memperoleh penghasilan, tetapi perpindahan tersebut juga memperlihatkan perlunya perhatian lebih besar terhadap kemampuan industri dalam menyediakan pekerjaan yang stabil dan berkelanjutan.

Menurut Dony, pertimbangan mengenai daya serap tenaga kerja menjadi salah satu alasan penting di balik langkah Danantara memasuki sektor tekstil. Industri ini dipandang memiliki kemampuan untuk menciptakan banyak lapangan pekerjaan apabila dikelola dan dikembangkan secara tepat. Karena itu, keterlibatan Danantara tidak hanya diarahkan pada pemulihan atau penguatan kinerja industri, tetapi juga pada upaya mendorong pertumbuhan sektor yang lebih mampu menjangkau tenaga kerja. Fokus tersebut menempatkan penciptaan kesempatan kerja sebagai bagian dari tujuan strategis, sejalan dengan kebutuhan untuk mengurangi tekanan akibat terbatasnya pekerjaan formal.

Masuknya Danantara ke industri tekstil dijelaskan Dony sebagai bagian dari arah besar yang diinginkan Presiden Prabowo Subianto, yakni mengarahkan perekonomian nasional menuju industrial-based economy atau ekonomi berbasis industri. Langkah tersebut tidak semata-mata dipandang sebagai ekspansi investasi ke sektor tertentu, tetapi juga sebagai upaya memperkuat fondasi produksi nasional serta meningkatkan peran industri dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Menurut Dony, industrialisasi pada akhirnya memiliki keterkaitan erat dengan penciptaan lapangan kerja. Karena itu, Danantara akan mempertimbangkan investasi pada sektor-sektor yang mempunyai kemampuan menyerap banyak tenaga kerja. Industri tekstil dan alas kaki termasuk bidang yang dinilai relevan dalam kerangka tersebut, mengingat pengembangannya dapat mendukung aktivitas produksi sekaligus membuka peluang pekerjaan bagi masyarakat.

Dalam mempersiapkan langkah itu, Dony telah berdiskusi secara intensif dengan berbagai asosiasi pengusaha di bidang tekstil dan alas kaki. Komunikasi tersebut menjadi bagian penting untuk memahami kondisi industri, mendengar pandangan pelaku usaha, serta mengidentifikasi kebutuhan yang perlu diperhatikan agar agenda industrialisasi dapat berjalan secara lebih efektif. Keterlibatan asosiasi juga menunjukkan pentingnya kerja sama pengelola investasi dan dunia usaha.

Dony juga telah bertemu dengan Menteri Perdagangan Budi Santoso serta Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji. Dalam pertemuan dan pembahasan tersebut, berbagai pihak disebut menyepakati perlunya deregulasi kebijakan untuk mempercepat industrialisasi di Indonesia. Kesepakatan itu menegaskan bahwa penguatan sektor industri membutuhkan koordinasi lintas pihak dan dukungan kebijakan yang mampu menciptakan iklim usaha lebih mendukung bagi investasi serta perluasan kesempatan kerja.

Danantara Indonesia tengah menyiapkan langkah lanjutan untuk memperkuat industri tekstil melalui rencana pembentukan badan usaha milik negara (BUMN) baru. Inisiatif tersebut diarahkan untuk membangun kapasitas industri sekaligus membuka lebih banyak kesempatan kerja di dalam negeri. Kehadiran perusahaan baru diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya mendorong industrialisasi nasional, terutama melalui penguatan rantai produksi tekstil, peningkatan kemampuan manufaktur, dan pengembangan sumber daya manusia.

Dalam proses perencanaannya, Danantara juga melihat peluang kerja sama dengan mitra swasta. Mitra yang dipertimbangkan dapat berasal dari dalam maupun luar negeri, sepanjang memiliki kapasitas untuk mendukung pengembangan industri nasional. Kolaborasi dengan pihak yang mempunyai pengalaman, teknologi, jaringan pasar, atau kemampuan produksi dapat menjadi salah satu faktor pendukung dalam membangun industri tekstil yang lebih kompetitif. Namun, rincian mengenai calon mitra, pola kerja sama, dan tahapan pelaksanaannya belum disampaikan.

Selain mempertimbangkan pendirian perusahaan baru, Danantara tetap membuka kemungkinan untuk mengembangkan perusahaan tekstil yang telah beroperasi. CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa opsi tersebut akan dinilai secara menyeluruh. Penilaian terutama akan memperhatikan potensi pengembangan perusahaan, termasuk kondisi mesin dan teknologi yang digunakan dalam kegiatan produksinya.

Menurut Rosan, pendekatan Danantara tidak terbatas pada pembangunan entitas baru, melainkan juga mencakup pemetaan terhadap aset dan perusahaan yang sudah tersedia. Evaluasi atas kondisi peralatan produksi dan kesiapan teknologi menjadi bagian penting karena faktor tersebut berkaitan dengan produktivitas, efisiensi, serta kemampuan industri dalam memenuhi kebutuhan pasar. Pernyataan itu disampaikan Rosan di Istana Kepresidenan Jakarta pada Selasa, 22 September. Hingga tahap tersebut, belum ada keterangan mengenai perusahaan yang akan dipilih, bentuk kerja sama yang akan diterapkan, maupun besaran investasi yang disiapkan.