Bentrok di Pidie Tewaskan Satu Warga, Enam Personel TNI dan 13 Warga Terluka

Bentrok di Pidie Tewaskan Satu Warga, Enam Personel TNI dan 13 Warga Terluka

Kabupaten Pidie | Bentrokan yang terjadi pada Rabu, 4 November 2026, di meunasah Desa Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, Aceh, mengakibatkan korban jiwa dan sejumlah orang mengalami luka-luka. Berdasarkan keterangan Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen TNI Donny Pramono, satu warga meninggal dunia dalam peristiwa tersebut. Selain korban meninggal, 13 warga lainnya dilaporkan terluka. Informasi mengenai jumlah korban itu disampaikan Donny melalui keterangan tertulis pada Kamis, 5 November 2026.

Dalam kejadian yang sama, enam personel TNI juga mengalami luka-luka. Mereka mendapat penanganan medis sesuai dengan kondisi masing-masing. Keterangan tersebut memuat jumlah personel yang terluka, tetapi tidak merinci tingkat keparahan luka setiap orang. Penanganan medis diberikan berdasarkan keadaan masing-masing korban. Dengan demikian, jumlah korban yang disebutkan dalam keterangan itu mencakup satu warga yang meninggal, 13 warga yang terluka, serta enam personel TNI yang mengalami luka-luka.

Peristiwa di meunasah tersebut menjadi perhatian karena menimbulkan dampak terhadap warga dan personel TNI. Lokasi kejadian berada di Desa Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, wilayah Kabupaten Pidie, Aceh. Data korban dalam laporan ini merujuk pada keterangan tertulis Brigjen TNI Donny Pramono yang diterbitkan sehari setelah bentrokan. Informasi yang disampaikan mencatat korban meninggal dan korban luka, serta menyebut bahwa personel TNI yang terluka telah memperoleh perawatan medis. Rincian mengenai identitas korban, penyebab bentrokan, maupun perkembangan penanganan lebih lanjut tidak tercantum dalam keterangan yang menjadi dasar laporan ini. Karena itu, angka korban yang dapat dipastikan dari pernyataan tersebut adalah satu warga meninggal dunia, 13 warga terluka, dan enam personel TNI mengalami luka-luka. Penyebutan data secara terpisah juga memperjelas bahwa jumlah warga yang terdampak berbeda dari jumlah personel TNI yang memerlukan penanganan. Keterangan resmi itu menjadi sumber utama untuk memahami dampak bentrokan di Tiro, tanpa menambahkan dugaan mengenai kronologi atau kondisi di luar informasi yang telah disampaikan.Warga yang meninggal dalam bentrok di Pidie diketahui bernama Abzalul Riza. Ia berasal dari Desa Dayah Gampong Baro, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie. Identitas tersebut menghubungkan korban dengan wilayah tempat tinggalnya di Kecamatan Tiro, sementara pemakamannya juga dilaksanakan di kawasan kecamatan yang sama.

Jenazah Abzalul Riza dimakamkan pada Kamis, 5 November 2026, pukul 01.00 WIB. Pemakaman berlangsung di pemakaman umum Desa Dayah Kampong Baru, Kecamatan Tiro. Waktu dan lokasi pemakaman itu menjadi keterangan mengenai prosesi pemakaman warga yang meninggal setelah bentrok tersebut.

Nama desa asal korban tercatat sebagai Desa Dayah Gampong Baro, sedangkan lokasi pemakaman disebut sebagai Desa Dayah Kampong Baru. Keduanya berada di Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie. Keterangan mengenai asal korban dan tempat pemakaman disampaikan secara terpisah, sesuai dengan informasi yang tersedia mengenai identitas serta pemakaman Abzalul Riza.

TNI AD menyampaikan keprihatinan dan belasungkawa atas kematian warga tersebut. Pernyataan itu disampaikan menyusul kabar meninggalnya Abzalul Riza dalam peristiwa bentrok di Pidie. TNI AD juga menyampaikan harapan agar para korban yang mengalami luka dapat segera pulih. Dalam bentrok itu, enam personel TNI dan 13 warga dilaporkan terluka, sementara satu warga meninggal dunia.

Dengan demikian, keterangan mengenai korban meninggal mencakup nama Abzalul Riza, desa asalnya di Kecamatan Tiro, serta pemakaman yang berlangsung pada Kamis dini hari. TNI AD menyampaikan belasungkawa atas kematian warga dan berharap para korban luka segera pulih. Informasi tersebut melengkapi laporan mengenai dampak bentrok di Pidie, yang menimbulkan korban meninggal dan korban luka dari kalangan personel TNI maupun warga.

Ketegangan di Desa Pulo Keunari, Kabupaten Pidie, disebut bermula saat bendera bulan bintang dikibarkan dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Bendera itu dipasang di meunasah desa, lokasi kegiatan keagamaan tersebut berlangsung. Kehadirannya kemudian menjadi persoalan bagi aparat yang berada di lokasi, sehingga suasana acara berubah dan berkembang menjadi bentrokan. Peristiwa ini berlangsung di tengah kegiatan warga yang semula digelar untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, bukan sebagai agenda yang sejak awal dilaporkan berujung pada kekerasan.

Sebelum situasi meningkat, aparat TNI dan Polri disebut telah berupaya menjalin komunikasi dengan panitia penyelenggara. Pembicaraan itu berfokus pada permintaan agar bendera bulan bintang tidak dikibarkan dalam kegiatan tersebut. Aparat juga disebut menempuh pendekatan mediasi untuk mencari jalan keluar tanpa menimbulkan gangguan terhadap acara maupun ketertiban setempat. Namun, komunikasi tersebut belum menghasilkan kesepakatan. Panitia tetap ingin mempertahankan pengibaran bendera, sementara aparat berupaya agar bendera itu tidak dipasang. Perbedaan sikap inilah yang menjadi latar ketegangan sebelum tindakan penertiban dilakukan.

Dalam perkembangan berikutnya, prajurit TNI berupaya menertibkan dan menurunkan bendera bulan bintang dari lokasi kegiatan. Upaya tersebut berlangsung ketika perbedaan pandangan aparat dan panitia belum terselesaikan. Penurunan bendera menjadi titik yang berkaitan dengan meningkatnya ketegangan di meunasah dan sekitarnya. Rangkaian kejadian itu kemudian dilaporkan berujung pada bentrokan yang menimbulkan korban, sebagaimana diberitakan dalam peristiwa di Pidie. Penjelasan mengenai upaya komunikasi sebelumnya penting untuk menggambarkan bahwa ketegangan tidak muncul begitu saja, melainkan didahului pembicaraan yang belum mencapai titik temu. Meski demikian, penyebab rinci dan urutan setiap tindakan perlu merujuk pada keterangan resmi serta hasil penelusuran pihak berwenang, agar kronologi dapat disampaikan secara akurat dan tidak menambah spekulasi mengenai pihak-pihak yang terlibat.

Menurut keterangan TNI Angkatan Darat, keadaan meningkat ketika proses penertiban berlangsung di lokasi bentrokan di Pidie. Sejumlah orang disebut melempar batu dan kayu ke arah personel TNI, sementara beberapa orang lainnya terlihat membawa senjata tajam. Perkembangan tersebut membuat upaya penertiban berubah menjadi situasi yang memerlukan pengamanan lebih ketat. Keterangan itu disampaikan sebagai penjelasan mengenai urutan kejadian dari pihak TNI AD.

Personel, menurut TNI AD, terlebih dahulu berupaya menenangkan dan membubarkan massa dengan perlengkapan pengendalian huru-hara. Langkah tersebut dimaksudkan untuk mengendalikan keadaan tanpa langsung menggunakan amunisi. Namun, pihak TNI menyatakan tindakan anarkis masih berlanjut dan keselamatan personel terancam. Dalam kondisi itu, pengamanan dilakukan secara bertahap, diawali tembakan peringatan menggunakan munisi hampa, kemudian dilanjutkan dengan munisi karet. Rangkaian tindakan tersebut, sebagaimana dijelaskan TNI AD, dilakukan di tengah situasi yang dinilai semakin berisiko.

Setelah massa membubarkan diri, personel menurunkan bendera yang berada di lokasi. Keterangan mengenai tahapan pengamanan ini menjadi bagian dari penjelasan TNI AD tentang peristiwa yang berujung pada korban jiwa dan sejumlah orang terluka. Rincian tersebut menggambarkan versi institusi mengenai tindakan personel saat menghadapi kerumunan. Penjelasan itu perlu dibaca bersama informasi lain yang tersedia mengenai bentrokan, termasuk keterangan pihak terkait dan hasil penelusuran atas kejadian di lapangan.

Dalam keterangan terpisah, personel Kodim 0102/Pidie bersama personel BKO juga melakukan patroli serta komunikasi sosial untuk mengantisipasi rencana kegiatan Syiar Aceh Merdeka di Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya. Kegiatan yang semula direncanakan berlangsung di Desa Udeung Poroh disebut dipindahkan ke makam Abdullah Syafi’i, Desa Cubo, yang masih berada di kecamatan yang sama. Patroli dan komunikasi tersebut merupakan langkah pemantauan serta pendekatan kepada masyarakat, menurut keterangan yang disampaikan. Informasi ini berkaitan dengan upaya antisipasi terhadap rencana kegiatan, tetapi merupakan keterangan terpisah dari urutan pengamanan dalam proses penertiban di Pidie.

Baca juga: Penyerangan Geng Motor di Makassar Tewaskan Satu Mahasiswa | Penyerangan Setelah Kecelakaan di Makassar Tewaskan Satu Mahasiswa | Polda Metro Jaya Kerahkan 3.983 Personel Amankan 47 Aksi di Jakarta

12 kunjungan