Jakarta | Hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dilakukan Kementerian Kesehatan menunjukkan tingginya indikasi masalah kesehatan mental pada anak. Hingga Oktober, sebanyak 71 juta penduduk telah menjalani pemeriksaan. Dari jumlah tersebut, lebih dari 380 ribu anak terindikasi mengalami depresi, sementara hampir 380 ribu lainnya menunjukkan indikasi kecemasan. Angka ini menggambarkan temuan skrining, bukan jumlah anak yang telah memperoleh diagnosis klinis. Karena itu, data tersebut perlu dipahami sebagai sinyal awal yang dapat membantu mengarahkan perhatian pada kebutuhan pemeriksaan dan dukungan lebih lanjut, bukan sebagai kepastian bahwa seluruh anak yang terindikasi mengalami gangguan tertentu.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menyampaikan data itu di Jakarta pada Senin. Menurut temuan pemeriksaan, gejala depresi dan kecemasan pada kelompok anak sekolah serta remaja tercatat lebih dari empat kali lipat dibandingkan pada kelompok dewasa dan lansia. Perbedaan ini menempatkan kondisi kesehatan mental anak dan remaja sebagai hal yang perlu dicermati dalam membaca hasil CKG. Namun, angka indikasi tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebabnya, tingkat keparahan gejala, ataupun dampaknya terhadap kegiatan sehari-hari. Informasi yang tersedia menyoroti besarnya temuan pada tahap skrining, tanpa merinci hasil penilaian klinis masing-masing peserta.
Skrining kesehatan dapat mengidentifikasi gejala yang perlu ditindaklanjuti, tetapi indikasi bukan diagnosis. Anak yang memperoleh hasil skrining dengan indikasi depresi atau kecemasan tetap membutuhkan penilaian sesuai keadaan masing-masing oleh tenaga kesehatan yang berwenang. Pembedaan istilah ini penting agar angka pemeriksaan tidak disalahartikan sebagai jumlah kasus terkonfirmasi. Temuan tersebut juga memberikan gambaran bahwa perhatian terhadap kesejahteraan psikologis perlu menjangkau lingkungan anak, termasuk keluarga dan sekolah, sembari tetap mengacu pada evaluasi profesional. Data CKG yang disampaikan Kemenkes menjadi informasi awal mengenai pola indikasi pada kelompok usia berbeda. Besarnya selisih anak dan kelompok usia lebih tua layak menjadi perhatian, tetapi tidak mengubah batas makna data: hasil yang dilaporkan adalah indikasi dari pemeriksaan, bukan diagnosis depresi atau kecemasan.
Imran menyatakan bahwa separuh gangguan jiwa muncul sebelum seseorang berusia 14 tahun. Pernyataan ini menempatkan masa kanak-kanak sebagai periode ketika persoalan kesehatan mental dapat mulai berkembang. Dalam konteks temuan cek kesehatan gratis, hal tersebut menjadi penting karena anak yang mengalami masalah belum tentu menunjukkan tanda yang langsung terlihat sebagai gangguan. Perubahan dapat berlangsung dalam keseharian, sementara orang di sekitarnya mungkin hanya melihat perilaku yang berbeda atau keluhan yang tampak tidak berkaitan. Dengan demikian, usia dini tidak meniadakan kemungkinan adanya persoalan psikologis. Temuan tentang anak-anak yang terindikasi depresi dan kecemasan juga memperlihatkan bahwa kondisi mental perlu dipahami sebagai bagian dari kesehatan anak, bukan hanya sebagai persoalan yang muncul pada orang dewasa.
Tanda-tanda gangguan pada anak kerap tersembunyi dalam perubahan perilaku. Anak mungkin tampak berbeda dari kebiasaannya, tetapi perubahan itu tidak selalu segera dipahami sebagai petunjuk adanya masalah kesehatan mental. Keluhan fisik juga dapat menjadi bentuk lain yang terlihat, sehingga perhatian orang sekitar tertuju pada kondisi tubuh yang dikeluhkan. Selain itu, penurunan prestasi sekolah dapat muncul sebagai perubahan yang diamati dalam kegiatan belajar. Ketiga hal tersebut—perubahan perilaku, keluhan fisik, dan capaian akademik yang menurun—menunjukkan bahwa tanda awal tidak selalu hadir dalam bentuk yang secara langsung mengungkap keadaan emosional anak. Gejala dapat muncul melalui aspek keseharian yang beragam, dan karena itu tidak selalu tampak jelas sebagai gangguan jiwa.
Gambaran tersebut membantu menjelaskan mengapa persoalan kesehatan mental anak dapat luput dikenali. Ketika tanda muncul sebagai perubahan kebiasaan, keluhan pada tubuh, atau penurunan prestasi, keadaan yang mendasarinya mungkin tidak terlihat secara langsung. Anak juga tidak selalu memperlihatkan tanda dengan cara yang mudah dipahami sebagai depresi atau kecemasan. Pernyataan Imran mengenai kemunculan gangguan sebelum usia 14 tahun memberi konteks usia, sementara bentuk tanda yang tersembunyi menjelaskan mengapa pengenalan kondisi tidak sederhana. Dengan demikian, masalah kesehatan mental pada anak tidak dapat dinilai hanya dari apakah gejalanya tampak jelas di permukaan. Temuan cek kesehatan gratis menjadi latar untuk memahami bahwa indikasi pada anak dapat beriringan dengan perubahan sehari-hari yang tidak serta-merta dianggap sebagai persoalan kesehatan mental.
Di tingkat global, kesehatan jiwa telah menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang besar, bukan hanya persoalan individual. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2022 menyebut gangguan jiwa sebagai penyebab utama disabilitas di seluruh dunia. Dalam konteks tersebut, lebih dari 700 juta orang terdampak depresi dan kecemasan. Angka ini menggambarkan besarnya beban masalah secara internasional, sekaligus menunjukkan bahwa dampaknya dapat meluas pada kemampuan seseorang menjalani aktivitas sehari-hari, belajar, bekerja, dan menjalin hubungan sosial. Gambaran global ini penting untuk memahami urgensi perhatian terhadap kesehatan jiwa, tetapi tidak dapat langsung digunakan untuk menyimpulkan prevalensi ataupun kondisi kesehatan mental penduduk Indonesia.
Imran juga mengutip survei global Ipsos yang melibatkan responden di 31 negara. Dalam survei tersebut, masalah kesehatan jiwa tercatat sebagai kekhawatiran kesehatan masyarakat tertinggi, bahkan melampaui kanker dan stres. Temuan itu memperlihatkan bahwa isu psikologis semakin menonjol dalam persepsi publik lintas negara. Posisi tersebut dapat mencerminkan perhatian yang meningkat terhadap pengalaman depresi, kecemasan, serta kebutuhan akan layanan dukungan. Namun, hasil survei mengenai kekhawatiran masyarakat tidak sama dengan pengukuran diagnosis klinis atau jumlah orang yang mengalami gangguan. Karena itu, data Ipsos sebaiknya dipahami sebagai gambaran sikap dan prioritas responden di negara-negara yang disurvei.
Konteks internasional tersebut memberi latar untuk membaca temuan pemeriksaan kesehatan di Indonesia, tetapi kedua jenis data perlu dibedakan secara cermat. Angka WHO merujuk pada beban global, sementara survei Ipsos mencatat persepsi responden dari 31 negara; keduanya bukan ukuran khusus untuk Indonesia. Temuan nasional mengenai anak yang terindikasi depresi atau kecemasan perlu ditafsirkan berdasarkan cakupan pemeriksaan, instrumen yang digunakan, serta tindak lanjut profesional yang tersedia. Istilah “terindikasi” juga tidak dengan sendirinya berarti telah menerima diagnosis. Pemisahan konteks ini membantu pembaca melihat pentingnya isu kesehatan jiwa tanpa menyamakan statistik global dengan keadaan anak-anak di Indonesia, atau menarik kesimpulan yang melampaui data lokal yang dilaporkan.
Imran menilai perkembangan teknologi yang berlangsung tanpa batas membawa dua sisi bagi generasi muda. Di satu sisi, internet memudahkan akses terhadap informasi, pembelajaran, komunikasi, dan layanan yang sebelumnya sulit dijangkau. Di sisi lain, penggunaan ruang digital yang intensif dapat menghadirkan tekanan dan pengalaman negatif yang perlu diperhatikan sebagai bagian dari kesehatan jiwa anak dan remaja.
Konteks Indonesia menunjukkan luasnya keterhubungan tersebut. Laporan APJII 2026 mencatat penetrasi internet telah melampaui 80 persen populasi, dengan generasi muda menjadi kelompok yang dominan dalam penggunaan internet. Hampir seluruh pelajar SMA dan mahasiswa juga telah terkoneksi dengan dunia maya. Angka ini menggambarkan bahwa ruang digital bukan lagi lingkungan terpisah dari keseharian, melainkan bagian dari cara anak dan remaja belajar, berinteraksi, mencari hiburan, dan membangun relasi.
Keterhubungan yang luas sekaligus membuat pengalaman berisiko relevan untuk dipahami. Data UNICEF yang disebut dalam sumber menyatakan empat dari sepuluh anak pernah mengalami pengalaman online yang menakutkan. Sementara itu, hampir setengah anak pernah menjadi korban perundungan siber.
Baca juga: Kapuskes TNI Buka Bakti Sosial Kesehatan HUT Ke-81 TNI, Layani Masyarakat Serentak dan Tersebar Diseluruh Indonesia | Kenaikan Kasus Influenza di Surabaya dan Imbauan Kesehatan | Transformasi Pelayanan BPJS Kesehatan Menuju Kualitas yang Lebih Baik






