Sosial  

Pesan Musisi soal Karhutla Mengemuka di Panggung Synchronize Fest 2026

Pesan Musisi soal Karhutla Mengemuka di Panggung Synchronize Fest 2026

Jakarta | Sejumlah musisi memanfaatkan penampilan mereka di Synchronize Fest 2026 untuk mengangkat persoalan kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan, Sumatera, dan Papua. Di sela pertunjukan, pesan mengenai karhutla disampaikan kepada penonton sebagai pengingat bahwa persoalan lingkungan tersebut juga menyangkut keselamatan warga dan keberlangsungan wilayah terdampak. Pesan-pesan itu hadir dalam bentuk yang beragam, mengikuti cara masing-masing musisi menyampaikan kepedulian. Kehadiran isu ini di panggung festival membuat perhatian publik tertuju bukan hanya pada musik, tetapi juga pada keadaan masyarakat yang menghadapi dampak kebakaran serta pentingnya mengikuti perkembangan di lapangan.

Beberapa musisi menyampaikan keprihatinan terhadap warga yang terdampak asap maupun kerusakan lingkungan, sekaligus mengajak penonton untuk terus mencari informasi tentang situasi terkini. Ajakan tersebut menekankan bahwa perhatian terhadap karhutla tidak seharusnya berhenti ketika pertunjukan selesai. Kondisi di setiap wilayah dapat berbeda, sehingga perkembangan dan kebutuhan warga perlu dipantau melalui sumber informasi yang dapat dipercaya. Dalam sejumlah penampilan, pesan juga disertai doa bagi masyarakat dan wilayah yang menghadapi kebakaran. Ungkapan solidaritas itu memberi ruang bagi penonton untuk menunjukkan kepedulian, tanpa mengaburkan kenyataan bahwa penanganan krisis memerlukan tindakan nyata dan perhatian berkelanjutan dari berbagai pihak.

Di samping keprihatinan dan doa, ada pula seruan agar pihak yang bertanggung jawab atas pembakaran hutan diproses dan diadili. Desakan tersebut menyoroti pentingnya penegakan hukum, bukan sekadar respons sesaat ketika kebakaran menjadi perhatian. Pesan yang muncul di festival tidak dapat dianggap mewakili seluruh musisi atau semua penampilan; masing-masing menyampaikan sikap dan bentuk kepedulian yang berbeda. Namun, ketika isu karhutla dibawa ke hadapan penonton dalam acara musik, ruang budaya itu turut menjadi tempat untuk membicarakan dampak kebakaran dan akuntabilitas. Bagi audiens, pesan-pesan tersebut dapat menjadi dorongan untuk tetap mengikuti kabar dari Kalimantan, Sumatera, dan Papua, serta memberi perhatian pada upaya perlindungan warga dan lingkungan.

Di tengah perhatian terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Iga Massardi menyuarakan keresahannya dari atas panggung Synchronize Fest 2026. Ia menyinggung kebakaran yang melanda Kalimantan dan Sumatra, sekaligus mengingatkan penonton bahwa dampaknya tidak berhenti pada kerusakan kawasan hutan. Asap dan kualitas udara yang memburuk turut dirasakan masyarakat, termasuk mereka yang tinggal jauh dari titik api. Pesan tersebut disampaikan sebagai respons terhadap situasi lingkungan yang mengundang keprihatinan.

Seruan Iga diperkuat oleh visual di videotron panggung yang memperlihatkan kepungan api dan asap kebakaran. Gambar itu menghadirkan gambaran langsung mengenai ancaman yang dihadapi wilayah terdampak, sehingga pesan tentang karhutla terasa lebih nyata bagi penonton. Iga mengaku merasakan sesak napas akibat dampak isu lingkungan tersebut. Ia juga berharap para pelaku pembakaran hutan segera diadili. Pernyataannya menekankan bahwa kerusakan yang terjadi perlu diikuti pertanggungjawaban, bukan sekadar menjadi berita yang berlalu setelah perhatian publik berpindah.

Respons berbeda disampaikan Tria Ramadhani ketika tampil di Dynamic Stage. Ia mengajak penonton untuk berdoa bagi warga dan wilayah yang terdampak kebakaran. Ajakan itu menempatkan masyarakat yang menghadapi ancaman api dan asap sebagai perhatian utama, sekaligus menjadi bentuk solidaritas di tengah suasana festival. Tria berharap kebakaran segera berakhir dan daerah-daerah yang terkena dampak dapat pulih. Harapan tersebut mencakup keselamatan warga serta pemulihan lingkungan yang rusak akibat kebakaran.

Di samping ajakan berdoa, Tria juga menyampaikan kritik keras kepada pihak-pihak yang sengaja membakar hutan. Ia menyerukan agar mereka ikut “hilang”, dalam maksud agar pelaku tidak lolos dari pertanggungjawaban atas tindakannya. Ucapan itu mencerminkan kemarahan terhadap praktik pembakaran yang menimbulkan kerugian luas bagi manusia maupun alam. Dua respons di panggung tersebut menunjukkan cara berbeda untuk mengangkat isu yang sama: Iga menyoroti keresahan dan penegakan hukum, sementara Tria mengajak publik menunjukkan kepedulian kepada warga terdampak sekaligus menuntut pertanggungjawaban pelaku. Kehadiran pesan-pesan itu membuat karhutla menjadi bagian penting dari percakapan festival, di tengah musik dan pertemuan para penonton.

Di sela-sela lagu yang dibawakan di Forest Stage, sebuah band asal Bogor mengarahkan perhatian penonton pada kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Pesan itu hadir melalui seruan lisan maupun visual di panggung, termasuk tulisan “dont lose focus on karhutla”. Pengingat tersebut menempatkan bencana yang terjadi jauh dari lokasi festival sebagai persoalan yang tetap perlu diperhatikan bersama, bukan sekadar berita yang lewat di tengah rangkaian hiburan.

Band itu juga mengaitkan kabut asap dengan dampak yang melampaui kerusakan lingkungan. Asap dapat mengganggu kesehatan masyarakat, sementara aktivitas sehari-hari warga di wilayah terdampak ikut terpengaruh. Dengan membawa isu tersebut di lagu-lagu, mereka mengingatkan bahwa karhutla mempunyai konsekuensi sosial yang luas. Pesan itu disampaikan tanpa mengaburkan pengalaman masyarakat yang tinggal di daerah terdampak, sekaligus mengajak pengunjung untuk tidak kehilangan perhatian ketika sorotan panggung berpindah ke penampil berikutnya.

Ajakan serupa disampaikan Melly Goeslaw. Ia mengajak para pengunjung untuk berdoa bagi daerah-daerah yang dilanda karhutla, dengan perhatian khusus kepada Kalimantan. Seruan tersebut memberi ruang bagi empati di tengah suasana festival, dan mengingatkan bahwa dukungan dapat dimulai dengan mengingat warga yang menghadapi dampak kebakaran serta kabut asap.

Pada pembukaan festival, Cholil Mahmud dari Efek Rumah Kaca juga meminta penonton mendoakan para korban dan warga yang terdampak. Ia menyebut situasi yang terjadi sangat parah, lalu mengajak pengunjung mengikuti perkembangan dan tetap peduli. Pesan itu menegaskan pentingnya perhatian berkelanjutan, bukan hanya respons sesaat ketika isu sedang ramai dibicarakan. Di panggung yang sama, Efek Rumah Kaca mengenang aktivis hak asasi manusia Munir Said Thalib melalui lagu “Di Udara” dan membawakan “Mosi Tidak Percaya”. Kehadiran lagu-lagu tersebut memperluas rangkaian pesan panggung, dari kepedulian terhadap bencana hingga refleksi mengenai isu kemanusiaan dan kepercayaan publik. Berbagai seruan ini menunjukkan bagaimana penampilan musik dapat menjadi ruang untuk menyampaikan solidaritas, mengajak publik mengikuti keadaan, dan menjaga perhatian terhadap persoalan yang berdampak pada banyak orang.Penampilan Polka Wars menjadi penutup rangkaian hari pertama Synchronize Fest 2026 di Forest Stage, Gambir Expo Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (16/10/2026). Di hadapan penonton, Dega, pemain bas grup indie asal Jakarta tersebut, menyampaikan pengingat mengenai keadaan Indonesia dan kondisi hutannya. Pesan itu mengarahkan perhatian kembali pada situasi yang, menurut Dega, patut menjadi keprihatinan bersama.

Dega mengingatkan bahwa Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Ia juga menyoroti keadaan hutan di Indonesia yang memprihatinkan. Pernyataan itu disampaikan di sela penampilan Polka Wars, membawa persoalan lingkungan ke dalam percakapan yang hadir di panggung festival. Inti pesannya sederhana: keadaan negara dan hutannya tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang baik-baik saja.

Melalui pengingat tersebut, Dega menegaskan bahwa kondisi hutan Indonesia layak mendapat perhatian. Ia tidak menyampaikan keadaan itu sebagai hal yang terpisah dari kondisi Indonesia secara keseluruhan, melainkan sebagai bagian dari keadaan yang sedang mengkhawatirkan. Pesan tersebut hadir pada penampilan grupnya di panggung festival, tanpa mengubah pokok yang disampaikan: Indonesia sedang tidak baik-baik saja dan hutannya berada dalam kondisi memprihatinkan.

Dengan demikian, momen Polka Wars di hari pertama festival ditutup oleh pernyataan yang menempatkan perhatian pada keadaan Indonesia dan hutannya.

Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tim Penyuluh Mabes TNI Sosialisasikan Pencegahan Karhutla kepada Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama di Samarinda | Babinsa Karang Asam Ilir Bersama Kelurahan Bagikan 350 Masker, Cegah Dampak Polusi Udara Akibat Karhutla