Bisnis  

IHSG Tertekan 10,76% pada Sesi I, Hanya 15 Saham Berakhir Menguat

IHSG Tertekan 10,76% pada Sesi I, Hanya 15 Saham Berakhir Menguat

Jakarta | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan tajam pada perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026. Pada penutupan sesi I, indeks berada di level 5.233,00, terkoreksi 630,78 poin atau 10,76% dibandingkan posisi penutupan sebelumnya. Penurunan dua digit tersebut menunjukkan pelemahan yang telah berlangsung sejak awal perdagangan dan masih bertahan hingga jeda siang. Pergerakan ini menjadi gambaran kuatnya tekanan jual di pasar saham pada paruh pertama hari itu, meskipun data yang tersedia belum menjelaskan penyebab spesifik di balik koreksi indeks.

IHSG dibuka pada level 5.393,92 pukul 09.00 WIB, yang berarti sudah melemah 8,01% sejak awal sesi. Setelah pembukaan, indeks bergerak di rentang yang lebar. IHSG sempat mencatat level tertinggi 5.404,51, tetapi kemudian turun hingga menyentuh titik terendah 5.193,22. Rentang titik tertinggi dan terendah itu memperlihatkan perubahan yang cukup besar selama perdagangan pagi. Indeks akhirnya berada di 5.233,00 pada penutupan sesi I, atau masih dekat dengan level terendah intrasesi. Dengan demikian, upaya bergerak lebih tinggi tidak cukup untuk menghapus tekanan yang mendominasi perdagangan.

Aktivitas transaksi hingga pukul 11.53 WIB tercatat mencapai volume 380,08 juta lot. Nilai transaksi pada waktu tersebut sebesar Rp16.508,81 miliar, setara sekitar Rp16,51 triliun. Angka tersebut menunjukkan perdagangan berlangsung dengan nilai transaksi yang besar di tengah koreksi tajam IHSG. Namun, data volume dan nilai transaksi itu merupakan catatan hingga pukul 11.53 WIB, sementara level indeks 5.233,00 merujuk pada penutupan sesi I. Karena itu, kedua data tersebut menggambarkan periode yang berdekatan, tetapi waktu pencatatannya perlu dibedakan. Secara keseluruhan, pembukaan yang sudah melemah, penurunan menuju titik terendah, dan penutupan sesi I di level rendah menegaskan beratnya tekanan pasar pada Jumat pagi.

Tekanan di Bursa Efek Indonesia pada sesi pertama tercermin jelas dari jumlah saham yang bergerak turun dibandingkan saham yang menguat. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, hanya 15 saham berakhir menguat, sementara 809 saham melemah dan 139 saham tidak mengalami perubahan. Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa pelemahan tidak terbatas pada beberapa emiten saja, melainkan meluas ke sebagian besar saham di pasar. Ketimpangan saham yang naik dan turun menjadi gambaran penting untuk membaca kondisi perdagangan hingga siang hari. Ketika jumlah saham melemah jauh lebih besar, ruang bagi kenaikan indeks ikut terbatas, terutama saat sejumlah sektor utama mencatat koreksi tajam.

Di sektor yang disebut dalam sumber sebagai penyumbang tekanan terhadap IHSG hingga siang hari, sektor infrastruktur mengalami penurunan sekitar 14%. Koreksi tersebut merupakan yang paling dalam di tiga sektor yang dirinci. Sektor material dasar juga anjlok sekitar 13%, sedangkan sektor energi turun sekitar 11%. Besarnya penurunan pada ketiga sektor itu memperlihatkan bahwa tekanan berlangsung pada kelompok usaha yang berbeda, bukan hanya pada satu bidang tertentu. Angka-angka tersebut menggambarkan pelemahan sektoral yang terjadi bersamaan dengan dominasi saham-saham yang berada di zona merah. Dengan demikian, kondisi pasar pada sesi pertama menunjukkan penurunan yang luas sekaligus cukup dalam di beberapa sektor.

Data jumlah saham dan kinerja sektor memberi konteks terhadap penurunan IHSG sebesar 10,76% pada sesi pertama. Hanya 15 saham menguat di tengah 809 saham yang melemah, sementara 139 saham tidak bergerak. Pada saat yang sama, infrastruktur turun sekitar 14%, material dasar merosot 13%, dan energi melemah 11%. Kombinasi angka tersebut menunjukkan bahwa mayoritas saham berada dalam tekanan, disertai koreksi besar pada sejumlah sektor yang dicatat sebagai penyebab pelemahan indeks hingga siang hari. Gambaran ini merangkum luasnya pergerakan negatif pada perdagangan tersebut, tanpa mengabaikan saham yang stagnan maupun saham yang masih mampu mencatat kenaikan di tengah kondisi pasar yang didominasi penurunan.Dalam sesi I perdagangan ketika IHSG tertekan tajam sebesar 10,76%, perhatian investor tertuju pada saham berkapitalisasi besar yang menjadi pemberat indeks. Kelompok ini mencakup PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), serta PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM). Kehadiran emiten-emiten tersebut dalam daftar saham penekan menunjukkan bahwa tekanan pada sejumlah nama besar ikut membebani pergerakan IHSG pada paruh pertama perdagangan. Namun, informasi yang tersedia tidak merinci nilai ataupun persentase kontribusi masing-masing saham terhadap penurunan indeks. Karena itu, peran mereka perlu dijelaskan secara kualitatif.

Daftar tersebut perlu dibedakan dari saham-saham yang disebut menekan koreksi, yakni PT Bank of India Indonesia Tbk. (BSWD), PT Indoritel Makmur Internasional Tbk. (DNET), PT Guna Timur Raya Tbk. (TRUK), PT Asuransi Bina Dana Arta Tbk. (ABDA), dan PT Charnic Capital Tbk. (NICK). Penyebutan kelompok ini menandakan bahwa pergerakan saham-saham tersebut berperan meredam tekanan atau membatasi koreksi indeks dalam sesi perdagangan. Dengan demikian, keduanya memiliki peran yang berlawanan: kelompok pertama menjadi pemberat IHSG, sedangkan kelompok kedua disebut menahan koreksi. Pembedaan ini membantu pembaca memahami bahwa pelemahan indeks merupakan hasil gabungan pergerakan berbagai saham, bukan perubahan seragam di seluruh emiten.

Meski demikian, sebutan “menahan koreksi” tidak berarti saham-saham tersebut mampu membalikkan arah pasar atau membuat IHSG berakhir menguat. Indeks tetap mengalami penurunan tajam, sementara jumlah saham yang menguat secara keseluruhan terbatas. Tanpa data kontribusi terperinci, tidak tepat menyatakan saham mana yang memberi dampak paling besar atau mengukur besarnya pengaruh setiap nama. Informasi yang dapat disampaikan terbatas pada klasifikasi peran yang disebutkan: BBCA, BBRI, BMRI, AMMN, dan TLKM tercatat sebagai pemberat, sedangkan BSWD, DNET, TRUK, ABDA, dan NICK termasuk saham yang menekan koreksi. Pemisahan ini memberi konteks tentang dinamika indeks tanpa mengada-adakan angka maupun hubungan sebab-akibat yang tidak tersedia.

Salah satu sentimen yang membebani pasar adalah rencana MSCI untuk mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Namun, rencana tersebut masih berada dalam tahap konsultasi dan belum menjadi keputusan final. Karena itu, status Indonesia belum berubah, sementara pelaku pasar dan pihak terkait masih memiliki kesempatan menyampaikan tanggapan hingga 30 April 2027. MSCI dijadwalkan mengumumkan keputusan akhir paling lambat 30 Juni 2027. Selama proses konsultasi berlangsung, penyedia indeks tersebut juga dapat menyampaikan pembaruan sementara apabila diperlukan.

Dalam penilaiannya, MSCI mengangkat sejumlah kekhawatiran yang berkaitan dengan investabilitas pasar Indonesia. Hal-hal yang disorot mencakup transparansi struktur kepemilikan saham dan dugaan adanya perdagangan terkoordinasi. MSCI juga menilai belum terlihat penegakan aturan yang memberikan dampak berarti untuk menjawab persoalan tersebut. Isu-isu ini menjadi bagian dari pertimbangan atas kelayakan pasar bagi investor global dan akses mereka terhadap saham domestik. Meski demikian, penilaian tersebut perlu dipahami sebagai dasar konsultasi, bukan sebagai kesimpulan bahwa perubahan klasifikasi pasti akan diterapkan.

Selama konsultasi, MSCI membekukan sejumlah perubahan indeks untuk saham Indonesia. MSCI tidak akan menaikkan foreign inclusion factor (FIF) ataupun number of shares (NOS), menambahkan saham baru ke MSCI Indonesia Investable Market Index, maupun menaikkan saham ke segmen indeks yang lebih tinggi.

Baca juga: De Red FC Tertekan di Pertandingan Perdana