Rupiah Tertekan Saat Won Memimpin Penguatan Mata Uang Asia

Rupiah Tertekan Saat Won Memimpin Penguatan Mata Uang Asia

Jakarta | Pergerakan mata uang Asia pada awal perdagangan Senin, 26 Oktober 2026, berlangsung beragam. Pelemahan dolar Amerika Serikat memberi ruang bagi enam dari sepuluh mata uang kawasan untuk bergerak menguat. Namun, rupiah tidak ikut memanfaatkan momentum tersebut dan justru berada di jajaran mata uang yang melemah. Perbedaan arah ini menempatkan rupiah dalam tekanan ketika sebagian mata uang regional mencatat kenaikan terhadap dolar AS.

Berdasarkan data Refinitiv pada pukul 09.41 WIB, won Korea Selatan memimpin penguatan dengan kenaikan 0,18% ke KRW1.321,21 per dolar AS. Yen Jepang menyusul, naik 0,13% ke JPY156,65 per dolar AS. Dolar Taiwan juga menguat 0,05%. Sementara itu, yuan China, dolar Singapura, dan ringgit Malaysia masing-masing mencatat kenaikan 0,02%. Penguatan pada keenam mata uang tersebut terjadi di tengah pelemahan dolar AS, yang biasanya dapat memberi dukungan bagi aset dan mata uang di luar Amerika Serikat.

Di sisi lain, peso Filipina menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan, turun 0,33%. Rupiah terkoreksi 0,30% ke posisi Rp18.095 per dolar AS. Dengan pergerakan tersebut, rupiah semakin menjauh dari level psikologis Rp18.000 per dolar AS, yang menjadi perhatian pelaku pasar. Baht Thailand turut melemah 0,09%, sedangkan dong Vietnam turun 0,04%. Meski pelemahan dolar AS menjadi latar yang mendukung penguatan sejumlah mata uang Asia, respons pasar tidak seragam. Rupiah dan beberapa mata uang lain tetap tertekan pada sesi pagi, sementara won dan yen mencatat kenaikan terbesar di mata uang yang menguat. Data pada pukul tersebut memberikan gambaran awal perdagangan, dan posisi mata uang dapat berubah seiring perkembangan transaksi berikutnya.

Indeks dolar AS (DXY) melemah pada awal pekan, turun 0,19% ke 101,617. Pergerakan ini menunjukkan bahwa sebagian dorongan yang sebelumnya menopang mata uang AS mulai berkurang. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah AS juga turun, sehingga daya tarik dolar dari sisi selisih imbal hasil ikut mereda. Kombinasi perubahan tersebut memberi ruang bagi sejumlah mata uang lain untuk bergerak lebih kuat, meskipun arah pasar tetap dipengaruhi perkembangan ekonomi dan geopolitik.

Tekanan terhadap dolar berlangsung bersamaan dengan koreksi harga minyak. Minyak mentah Brent merosot lebih dari 1% ke sekitar US$115 per barel pada awal pekan, setelah sempat mencapai level tertinggi dalam enam bulan pada pekan sebelumnya. Harga energi yang tinggi sebelumnya menjadi salah satu faktor yang menopang dolar, lain karena mendorong kekhawatiran bahwa inflasi dapat bertahan lebih lama. Kondisi tersebut juga memperkuat perhatian pelaku pasar terhadap kemungkinan kebijakan suku bunga AS tetap ketat.

Perubahan sentimen terkait risiko regional turut memengaruhi pergerakan minyak. Laporan menyebut mediator Qatar berada di Teheran pada Minggu untuk mengupayakan peredaan ketegangan regional bersama AS. Kabar mengenai upaya diplomatik ini memunculkan harapan bahwa konflik dapat mereda, sehingga risiko gangguan pasokan energi berkurang. Harapan tersebut ikut mengurangi sebagian premi risiko yang sebelumnya tercermin dalam harga minyak, meski belum berarti ketidakpastian geopolitik telah hilang sepenuhnya.

Ketika harga minyak turun, tekanan biaya energi dan kekhawatiran inflasi dapat sedikit berkurang. Dampaknya, dukungan yang sebelumnya diterima dolar dari lonjakan harga energi menjadi lebih terbatas. Penurunan imbal hasil obligasi AS memperkuat perubahan itu, karena investor memperoleh insentif yang lebih kecil untuk mempertahankan aset berdenominasi dolar. Namun, pergerakan harian ini belum cukup untuk memastikan perubahan tren jangka panjang. Pasar masih mencermati perkembangan diplomatik, harga komoditas, data ekonomi, serta arah kebijakan bank sentral AS. Bagi mata uang Asia, pelemahan dolar dapat menjadi faktor pendukung, tetapi dampaknya berbeda-beda sesuai kondisi domestik masing-masing.Pergerakan imbal hasil Treasury Amerika Serikat menjadi salah satu perhatian pasar ketika pelaku valuta asing menilai arah dolar. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di sekitar 4,974%, sedangkan tenor 30 tahun tercatat sekitar 5,299%. Kedua acuan tersebut berada dekat dengan level terendah dalam sebulan. Posisi ini menandai penurunan imbal hasil dari tingkat yang lebih tinggi sebelumnya, sekaligus menjadi perkembangan penting bagi pasar mata uang.

Ray Attrill, kepala strategi valuta National Australia Bank, menilai pasar obligasi AS untuk sementara menjadi penggerak utama kinerja dolar secara luas. Pandangan tersebut menempatkan perubahan imbal hasil Treasury sebagai faktor yang relevan dalam membaca pergerakan mata uang AS, bukan sekadar sebagai perkembangan terpisah di pasar obligasi. Dengan imbal hasil tenor panjang mendekati titik terendah bulanan, perhatian investor tertuju pada dampaknya terhadap daya tarik relatif aset berdenominasi dolar.

Menurut Attrill, penurunan imbal hasil Treasury mempersempit selisih imbal hasil AS dengan sejumlah negara maju. Ketika perbedaan imbal hasil itu menyusut, sebagian keunggulan yang sebelumnya mendukung daya tarik dolar ikut berkurang. Kondisi tersebut membuat tekanan penguatan dolar mereda, sesuai hubungan yang ia sampaikan imbal hasil obligasi AS dan kinerja mata uang tersebut. Perubahan ini tidak berarti dolar kehilangan seluruh daya tariknya, melainkan menunjukkan bahwa salah satu faktor pendukungnya menjadi kurang kuat.

Angka 4,974% pada tenor 10 tahun dan 5,299% pada tenor 30 tahun memberikan gambaran tentang posisi imbal hasil saat ini, sementara kedekatannya dengan level terendah sebulan memperjelas konteks pergerakan tersebut. Bagi pasar valuta, penyempitan selisih dengan negara maju menjadi saluran yang menghubungkan penurunan imbal hasil AS dengan berkurangnya dukungan bagi dolar. Komentar Attrill menggambarkan kondisi sementara: pasar obligasi AS menjadi penggerak utama kinerja dolar secara luas, dan arah imbal hasilnya ikut menentukan seberapa besar tekanan penguatan mata uang itu bertahan.

Arah mata uang global pada pekan ini diperkirakan banyak ditentukan oleh rangkaian keputusan bank sentral utama. Federal Reserve (The Fed), Bank Sentral Eropa (ECB), dan Bank of Japan (BOJ) diperkirakan mempertahankan suku bunga, sehingga keputusan mereka sendiri mungkin tidak mengejutkan pasar. Pelaku pasar juga masih memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga oleh Bank of Canada (BoC) dan Reserve Bank of New Zealand (RBNZ), meskipun besarnya peluang tersebut tetap bergantung pada penilaian terbaru atas inflasi dan aktivitas ekonomi.

Dengan sebagian besar skenario suku bunga telah tercermin dalam harga aset, perhatian investor kemungkinan beralih ke petunjuk mengenai arah kebijakan berikutnya. Pernyataan resmi, proyeksi ekonomi, serta konferensi pers para pejabat dapat membantu pasar menilai kapan perubahan kebijakan mungkin terjadi dan seberapa besar ruang yang dimiliki bank sentral. Isyarat mengenai pertemuan mendatang pun berpotensi memicu pergerakan mata uang, terutama jika berbeda dari ekspektasi yang telah terbentuk.

Chris Weston, kepala riset Pepperstone, menilai panduan ke depan dapat lebih penting daripada keputusan suku bunga itu sendiri. Pandangan tersebut menyoroti pentingnya bahasa yang digunakan bank sentral dalam menjelaskan risiko inflasi, prospek pertumbuhan, dan kondisi pasar tenaga kerja. Perubahan kecil dalam penekanan atau nada komunikasi dapat menggeser perkiraan investor terhadap jalur suku bunga, lalu memengaruhi permintaan terhadap dolar dan mata uang lainnya.

Selain keputusan bank sentral, pasar menanti sejumlah data Amerika Serikat, yakni kepercayaan konsumen Oktober, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), serta klaim pengangguran.

Baca juga: Penguatan Kerja Sama Finansial Bank BJB dan MNC Finance

45 kunjungan