Produksi Olahan Menguat, Indonesia Kuasai 60 Persen Pasokan Nikel Dunia

Produksi Olahan Menguat, Indonesia Kuasai 60 Persen Pasokan Nikel Dunia

Jakarta | Indonesia semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat utama industri nikel dunia. Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) menyebut kapasitas pengolahan domestik yang terus meningkat telah membawa Indonesia menguasai sekitar 60 persen pasokan nikel dunia. Capaian ini menunjukkan perubahan penting dalam struktur industri nasional, dari sebelumnya lebih banyak mengekspor bahan mentah menjadi negara yang mampu menghasilkan beragam produk nikel olahan untuk memenuhi kebutuhan rantai pasok global.

Berdasarkan data FINI, total produksi nikel nasional pada 2025 mencapai 2,5 juta ton. Produksi tersebut tidak seluruhnya berupa nikel murni, melainkan produk intermediate atau setengah jadi yang menjadi bahan baku penting bagi industri lanjutan, termasuk manufaktur baja tahan karat dan komponen baterai kendaraan listrik. Peningkatan volume ini turut mencerminkan bertambahnya fasilitas pemurnian serta pengolahan mineral di dalam negeri.

Dari keseluruhan produksi tersebut, sekitar 2,05 juta ton dihasilkan dalam bentuk nickel pig iron (NPI), ferronickel (FeNi), dan matte. Ketiganya merupakan produk yang banyak digunakan dalam industri baja tahan karat dan menjadi bagian penting dari ekspor olahan berbasis nikel Indonesia. Sementara itu, sekitar 450 ribu ton lainnya diproduksi sebagai mixed hydroxide precipitate (MHP) dan nikel sulfat. Kedua produk tersebut memiliki peran strategis dalam ekosistem baterai, khususnya sebagai bahan untuk menghasilkan material katoda.

Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah menyampaikan capaian tersebut pada 14 Oktober 2026. Menurut data yang dipaparkan, dominasi Indonesia dalam pasokan nikel global tidak hanya ditopang oleh besarnya sumber daya alam, tetapi juga oleh investasi pada fasilitas pengolahan dan pemurnian. Perkembangan itu memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai industri nikel, sekaligus membuka peluang untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. Dengan kapasitas produk olahan yang semakin besar, Indonesia berpotensi memainkan peran lebih menentukan dalam memasok kebutuhan industri baja dan baterai dunia.

Tingginya produksi nikel olahan nasional didukung oleh beroperasinya fasilitas pemurnian dan pemrosesan atau smelter di dalam negeri. Fasilitas tersebut menggunakan dua pendekatan teknologi, yaitu pirometalurgi dan hidrometalurgi. Kehadiran keduanya memperkuat kemampuan Indonesia untuk mengolah bahan baku nikel menjadi produk yang memiliki nilai tambah sebelum dipasok ke pasar. Dengan demikian, peningkatan produksi tidak hanya bergantung pada ketersediaan sumber daya, tetapi juga pada kapasitas pengolahan yang semakin besar dan terintegrasi di dalam negeri.

Kapasitas produksi fasilitas pemurnian nikel di Indonesia telah mencapai 2,7 juta ton nikel pada 2025. Kapasitas ini menunjukkan besarnya skala pengolahan nasional sekaligus mendukung ketersediaan berbagai produk nikel olahan. Melalui fasilitas yang menerapkan pirometalurgi, pengolahan menghasilkan produk berbasis nikel dari proses pemurnian bersuhu tinggi. Sementara itu, fasilitas dengan teknologi hidrometalurgi menghasilkan produk olahan melalui proses pemurnian berbasis larutan. Kedua jalur tersebut memperluas kemampuan industri dalam menghasilkan produk nikel olahan sesuai kebutuhan pengolahan lanjutan.

Besarnya kapasitas tersebut juga memperlihatkan bahwa pengolahan nikel di Indonesia telah bergerak dari sekadar penyediaan bahan mentah menuju produksi produk olahan. Produk-produk yang dihasilkan dari fasilitas pemurnian menjadi bagian penting dalam rantai pasok nikel, karena dapat disalurkan untuk memenuhi kebutuhan pasar setelah melalui proses pengolahan di dalam negeri. Perkembangan smelter pirometalurgi dan hidrometalurgi menjadi dasar penguatan posisi tersebut. Menurut FINI, peningkatan pengolahan domestik inilah yang menempatkan Indonesia sebagai pemasok nikel terbesar dunia. Posisi itu ditopang oleh kapasitas pemurnian yang besar dan kemampuan menghasilkan nikel olahan secara berkelanjutan.

Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) memperkirakan produksi nikel olahan nasional pada 2026 mengalami koreksi dibandingkan capaian tahun sebelumnya. Produksi diproyeksikan turun sekitar 3,5 hingga 4 persen dari tingkat produksi 2025 yang mencapai 2,5 juta ton nikel. Perkiraan tersebut menunjukkan adanya pelemahan output dalam jangka pendek, meskipun Indonesia tetap mempertahankan posisi penting dalam rantai pasok nikel olahan global.

Penurunan pada 2026 tidak serta-merta mencerminkan berkurangnya kapasitas industri secara permanen. Perubahan tersebut lebih berkaitan dengan dinamika operasional fasilitas pengolahan, penyesuaian produksi, serta waktu yang dibutuhkan sejumlah proyek baru untuk mencapai tingkat operasi optimal. Karena itu, angka produksi aktual perlu dibedakan dari kapasitas terpasang atau potensi produksi yang dapat dicapai setelah seluruh fasilitas beroperasi secara penuh.

FINI memperkirakan arah pertumbuhan kembali berubah pada 2027. Peningkatan kapasitas produksi diperkirakan berlangsung seiring masuknya proyek-proyek smelter hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL) ke tahap komisioning dan operasi penuh. Teknologi HPAL berperan penting dalam mengolah bijih nikel kadar rendah menjadi produk yang dibutuhkan untuk rantai pasok bahan baku baterai, terutama mixed hydroxide precipitate (MHP).

Dengan bertambahnya fasilitas tersebut, kapasitas produksi MHP di Indonesia diperkirakan melampaui 900 ribu ton nikel pada akhir 2027. Proyeksi ini menggambarkan ekspansi kemampuan industri, bukan berarti produksi pada 2026 akan meningkat. Tahun 2026 diperkirakan menjadi periode penurunan output dibandingkan 2025, sedangkan 2027 menjadi fase pemulihan dan perluasan kapasitas. Perbedaan produksi tahunan dan kapasitas maksimum penting diperhatikan untuk memahami perkembangan industri secara lebih akurat.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menerapkan pendekatan hati-hati dalam menetapkan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) pertambangan nikel untuk 2026. Pemerintah membuka peluang penambahan produksi, tetapi kebijakan tersebut tidak dimaksudkan untuk mendorong kenaikan volume secara besar-besaran. Tambahan kuota hanya dapat diberikan apabila terdapat kebutuhan nyata dari smelter yang masih mengalami kekurangan pasokan bijih.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, Tri Winarno, menyampaikan bahwa RKAB nikel 2026 tetap berada pada kisaran 260 hingga 270 juta ton per tahun. Kisaran tersebut menunjukkan upaya pemerintah menjaga produksi agar selaras dengan kemampuan penyerapan industri pengolahan dan pemurnian di dalam negeri. Dengan demikian, peningkatan kegiatan tambang tidak semata-mata didasarkan pada kapasitas produksi perusahaan, melainkan juga pada kebutuhan rantai pasok hilirisasi.

Revisi kuota akan diproses secara selektif dengan mempertimbangkan kebutuhan aktual setiap pabrik pemurnian. Evaluasi mencakup kapasitas operasi smelter, ketersediaan pasokan yang telah dimiliki, serta karakteristik bijih yang dibutuhkan, termasuk limonit dan saprolit sesuai spesifikasi teknologi pengolahan. Perusahaan tambang harus menunjukkan dasar kebutuhan yang jelas sebelum memperoleh persetujuan tambahan produksi. Batas pengajuan revisi atau penambahan kuota ditetapkan hingga 31 Juli 2026.

Pembatasan volume diperlukan untuk mencegah terjadinya oversupply yang berpotensi menekan harga nikel. Jika pasokan bijih melampaui kebutuhan smelter, tekanan terhadap harga dapat memengaruhi keberlanjutan usaha tambang, pengolahan, dan pemurnian. Karena itu, setiap permohonan akan dievaluasi secara menyeluruh untuk menjaga keseimbangan kapasitas tambang, kebutuhan smelter, dan sasaran hilirisasi nasional. Mekanisme ini diharapkan memastikan pertumbuhan produksi berlangsung terukur, sekaligus mendukung penguatan industri olahan nikel di Indonesia.

Baca juga: Hadiri Peringatan 10 Tahun Hubungan Jiangxi–Indonesia, Bamsoet Dorong Peningkatan Kerja Sama Dari Perdagangan ke Investasi dan Basis Produksi | Pengunduran Diri Menteri Perindustrian Nepal di Tengah Kontroversi Pasokan LPG