Jakarta | Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir berharap Indonesia Youth Summit (IYS) 2026 dapat menjadi wadah pemersatu bangsa. Ia juga berharap forum tersebut menyatukan harapan generasi muda Indonesia dalam menghadapi masa depan. Harapan itu disampaikan Erick dalam konferensi pers di Jakarta pada Kamis.
Dalam pernyataannya, Erick menempatkan dua hal sebagai harapan bagi penyelenggaraan IYS 2026: memperkuat persatuan bangsa dan menghimpun harapan anak muda. Dengan demikian, IYS diharapkan menjadi ruang yang mempertemukan generasi muda melalui tujuan bersama, sekaligus mengarahkan perhatian pada masa depan yang akan mereka hadapi.
Harapan agar IYS menjadi wadah pemersatu menunjukkan bahwa forum ini diharapkan dapat menjangkau generasi muda sebagai bagian dari bangsa yang sama. Sementara itu, penyatuan harapan berarti aspirasi kaum muda diharapkan dapat bertemu dalam satu ruang. Erick menyampaikan kedua harapan tersebut sebagai bagian dari tujuan yang diharapkan dari IYS 2026.
Pesan itu berpusat pada peran IYS sebagai ruang bersama, bukan hanya bagi satu kelompok anak muda. Harapan yang disampaikan juga terkait dengan masa depan: generasi muda diharapkan dapat menghadapi masa depan dengan harapan yang disatukan. Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya kebersamaan sebagai arah yang diharapkan dari pertemuan itu, tanpa menguraikan agenda atau bentuk kegiatan tertentu.
Dengan menyampaikan harapan tersebut di konferensi pers di Jakarta pada Kamis, Erick menjelaskan inti tujuan yang diharapkannya dari Indonesia Youth Summit 2026. IYS diharapkan menjadi wadah pemersatu bangsa sekaligus ruang untuk menyatukan harapan generasi muda dalam menghadapi masa depan. Kedua hal itu menjadi pesan utama yang ia sampaikan mengenai forum tersebut.
Indonesia Youth Summit (IYS) 2026 mempertemukan berbagai pihak yang memiliki peran dalam pembangunan kepemudaan. Forum ini melibatkan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, jajaran menteri, pemerintah daerah, akademisi, serta pakar kepemudaan. Kehadiran unsur pemerintah dan kalangan ahli membuka ruang untuk bertukar pandangan mengenai kondisi generasi muda, sekaligus melihat tantangan yang perlu ditangani secara bersama.
Pertemuan lintas sektor tersebut diarahkan untuk membahas persoalan yang memengaruhi kehidupan dan masa depan pemuda. Tantangan itu tidak hanya berkaitan dengan akses terhadap pekerjaan, tetapi juga mencakup kesejahteraan psikologis dan peluang untuk mengembangkan kemampuan. Dengan mempertemukan pembuat kebijakan dan pihak yang memahami isu kepemudaan, IYS dapat menjadi ruang untuk menelaah masalah secara lebih menyeluruh, serta mempertimbangkan bentuk respons yang sesuai dengan kebutuhan anak muda di berbagai daerah.
Dalam forum tersebut, Erick menyoroti sejumlah angka yang menggambarkan besarnya tantangan yang dihadapi pemuda. Ia menyebut sekitar 65 juta pemuda di dunia menganggur. Selain itu, satu dari tujuh pemuda menghadapi masalah kesehatan mental, sedangkan satu dari lima tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan kepemudaan saling berkaitan: keterbatasan pekerjaan dapat berjalan beriringan dengan tekanan psikologis dan minimnya ruang untuk belajar, berkarya, atau meningkatkan kapasitas.
Perhatian terhadap data itu penting agar pembahasan tidak berhenti pada pengenalan masalah. Pengangguran, kesehatan mental, dan kesempatan mengembangkan diri memerlukan perhatian yang seimbang dalam perencanaan kebijakan. Kondisi yang dihadapi pemuda juga dapat berbeda menurut latar belakang dan wilayah, sehingga masukan pemerintah daerah, akademisi, serta pakar kepemudaan dapat membantu memperkaya pemahaman dalam forum.
Menurut Erick, keadaan tersebut perlu direspons pemerintah melalui program pembangunan kepemudaan. Artinya, pemerintah perlu menempatkan kebutuhan pemuda sebagai bagian dari agenda pembangunan, dengan perhatian pada akses kerja, dukungan kesehatan mental, dan kesempatan bertumbuh. IYS mempertemukan para pemangku kepentingan untuk membicarakan tantangan tersebut dan merumuskan arah respons yang lebih terkoordinasi, agar program yang disusun relevan dengan hambatan yang dihadapi generasi muda.
International Youth Summit (IYS) 2026 juga diposisikan sebagai langkah awal untuk merumuskan arah pembangunan kepemudaan Indonesia menjelang 100 tahun Sumpah Pemuda pada 2028. Momentum tersebut memberi ruang bagi berbagai pihak untuk mulai membicarakan kondisi generasi muda dan arah yang hendak dibangun bersama. Dengan demikian, pertemuan ini tidak hanya menjadi forum untuk bertukar pandangan pada saat ini, tetapi juga bagian dari upaya memikirkan masa depan kepemudaan dalam rentang yang lebih panjang.
Erick menyampaikan bahwa pembahasan dan langkah bersama perlu dimulai sejak sekarang. Menurutnya, waktu menuju peringatan satu abad Sumpah Pemuda menjadi kesempatan untuk memulai percakapan mengenai pembangunan kepemudaan secara lebih dini. Ia menekankan perlunya melihat kondisi kepemudaan Indonesia saat ini sekaligus mempertimbangkan arah yang ingin dituju untuk 100 tahun ke depan. Pesan tersebut menempatkan persiapan bukan semata sebagai agenda menjelang sebuah peringatan, melainkan sebagai proses pemikiran yang perlu dimulai sebelum momentum itu tiba.
Penekanan pada kondisi dan arah kepemudaan menunjukkan pentingnya menyusun pemahaman bersama sebagai dasar pembahasan berikutnya. IYS 2026 dapat menjadi salah satu ruang untuk mengawali proses itu, dengan membuka percakapan mengenai tantangan dan harapan yang berkaitan dengan generasi muda Indonesia. Namun, tujuan yang disampaikan Erick berfokus pada perlunya memulai pembahasan serta langkah bersama, bukan pada rincian program atau sasaran tertentu. Karena itu, arti penting pertemuan ini terletak pada dorongan agar berbagai pihak tidak menunda upaya merumuskan pandangan jangka panjang. Menjelang 2028, gagasan mengenai kepemudaan Indonesia untuk satu abad mendatang diharapkan mulai memperoleh perhatian melalui dialog yang mempertimbangkan keadaan sekarang dan orientasi masa depan. IYS menjadi titik awal untuk membangun percakapan tersebut, sehingga pembahasan mengenai arah pembangunan kepemudaan dapat berkembang secara bertahap dan berangkat dari kesadaran bersama tentang masa depan generasi muda.
Erick menilai transformasi kepemudaan memerlukan arah dan kepemimpinan yang kuat. Dalam pandangannya, Presiden Prabowo Subianto diharapkan dapat memimpin langsung proses tersebut, sehingga agenda kepemudaan memperoleh perhatian lintas sektor dan menjadi bagian penting dari pembangunan nasional. Harapan ini menempatkan kepemimpinan presiden sebagai penggerak yang dapat menyatukan berbagai pihak, bukan sebagai kepastian mengenai langkah yang telah ditetapkan. Dengan keterlibatan langsung di tingkat tertinggi, kebijakan dan program untuk generasi muda diharapkan memiliki arah yang lebih terkoordinasi serta mampu menjawab kebutuhan mereka.
Gagasan itu disampaikan dengan mempertimbangkan perubahan yang terus berlangsung di tingkat global. Erick menyoroti tantangan geopolitik, dinamika global, kondisi ekonomi, serta perkembangan digitalisasi yang memengaruhi kehidupan dan peluang generasi muda. Perubahan tersebut dapat memengaruhi dunia kerja, akses terhadap informasi, kebutuhan keterampilan, dan cara anak muda berpartisipasi dalam masyarakat. Karena itu, pembahasan mengenai kepemudaan dinilai perlu memperhatikan konteks yang lebih luas, sekaligus memberi ruang bagi pandangan generasi muda sendiri. Berbagai tantangan ini menjadi alasan untuk merumuskan respons yang adaptif, tanpa mengabaikan kebutuhan dan keadaan di dalam negeri.
Transformasi kepemudaan juga membutuhkan dialog pemangku kepentingan dan generasi yang menjadi sasaran kebijakan. Pemerintah dapat membawa perspektif kebijakan dan pelaksanaan program, sementara akademisi serta pakar dapat menyumbangkan analisis dan pengetahuan. Keterlibatan generasi muda memberi kesempatan untuk mengangkat pengalaman, aspirasi, dan gagasan mereka secara langsung. Pertukaran pandangan semacam ini diharapkan membantu pembahasan isu kepemudaan menjadi lebih menyeluruh dan menghasilkan rumusan yang relevan bagi pembangunan. Forum dengan peserta beragam juga membuka peluang untuk menyelaraskan pemahaman tentang tantangan, prioritas, dan langkah yang mungkin dikembangkan bersama.
IYS 2026 berlangsung pada 29–30 Oktober di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98.






