Kratom dan Kemenyan Masuk Agenda Hilirisasi Pertanian yang Dibidik pada 2027

Uji Coba Transfer Tunai Bansos Di Indonesia

Jakarta | Pemerintah tengah menyiapkan perluasan agenda hilirisasi ke sektor pertanian dengan memasukkan kratom dan kemenyan sebagai komoditas yang akan dikembangkan. Rencana tersebut disampaikan Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan. Menurut pernyataannya, kedua komoditas itu sedang dipersiapkan dan ditargetkan diluncurkan pada Maret 2027. Langkah ini menandai perhatian terhadap pengembangan komoditas pertanian selain sektor yang selama ini lebih sering menjadi sorotan dalam agenda hilirisasi.

Kratom disebut sebagai salah satu komoditas yang akan diolah dalam rencana tersebut. Tanaman ini banyak terdapat di Kalimantan dan dinilai memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai obat. Penyebutan potensi itu menjadi salah satu alasan kratom masuk dalam pembahasan pengembangan komoditas. Namun, informasi yang disampaikan belum menguraikan bentuk produk yang akan dikembangkan atau bagaimana proses pengolahannya akan dijalankan. Karena itu, arah pemanfaatan kratom pada tahap berikutnya masih perlu menunggu penjelasan lebih lanjut dari pemerintah.

Kemenyan menjadi komoditas lainnya yang disiapkan untuk dikembangkan. Dengan memasukkan kratom dan kemenyan, pemerintah memperluas cakupan hilirisasi agar turut mencakup sumber daya dari sektor pertanian. Rencana ini masih berada dalam tahap persiapan, dengan target peluncuran pada Maret 2027 sebagaimana disampaikan Luhut. Target tersebut memberi gambaran mengenai jadwal yang direncanakan, tetapi belum menjelaskan rincian pelaksanaan maupun bentuk pengembangan untuk masing-masing komoditas.

Pengembangan kedua komoditas tersebut perlu dipahami sesuai informasi yang telah disampaikan: kratom dan kemenyan masuk agenda, kratom banyak terdapat di Kalimantan serta berpotensi dimanfaatkan sebagai obat, dan peluncurannya ditargetkan pada Maret 2027. Belum ada keterangan lebih jauh mengenai produk, mekanisme pengolahan, ataupun pihak usaha yang terlibat, sehingga rincian itu tidak dapat dipastikan dari pernyataan tersebut. Perkembangan berikutnya akan menunjukkan bagaimana rencana hilirisasi pertanian ini diterjemahkan menjadi program konkret. Untuk saat ini, pemerintah menyatakan kedua komoditas sedang dipersiapkan sebagai bagian dari perluasan agenda hilirisasi.Pengembangan kratom dan kemenyan dalam agenda hilirisasi pertanian berangkat dari peluang pasar yang dinilai belum sepenuhnya dimanfaatkan. Selama komoditas dipasarkan terutama sebagai bahan mentah, nilai ekonomi yang tercipta di dalam negeri masih terbatas pada tahap awal rantai produksi. Pemerintah ingin mendorong pengolahan lebih lanjut agar nilai tambah tidak seluruhnya terbentuk setelah bahan tersebut meninggalkan produsen atau wilayah penghasil. Dengan demikian, perhatian terhadap dua komoditas ini bukan hanya terkait ketersediaan sumber daya, melainkan juga cara memperkuat manfaat ekonominya melalui proses lanjutan.

Menurut Luhut, potensi nilai pasar hilirisasi kratom dan kemenyan dapat mencapai beberapa miliar, bahkan puluhan miliar. Namun, keterangan tersebut tidak merinci mata uang, dasar penghitungan, periode, ataupun rincian nilai untuk masing-masing komoditas. Karena itu, angka tersebut lebih tepat dipahami sebagai gambaran peluang pasar yang dipandang besar, bukan proyeksi pasti yang dapat diperlakukan sebagai target pendapatan. Peluang itu menjadi salah satu alasan kedua komoditas masuk dalam pembicaraan mengenai hilirisasi yang dibidik pada 2027. Penilaian tersebut juga menunjukkan pentingnya mengkaji permintaan pasar dan kesiapan pengolahan secara cermat.

Fokus kebijakan yang disampaikan adalah mendorong peralihan dari penjualan bahan mentah menuju produk olahan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Pengolahan lanjutan dapat memperpanjang rantai kegiatan ekonomi di dalam negeri dan membuka ruang agar manfaat komoditas tidak berhenti pada tahap pemanenan serta penjualan awal. Meski demikian, informasi yang tersedia belum menetapkan jenis produk akhir, skala fasilitas, atau besaran dampak ekonomi yang akan dihasilkan. Hal-hal tersebut memerlukan penjelasan dan perencanaan lebih lanjut. Untuk saat ini, inti peluangnya terletak pada upaya mengubah potensi pasar menjadi nilai tambah melalui proses pengolahan, dengan tetap memperhatikan kebutuhan pasar dan pengembangan usaha yang realistis.

Pemerintah merencanakan pembangunan dan peluncuran pusat riset yang berfokus pada pengurutan genom di kawasan Danau Toba, Sumatera Utara. Fasilitas yang direncanakan tersebut diarahkan untuk mendukung pengembangan hilirisasi komoditas pertanian, khususnya kratom dan kemenyan. Melalui penelitian berbasis genom, pemerintah berharap dapat memperkuat pemahaman mengenai karakteristik tanaman serta menyediakan landasan ilmiah bagi pengembangan produk bernilai tambah. Rencana ini menjadi bagian dari agenda hilirisasi yang ditargetkan untuk mendorong pemanfaatan sumber daya lokal secara lebih terarah.

Presiden Prabowo Subianto direncanakan meresmikan pusat riset itu pada Maret 2027. Namun, jadwal tersebut masih bersifat rencana dan pelaksanaannya bergantung pada kesiapan berbagai aspek. Peresmian akan dilakukan apabila persiapan berjalan sesuai rencana, sehingga tanggal yang disebutkan belum dapat dipandang sebagai kepastian bahwa acara akan berlangsung. Pemerintah masih menyiapkan sejumlah kebutuhan sebelum peluncuran, termasuk memastikan berbagai unsur pendukung dapat tersedia dan berfungsi sebagaimana diperlukan. Dengan demikian, rencana waktu peresmian perlu dipahami sebagai target yang tetap dapat menyesuaikan perkembangan persiapan.

Fokus pada pengurutan genom menunjukkan bahwa riset direncanakan menjadi salah satu landasan bagi pengembangan kratom dan kemenyan, bukan sekadar pelengkap agenda hilirisasi. Informasi mengenai rencana pusat penelitian ini juga belum berarti fasilitasnya telah berdiri atau kegiatan riset telah dimulai. Pemerintah masih berada dalam tahap menyiapkan berbagai aspek sebelum peluncuran, sementara rincian kesiapan akan menentukan apakah rencana peresmian pada Maret 2027 dapat dijalankan. Jika seluruh persiapan berjalan sesuai rencana, Presiden Prabowo dijadwalkan meresmikannya di kawasan Danau Toba. Agenda tersebut memperlihatkan upaya menghubungkan penelitian dengan pengembangan komoditas, tetapi pelaksanaannya tetap bergantung pada pemenuhan persyaratan dan kesiapan yang dibutuhkan.

Pengembangan kratom dan kemenyan sebagai bahan baku industri pertanian dipandang perlu ditempuh secara bertahap. Luhut menekankan bahwa pengolahan komoditas tidak berhenti pada penjualan hasil mentah, tetapi membutuhkan rangkaian upaya untuk membangun nilai tambah di dalam negeri. Tahapan itu mencakup pemetaan potensi, penguatan kegiatan pengolahan, serta pengembangan industri yang dapat menyerap bahan baku secara berkelanjutan. Dengan pendekatan tersebut, agenda pertanian dapat menjadi kelanjutan dari perluasan hilirisasi sumber daya alam Indonesia, yang selama ini berfokus pada komoditas tertentu.

Dalam pembicaraan publik, hilirisasi nasional kerap dikaitkan dengan sektor mineral, terutama nikel. Pengembangan pengolahan nikel menjadi salah satu contoh utama tentang upaya mendorong komoditas melampaui ekspor bahan mentah. Luhut membandingkan tahap awal rencana pengembangan kratom dan kemenyan dengan permulaan hilirisasi nikel sekitar sepuluh tahun sebelumnya. Perbandingan ini mengacu pada proses yang panjang: sebuah gagasan perlu diikuti persiapan dan pengembangan kapasitas sebelum industri dapat tumbuh. Karena itu, pembahasan dua komoditas pertanian tersebut dapat dipahami sebagai tahap awal penjajakan, bukan sebagai tanda bahwa rantai industri telah terbentuk atau hasil akhirnya sudah dapat dipastikan.

Kerangka bertahap itu juga menempatkan hilirisasi pertanian dalam konteks kebijakan yang lebih luas. Jika sebelumnya perhatian banyak tertuju pada mineral, agenda baru ini memperluas pembicaraan mengenai peluang pengolahan komoditas berbasis pertanian. Kratom dan kemenyan disebut sebagai sasaran yang dibidik pada 2027, sehingga masih diperlukan proses untuk merumuskan arah dan langkah pengembangannya. Luhut mengaitkan agenda tersebut dengan era pemerintahan Presiden Prabowo. Penyebutan itu menunjukkan konteks waktu dan pemerintahan bagi rencana yang dibahas, tanpa memastikan bagaimana pelaksanaannya akan berlangsung atau capaian apa yang kelak diperoleh. Dengan demikian, pembandingan dengan pengalaman nikel berfungsi sebagai gambaran mengenai pentingnya proses berurutan dalam memperluas hilirisasi, bukan sebagai jaminan bahwa sektor pertanian akan mengikuti hasil yang sama.